Bina Mental Spritual di Era Digital : MAN Kota Sawahlunto Gelar Kultum pagi
SAWAHLUNTO, 13 Agustus 2025 Di halaman MAN Kota Sawahlunto, Pagi itu, Rabu 13/8 , berubah menjadi pagi yang penuh makna. Dalam sejuknya embun dan damainya suasana, gema kalam hikmah kembali mengalun dalam kegiatan rutin kuliah tujuh menit (kultum), mengangkat tema yang amat relevan: Adab Bersosial Media.
Dipandu oleh suara tenang dan bijak dari seorang Elfahmi Nuraini siswa kelas XII Fase F2 dengan wali kelas Nada Deswita yang bertindak sebagai penceramah, suasana menjadi syahdu. Dengan tutur lembut yang menyiratkan kedalaman makna, ia membuka kultum dengan sebuah hadis: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” Satu petuah sederhana, namun menggugah nurani.
Dalam narasinya, sang penceramah menyingkap satu demi satu tabir tentang bagaimana media sosial, yang sejatinya adalah alat, bisa menjadi ladang pahala atau justru ladang dosa tergantung pada niat dan adab penggunanya. Ia menceritakan bagaimana ujaran kebencian, fitnah yang viral, dan konten yang jauh dari nilai moral telah menjadi santapan sehari-hari dunia maya.
“Sahabat-sahabatku,” ucapnya lirih namun penuh daya, “di tangan kita ada pilihan. Kita bisa menjadi cahaya yang menenangkan di tengah gelombang informasi. Kita bisa menebar kata-kata yang menyembuhkan, bukan menyakiti.”
Kegiatan kultum Setiap pagi Rabu di MAN Kota Sawahlunto memang bukan sekadar rutinitas. Ini adalah bentuk yang paling alami menumbuhkan akhlak di sela-sela kesibukan akademik. Tema kali ini, tentang adab bersosial media, menjadi pengingat kuat bahwa di era digital, etika adalah benteng terakhir dari kemanusiaan.
Kepala MAN Kota Sawahlunto Dafril Tuanku Bandaro, dalam kesempatan terpisah, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini. “Kami ingin membentuk siswa yang tidak hanya cerdas dalam sains, tapi juga lembut dalam moral. Media sosial adalah medan dakwah baru. Siapa yang tak siap, bisa hanyut. Tapi siapa yang bijak, bisa menjadi pelita.”
Dan pagi itu, pelita-pelita kecil itu menyala. Tidak membakar, tapi menghangatkan. Tidak menyilaukan, tapi menerangi jalan berpikir dan berperilaku. Di bawah langit biru Sawahlunto, di tengah aroma pagi yang masih basah, nilai-nilai luhur kembali dihidupkan melalui kata, melalui adab, melalui iman yang tak pernah lekang oleh zaman.
Kontributor : Nofri Hendra
Editor : DTB