MENGUAK PANDANGAN IMMANUEL KANT DALAM PUISI “NASIHAT” KARYA ANTO NARASOMA
Oleh Paulus Laratmase)*
–
Tulisan ini merupakan bagian ketiga dari lima tulisan yang ditulis sendiri oleh Pimpinan Umum Media “sauaraanaknegerinews.com” sebagai penghargaan terhadap empat tokoh yang dipilih oleh founders “LSM Santa Lusia” pada acara, “Poetry Book Launching And Discussion (Poetry BLaD) L-Beaumanity and Delula Jaya, International Online Seminar On Poetry (IOSoP), Padang-Sumbar, May 31st 2025”.
Adalah Yusuf Achmad, Leni Marlina, Anto Narasoma dan Rizal Tanjung adalah empat tokoh selain Para Dosen dan Mahasiswa UNP Sumatera Barat yang menjadi bagian integral dilaksanakan sebuah iven akademik bernuansa “Sastra”. Bahwa sebagai penghargaan kami terhadap karya-karya sastra dari empat sastrawan dan partisipasi Pimpinan, Para dosen dan mahasiswa UNP, sebagai pemimpin media suaraanaknegerinews.com menulis karya-karya ini sebagai rasa terima kasih kami.
Identitas Karya
Judul Puisi: NASIHAT
Penulis: Anto Narasoma
Tahun Penulisan: 2025
Tempat Penulisan: Palembang
Tanggal Penulisan: 17 Juni 2025
——–
A. “Nasehat” Karya Anto Narasoma

lepaskan kepalamu
tataplah setiap kata lewat hati seputih kertas
sebab kepalamu akan sunyi ketika pikiran tak berjalan dari ruang ke ruang masalah
hidup adalah kalimat perjalanan. tiap lorong ada jejak-jejak kaki yang berbaur dengan hitam putih perilaku kita
maka bacalah catatan
perilaku yang berbaur kedengkian, kebencian, dan kebusukan hati setelah ribuan kepala mengitari pikiran kita
sebab,
nasihat paling kentara dalam catatan kepalamu
adalah dirimu sendiri
maka,
jajarkan pikiran
dari kepalamu
lewat ribuan kepala orang-orang yang basah sebagai cermin kaca
meski harga diri ada di kepalamu, kebersihan hati akan menentukan dirimu sebagai manusia di jagat hari ini, kemarin, dan hari esok
karena buku paling tajam dalam pikiran adalah dirimu sendiri!
Palembang
17 Juni 2025
B. Sinopsis Isi Puisi

“NASIHAT” adalah karya Anto Narasoma yang menyimpan gema filosofis dalam balutan larik-larik puitis yang sederhana namun menggugah. Puisi ini adalah ajakan reflektif yang mengajak manusia kembali ke dalam ruang batinnya, melihat dan membaca dirinya sendiri, mengenali pikirannya, dan menyucikan hatinya.
Dari awal bait hingga akhir, simbol “kepala”, “pikiran”, dan “hati” menjadi pilar utama bangunan maknanya. Puisi ini menjadi cermin tempat pembaca merenung: apakah kita sungguh hidup, berpikir, dan menjadi manusia sejati di tengah dunia yang gaduh?
C. Gaya Bahasa dan Teknik Penulisan
Anto Narasoma menempuh jalan puitik yang khas kesederhanaan dalam bentuk, namun kedalaman dalam makna. Ia memilih ungkapan-ungkapan padat yang mengendap dalam benak pembaca. Salah satu kekuatan utamanya terletak pada metafora filsafati: seperti dalam frasa “ribuan kepala sebagai cermin kaca”, ia mengajak kita memandang manusia sebagai reflektor nilai, kesadaran, dan bahkan kebusukan sosial. Kepala di sini menjadi lambang dari ruang kontemplatif, tempat segala kemungkinan tafsir dan bias diri berkelindan. Narasoma, dengan caranya yang tenang, menyodorkan realitas reflektif itu tanpa menuding, tetapi justru mengundang pembaca untuk bercermin pada dirinya sendiri.
Puisi ini juga hidup melalui imperatif puitis, suatu bentuk ajakan langsung yang jarang muncul secara eksplisit dalam puisi kontemplatif. Larik-larik seperti “bacalah catatan”, “lepaskan kepalamu”, atau “jajarkan pikiranmu” membentuk ritme batin pembaca menuju tindakan. Dalam konteks ini, puisi berfungsi sebagai ajakan moral yang aktif dan menggugah kesadaran. Gaya ini mengingatkan kita pada tradisi lisan seorang guru tua yang berbicara untuk mendidik dan mengubah. Anto berhasil meramu puisi sebagai ruang dialog batin antara suara sunyi penyair dan kegelisahan eksistensial pembacanya.
D. Tema dan Makna
- Refleksi Diri dan Kesadaran Eksistensial
Kita hidup dalam dunia yang sering kali terlalu cepat, terlalu bising, dan terlalu penuh untuk memberi ruang berpikir. Dalam dunia semacam itu, puisi “NASIHAT” mengajak kita menghentikan sejenak langkah berpaling ke dalam.
Pikiran yang “tidak berjalan” menciptakan sunyi. Kita diminta untuk menghadirkan kesadaran yang aktif: berpikir sebagai proses untuk hidup, bukan aktivitas intelektual belaka.
- Kebersihan Hati Sebagai Ukuran Kemanusiaan
Dengan menolak status sosial sebagai penentu nilai, Anto Narasoma mengembalikan hakikat manusia ke dalam dirinya. Kebersihan hati adalah fondasi, bukan gelar atau nama besar. Nilai manusia diukur dari seberapa jernih ia memahami dan memperlakukan orang lain dengan hati yang utuh.
- Kritik Sosial dan Moral
Puisi ini juga merupakan sebuah kritik sosial yang halus namun tajam. Di tengah budaya kebencian dan polarisasi, penyair menyuguhkan alternatif: perenungan personal. Ia menolak debat yang menyulut api, ia memilih mendekap diam dan menyusuri lorong batin.
E. Membaca Puisi “NASIHAT” Melalui Kacamata Filsafat Immanuel Kant
Untuk memahami hubungan antara puisi ini dan filsafat Kant, kita harus mengingat konsep utama Kant dalam Critique of Pure Reason (1781). Kant mencoba merekonsiliasi dua kubu besar filsafat pada zamannya: rasionalisme dan empirisme. Ia tidak menyangkal realitas objektif, tetapi menekankan bahwa pengalaman dan pengetahuan manusia selalu terikat pada struktur kesadaran.
- Fenomena dan Noumena dalam Lirik-Lirik Puisi
Bagi Kant, realitas yang dapat kita pahami adalah fenomena, gejala yang muncul dalam kesadaran. Objek sejati atau noumena (benda pada dirinya, Ding an sich) tidak pernah bisa ditangkap sepenuhnya oleh subjek.
Dalam puisi “NASIHAT”, pembacaan terhadap “pikiran”, “kepala”, dan “hati” sebagai sumber makna tak lain adalah perwujudan dari kesadaran yang membentuk dunia. Dunia tidak disajikan kepada manusia sebagai sesuatu yang “netral”, tetapi ditangkap dan dimaknai melalui struktur a-priori dalam kesadaran.
Misalnya, ketika penyair berkata “buku paling tajam adalah dirimu sendiri”, itu sejalan dengan pandangan Kant bahwa sumber pengetahuan bukan dari luar, melainkan dari dalam: dari struktur berpikir yang sudah ada sebelum pengalaman.
- Revolusi Kopernikan dalam Sastra
Sebagaimana Kant menyebut teori pengetahuannya sebagai revolusi Kopernikan, yakni bahwa objek pengetahuan harus menyesuaikan diri pada subjek, bukan sebaliknya, maka puisi ini pun menyuarakan hal yang senada: bahwa manusia harus membaca dan memahami realitas bukan hanya dari luar (melalui status, opini umum, kebisingan sosial), tetapi melalui penyaringan batin yang bersih.
Ketika Anto menulis: “tataplah setiap kata dengan pikiran yang kau jajarkan”, ini serupa dengan ajakan Kant agar pengetahuan tidak hanya bersandar pada data empiris, tetapi disaring melalui kemampuan rasional yang telah terstruktur.
- Moralitas dan Kehendak Bebas
Kant dalam filsafat moralnya menekankan pentingnya imperatif kategoris, perintah moral yang bersifat mutlak dan berasal dari akal praktis manusia. Manusia, menurut Kant, adalah makhluk moral karena memiliki kehendak bebas yang dapat memilih antara baik dan buruk.
Puisi “NASIHAT” juga menyentuh ini. Dalam ajakan untuk “membersihkan hati” dan “membaca ulang catatan hidup”, kita menangkap suara imperatif moral yang datang bukan dari luar, tetapi dari dalam diri sendiri, sebuah kehendak moral murni.
F. Konteks Sosial dan Relevansi Kekinian
Tahun 2025 adalah lanskap sosial yang dipenuhi guncangan moral, krisis identitas, dan kelelahan berpikir. Polarisasi, politik identitas, dan informasi yang kabur telah menciptakan manusia-manusia yang bergerak cepat, tapi kehilangan arah.
Anto Narasoma, dalam puisinya, mengangkat misi Kantian dalam versi kontemporer: mengajak manusia menggunakan akalnya secara aktif, bukan hanya untuk memahami dunia, tetapi untuk menyusun arah moral hidupnya.
G. Menjahit Benang Kant dan Anto dalam Kerangka Pemikiran Modern
Kita hidup di zaman yang menuntut kecepatan. Teknologi berkembang lebih cepat daripada kemampuan berpikir manusia untuk menyesuaikan nilai-nilainya. Di sinilah peran puisi seperti “NASIHAT” menjadi krusial.
Dengan menggali hakikat pikiran dan hati, Anto Narasoma seolah sedang menghidupkan kembali semangat Kant: bahwa dunia tidak bisa dibaca secara objektif semata, melainkan harus diolah lewat struktur batin yang sadar, jernih, dan bermoral.
Dunia hari ini membutuhkan lebih banyak “kepala” yang berpikir dan “hati” yang bersih. Namun yang lebih penting: kita membutuhkan kesadaran bahwa yang tampak bukanlah segalanya. Bahwa realitas bukan hanya apa yang terlihat, melainkan apa yang disadari dan direnungkan.
Sebagaimana Kant berujar bahwa “segala sesuatu yang diindera dalam ruang dan waktu hanyalah fenomena yang tidak memiliki eksistensi mandiri di luar pikiran manusia”, maka Anto pun dalam puisinya menyuarakan bahwa kebersihan hati, bukan kebesaran kepala, yang menentukan eksistensi sejati kita.
Dalam dunia yang dipenuhi oleh “cermin kaca”, puisi ini mengingatkan kita untuk tidak puas dengan refleksi dangkal. Kita harus menyelami, membaca, dan membersihkan cermin itu, sebab pada akhirnya, yang kita lihat bukan dunia di luar, melainkan dunia dalam diri kita sendiri.
H. Refleksi Kontemporer: Membangun Kesadaran Humanistik Era Digital
Melalui lensa Kant dan narasi puitik Anto Narasoma, kita belajar bahwa tantangan manusia hari ini bukan hanya pada teknologi atau politik, melainkan pada kesadaran eksistensial.
Di era AI, big data, dan disinformasi, kita butuh lebih banyak ruang sunyi untuk membaca diri. Kita butuh lebih banyak puisi untuk dinikmati, diresapi, dihayati dan bukan dibaca begitu saja tanpa makna dan pada akhirnya ditinggalkan begitu saja. Kita butuh Kant bukan hanya di ruang kuliah filsafat, tapi di tengah hiruk-pikuk media sosial termasuk membaca dan menghayati karya Anto Narasoma dalam puisinya, “NASIHAT,” dan yang lebih penting: kita butuh hati yang bersih untuk menjembatani pikiran dengan dunia.
Anto Narasoma, dalam “NASIHAT”-nya, bukan hanya sedang menulis puisi. Ia sedang menanam benih revolusi batin: di mana kepala, pikiran, dan hati bertemu dalam harmoni eksistensial.
Referensi:
- Achad Fedyani Saifuddin., (2005). Antropologi Kontemporer. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.
- George Ritzer-Douglas J. Goodman., (2004). Teori Sosiologi Modern. Prenada Media, Jakarta.
- I Wibowo dan B Herry Priyono., (2006). Sesudah Filsafat. Kanisius, Yogyakarta.
- James Rachels., (2020). Filsafat Moral. Kanisius, Yogyakarta.
- Robert C. Solomon dan Kathleen M. Hggins., (2010) Sejarah Filsafat. Bentang Budaya, Yogyakarta.
Biak 17 Juni 2025
*(Paulus Laratmase adalah Direktur Eksekutif LSM Santa Lusia dan Pimpinan Umum Suaraanaknegerinews.com.