Melayani Sesama dengan Sukacita: Pesan Damai dari Pastor Pius Heljanan, MSC
Oleh : joko
Pastor Pius Heljanan, MSC: Iman yang Hidup Dimulai dari Hati yang Mendengarkan
Dalam permenungan Minggu pagi di Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Pastor Pius Heljanan, MSC mengajak umat untuk melayani Tuhan melalui sesama dengan penuh sukacita dan ketulusan hati.
http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki, Minggu pagi, 20 Juli 2025 – Udara sejuk menyambut langkah-langkah umat yang perlahan memenuhi Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, di Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku.
Di tengah semangat ibadah Minggu itu, Pastor Pius Heljanan, MSC, gembala umat di Kuasi Paroki tersebut, membagikan permenungan yang mendalam dan menyentuh hati: “Layanilah Tuhan melalui sesama dengan sukacita.”
Dengan mengangkat kisah Injil Lukas 10:38-42 tentang Marta dan Maria, Pastor Pius menyoroti pentingnya keseimbangan dalam menjalani hidup sebagai anak-anak Tuhan.
Marta sibuk melayani kebutuhan jasmani, sementara Maria duduk di kaki Yesus, mendengarkan sabda-Nya. Keduanya melayani, namun Yesus menegaskan bahwa Maria telah memilih “bagian yang terbaik.”
“Ada orang yang rajin misa, aktif melayani di gereja, senang membantu orang lain, tapi motivasinya lebih kepada ingin dilihat, dipuji, dan dihargai. Itu bukanlah pelayanan yang sejati,” ujar Pastor Pius dengan nada tenang namun penuh makna.
Menurutnya, pelayanan yang sejati lahir dari relasi yang akrab dengan Tuhan, bukan dari keinginan untuk mencari pengakuan. Pastor Pius mengajak umat untuk selalu memeriksa motivasi hati dalam setiap tindakan baik.
“Bekerja itu penting, tapi jangan abaikan doa. Menolong sesama itu mulia, tapi jangan jadikan itu panggung pertunjukan. Melayani sesama dengan sukacita adalah doa terbaik yang bisa kita naikkan kepada Tuhan,” lanjutnya.
Pesan ini menjadi refleksi mendalam bagi umat yang hadir, mengingatkan kembali bahwa menjadi murid Kristus berarti tidak hanya aktif dalam kegiatan lahiriah, tetapi juga dalam kedalaman rohani.
Pastor Pius menegaskan bahwa prioritas utama adalah mendengarkan Tuhan, mendekat pada-Nya, dan dari sana, barulah pelayanan yang tulus akan tumbuh.
Di akhir permenungannya, Pastor Pius menutup dengan ajakan yang sederhana namun penuh kekuatan: “Jadilah Maria di tengah dunia yang menuntut kita terus menjadi Marta. Dengarkan Tuhan, lalu hiduplah dalam pelayanan yang sungguh.”