RD. Domincs Baldawins Masriat: Pelayanan Harus Bersumber dari Persekutuan dengan Tuhan
Oleh : joko
Membangun Keramahan dan Iman: Refleksi Minggu dari RD. Domincs di UST Manila
Dari Central Seminary UST Manila, RD. Domincs Baldawins Masriat asal Kepulauan Tanimbar, Maluku, mengajak umat untuk menumbuhkan sikap ramah, iman yang teguh, serta pelayanan yang bersumber dari relasi mendalam dengan Kristus.
http://suaraanaknegerinews.com | Manila, Filipina — Minggu, 20 Juli 2025 menjadi momen reflektif bagi umat Katolik yang mengikuti Sejenak Sabda, sebuah renungan harian yang dibawakan oleh RD. Domincs Baldawins Masriat, putra daerah asal Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, Indonesia. Saat ini, RD. Domincs melayani sebagai Pastor Mahasiswa di Central Seminary, Universitas Santo Tomas (UST), Manila, Filipina.
Dalam renungan bertemakan bacaan liturgi Minggu Biasa XVI (Kej 18:1-10a, Kol 1:24-28, dan Luk 10:38-42), RD. Domincs menyampaikan tiga pokok penting sebagai pesan ilahi yang relevan bagi kehidupan umat masa kini.
1. Membangun Prinsip Keramahan seperti Abraham
Mengacu pada kisah Abraham dalam Kitab Kejadian, RD. Domincs menekankan pentingnya prinsip keramahan dalam kehidupan sehari-hari. Keramahan, katanya, bukan sekadar basa-basi, tetapi sikap tulus yang membuat orang lain merasa diterima dan dihargai.
“Semoga dengan kehadiran kita, orang lain merasa nyaman, dihargai, dan diterima,” ujar RD. Domincs. “Inilah cerminan iman yang hidup—iman yang bertemu dengan kasih nyata dalam sikap dan perbuatan.”
2. Percaya pada Janji Tuhan Meski Belum Terpenuhi
Masih dari kisah Abraham dan Sara, RD. Domincs mengajak umat untuk tetap percaya pada janji Tuhan, meski harapan belum terlihat nyata. Dalam kehidupan yang penuh tantangan, iman harus terus dipelihara dengan pengharapan yang teguh.
“Semoga iman Abraham dan Sara menjadi iman kita. Tetaplah percaya, berdoa, dan berbuat kasih. Apa yang belum terpenuhi hari ini, akan digenapi pada waktunya,” pesannya.
3. Jangan Biarkan Pelayanan Mengorbankan Relasi dengan Tuhan
Mengakhiri renungannya, RD. Domincs menyoroti kisah Marta dan Maria dalam Injil Lukas. Ia mengajak umat untuk tidak sekadar aktif dalam pelayanan, tetapi juga menjaga kedekatan pribadi dengan Yesus, sang sumber kekuatan.
“Pelayanan yang sejati lahir dari persekutuan dengan Tuhan. Tanpa itu, kita mudah frustrasi, kehilangan sukacita, dan mulai menyalahkan,” tutur RD. Domincs. “Kita harus seperti Maria—menjadikan Yesus sebagai prioritas utama, sumber dari setiap karya dan pengabdian kita.”
Ia mengingatkan, bahwa pelayanan, betapapun mulia, tidak boleh memisahkan kita dari Sabda dan Sakramen. Doa, mendengarkan firman, dan mengikuti Ekaristi adalah fondasi utama dalam hidup menggereja.
Doa Penutup
Mengakhiri permenungannya, RD. Domincs mengajak umat untuk memohon kekuatan dari Tuhan:
“Ya Allah, berkatilah kami agar kami mampu menjadikan Yesus Putera-Mu sebagai sumber kekuatan dalam pekerjaan dan pelayanan kami.”
Dengan penuh kasih dan semangat pastoral, RD. Domincs Baldawins Masriat terus menjadi terang bagi sesama, tak hanya di tanah airnya, Kepulauan Tanimbar, tapi juga di perantauan Filipina.