Menganalisis MAYRES MAN Kota Sawahlunto: Di Titik Perjumpaan Ilmu, Iman, dan Masa Depan
Oleh: Dafril, Tuanku Bandaro
Kepala MAN Kota Sawahlunto & Mahasiswa Program Doktoral Studi Islam S3 UM Sumbar
Ada denyut yang tidak terdengar namun nyata terasa, ketika sekelompok pelajar menulis masa depan dengan tinta ilmu dan nurani. Di antara lengang kabut pagi kota tambang yang sunyi, berdirilah sebuah madrasah yang menyalakan nyala kecil di ceruk peradaban: MAN Kota Sawahlunto.
Melalui program MAYRES (Madrasah Young Researchers Supercamp), kami mengajak generasi muda bukan hanya untuk memahami dunia, tetapi menantangnya. Bukan untuk sekadar pintar, tetapi menjadi bijak. Dan tahun ini, lima proposal riset muncul bukan sebagai gugusan ide mentah, melainkan sebagai narasi ilmiah yang menggugat zaman dengan pertanyaan-pertanyaan besar.
1. Kulit Ubi: Dari Sampah Menjadi Manis yang Menyelamatkan
Judul: Pemanfaatan Limbah Kulit Ubi Sebagai Sumber Gula Cair untuk Bahan Pemanis Alami
Peneliti: Iffa Ghaniyya, Aqila Nadhira Shaheen, Tiara Ramadhan
Pembimbing: Agil Aditya Dinata
Ada kepekaan yang tidak semua mata bisa melihatnya: bahwa sampah, bisa jadi solusi. Limbah kulit ubi, yang kerap dibuang begitu saja, menjadi pusat perhatian tiga remaja peneliti muda. Dalam proposal ini, mereka tak hanya bicara sains, tetapi juga ekonomi rumah tangga, kesehatan, dan lingkungan.
Di tengah dunia yang dikuasai pemanis buatan, mereka menawarkan pemanis alami, organik, dan lokal. Ini bukan sekadar eksperimen laboratorium, tapi bentuk perlawanan terhadap ketergantungan impor, terhadap penyakit yang disebabkan gaya hidup, terhadap limbah yang menumpuk di dapur masyarakat desa.
Inilah wajah riset yang berpihak: berpihak kepada bumi, kepada tubuh manusia, dan kepada kemandirian pangan lokal.
2. Bahasa Tangsi: Saat Teknologi Menjadi Penjaga Warisan
Judul: Transformasi Digital Bahasa Tangsi Sawahlunto melalui Teknologi OCR dan NLP untuk Pelestarian Budaya
Peneliti: Ainil Mardiah, Azkya Ametsi Jihadil Fitri
Pembimbing: Fuara Dila Sasmi, S.Pd & Oky Loly Wenny, M.Pd.I
Sawahlunto menyimpan bahasa yang nyaris punah: Bahasa Tangsi. Sebuah bentuk tutur dari masa kolonial, hidup di antara kasur tambang dan dapur para buruh, kini terancam diam untuk selamanya.
Namun dua peneliti muda ini punya gagasan brilian: menyelamatkan bahasa ini melalui teknologi mutakhir OCR (Optical Character Recognition) dan NLP (Natural Language Processing). Mereka membawa semangat filolog masa lalu ke abad 21, menyandingkan cinta budaya dengan kecanggihan kecerdasan buatan.
Relevansinya menggigit: saat dunia membicarakan AI untuk otomasi industri, mereka menggunakannya untuk membela identitas. Ini bukan hanya tentang kosa kata, tetapi tentang sejarah, martabat, dan akar kita sebagai bangsa yang majemuk.
3. Umbi Anggrek: Jejak Biokimia dalam Pencarian Keabadian
Judul: Identifikasi Senyawa Biokimia dalam Umbi “Spathoglottis plicata” sebagai Anti-aging pada Wanita Usia 40 Tahun ke Atas
Peneliti: Raisya Qurrata Aini, Athiyya Nufaisah Rosandi
Pembimbing: Imelgawati Zusri P. S
Estetika dan ilmiah berkelindan dalam riset ini. Spathoglottis plicata anggrek liar yang tumbuh di rimba—menjadi objek cinta ilmiah dua siswi yang menantang dogma anti-aging kimiawi. Mereka menelusuri senyawa biokimia yang dapat memperlambat penuaan, bukan dengan menjual mimpi, tetapi melalui analisis fitokimia yang serius.
Riset ini menggugah pertanyaan eksistensial: bagaimana sains bisa memperpanjang kualitas hidup tanpa merusak ekosistem? Dan lebih dalam lagi, bagaimana Islam memandang usia, waktu, dan tubuh?
Ada ketajaman filsafat dalam riset ini, terselubung dalam lembar-lembar data laboratorium.
4. Dompet Z MANSA: Gen Z, Emosi, dan Godaan Marketplace
Judul: Dompet Z MANSA (Dampak Online Marketplace terhadap Emosi dan Tabungan Gen Z: Studi Kasus di MAN Sawahlunto)
Peneliti: Athiyya Nufaisah Rosandi, Alif Fathurahman Syam, Aniza Putri Pratama
Pembimbing: Nurmala Dewi, S.Pd
Apakah marketplace membebaskan atau menjerat? Di era “checkout” lebih mudah dari berdoa, tim riset ini memetakan dampak psikologis dan finansial dari e-commerce terhadap pelajar.
Dengan pendekatan psikometri dan studi kasus, mereka menyentuh ranah yang sering dilupakan: bahwa Gen Z bukan hanya pengguna, tapi korban dan pelaku sekaligus dari revolusi konsumsi digital.
Ini bukan riset biasa. Ini adalah cermin bagi generasi yang hidup dalam klik, scroll, dan impuls.
5. PEGAL dan Sungai yang Lelah
Judul: Dampak PEGAL terhadap Krisis Ekologi Sungai di Desa Salak, Sawahlunto
Peneliti: Syakirah Serenami, Novia Dwi Permata
Pembimbing: Astri Winanda, M.Pd
Bidang: Integrasi Keislaman dan Keilmuan (Ekoteologi)
PEGAL adalah akronim yang menyakitkan: Penebangan, Eksploitasi, Galian, dan Limbah. Dan sungai di Desa Salak, tempat kehidupan bergantung, kini menjadi saksi bisu kehancuran ekologis.
Riset ini tak hanya menggambarkan kerusakan, tapi juga menawarkan kerangka etis berbasis Islam ekoteologi untuk menyembuhkan. Mereka menggabungkan sains lingkungan dengan spiritualitas, menghadirkan Islam bukan sekadar sebagai hukum, tetapi sebagai hikmah.
Di tengah krisis iklim global, proposal ini menyuarakan pesan kuat: bumi bukan milik kita semata, melainkan amanah dari Sang Pencipta.
Kesimpulan: Menulis Masa Depan dari Ruang Kelas
Lima riset ini bukan sekadar pencapaian akademik. Ia adalah manifestasi dari keberanian berpikir, dari keinginan untuk mengubah, dari cinta terhadap ilmu dan iman yang berpadu.
Mereka adalah narasi anak-anak madrasah yang tak ingin menjadi penonton zaman. Mereka tidak menunggu inspirasi dari luar, karena semesta telah mereka temukan di halaman rumah, di dapur, di sungai, di layar gawai, dan dalam keheningan bahasa yang nyaris padam.
MAYRES bukan hanya kompetisi. Ia adalah percakapan suci antara pengetahuan dan keyakinan, antara laboratorium dan sajadah, antara sains dan langit.
Dan dari Sawahlunto, dari tanah yang dahulu gelap oleh bara, kini lahir cahaya baru: ilmu yang bertaqwa, iman yang berpikir.
“Madrasah bukan sekadar tempat belajar, tetapi rahim dari peradaban.”
Mereka adalah peletak batu pertama masa depan yang lebih bermakna.