April 30, 2026

 

Oleh: H. Dafril, Tuanku Bandaro
Guru MTsN 1 Kota Padang, dan Mahasiswa Program Doktoral Study Islam S.3 UM Sumbar

Tak ada darah yang lebih harum dari yang tumpah karena cinta.
Bukan cinta dunia, bukan cinta pada benda. Tapi cinta pada Tuhan, pada kebenaran, pada penghambaan sejati yang tak meminta imbalan selain ridha-Nya.

Di sepertiga awal bulan Dzulhijjah, langit agama membuka tabir rahasia terdalam dari sebuah ibadah yang lebih tua dari sejarah manusia modern ibadah qurban. Ia bukan sekadar menyembelih kambing atau sapi. Ia bukan tentang membagi daging dan menyisipkan nama di daftar panitia masjid. Ia adalah laku purba yang menggugat dunia dan menelanjangi ego manusia.

Qurban adalah kisah tentang menggiris ego, menyembelih dunia.

Ibrahim dan Pedang yang Tak Berdarah

Mari sejenak membuka lembaran tua itu, ketika seorang ayah yang telah menanti anaknya bertahun-tahun dengan doa yang tak putus diminta untuk menyerahkan buah hatinya sendiri kepada Tuhan.

Apakah ini logika? Tidak.
Apakah ini cinta? Bukan cinta biasa.
Ini adalah iman dalam bentuk paling telanjang.

Nabi Ibrahim, alaihis salam, bukan hanya diuji pada garis logika dan naluri. Ia diuji pada tingkat tertinggi: pengorbanan terhadap apa yang paling ia cintai.

Namun lihatlah! Saat pisau nyaris menyentuh leher Ismail, Allah mengganti anak itu dengan seekor domba dari surga. Karena bukan darah yang dikehendaki Tuhan, tapi kepasrahan. Bukan nyawa, tapi ketundukan. Bukan tangisan, tapi keikhlasan.

Qurban sebagai Cermin Diri
Apa yang kita sembelih hari ini?
Apa yang kita tebas dengan pisau tajam di tangan kanan, ketika tangan kiri masih menggenggam dunia?

Qurban sejatinya bukan tentang hewan, tapi tentang melatih jiwa agar siap mengorbankan apa yang ia paling sayangi demi Allah. Ia adalah latihan batin untuk menyembelih ego yang sering merasa paling benar, paling mulia, paling suci. Ia adalah ritual untuk menumpahkan darah dunia dari dalam dada kita yakni nafsu, cinta pada harta, kedudukan, dan pujian manusia.

Setiap helai bulu hewan qurban itu, sabda Nabi, akan diganjar pahala. Tapi bukan karena jumlah bulunya. Melainkan karena di balik itu ada pengorbanan yang murni, ada jiwa yang tak lagi terikat dunia.

Mengapa Dunia Harus Disembelih?
Karena dunia tak pernah berhenti menggoda.
Ia menyamar sebagai kebutuhan, masuk sebagai ambisi, menjelma dalam bentuk gaji, jabatan, pengaruh, bahkan dalam niat ibadah yang menginginkan pujian.

Qurban adalah pengingat bahwa dunia itu fana. Bahwa tak ada yang lebih penting dari ridha Allah. Bahwa kita hidup bukan untuk menimbun, tapi untuk memberi. Bukan untuk memiliki, tapi untuk mengabdi.

Penutup: Qurbanmu adalah Dirimu

Di tengah derasnya dunia modern yang memuja kepemilikan, qurban datang sebagai tamparan lembut. Ia mengingatkan bahwa yang sejati bukan yang kita simpan, tapi yang kita lepaskan karena Allah. Ia menegur kita yang kikir, yang gemetar ketika harus memberi, yang terlalu pandai menghitung daging, tapi lupa pada makna.

Maka berqurbanlah.
Bukan hanya dengan hewan, tapi dengan hatimu. Tebas ego, sembelih dunia.
Agar kau tahu, siapa tuan dalam dirimu: Allah, atau dirimu sendiri.

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”
(Q.S. As-Saffat: 107)