“Menjadi Langit yang Memayungi”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)
Ilustrasi Puisi "Menjadi Langit yang Memayungi": Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA). Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks No. 925-280 (Assisted by AI).
/1/
Menjadi Langit yang Memayungi
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Langit dihujani sumpah serapah,
dihantam doa-doa manusia yang kecewa,
dihina oleh orang yang gagal memahami hikmah.
Tapi tidakkah ia tetap biru?
Tidakkah ia tetap memayungi setiap kepala
tanpa membedakan mana yang patuh dan mana yang durhaka?
Wahai hatiku, jadilah langit.
Jangan pecah oleh kebencian,
jangan retak karena kemarahan orang lain,
jangan runtuh oleh fitnah dan hasad.
Tetaplah tinggi, tetaplah luas,
sebab kesabaranmu adalah cerminan imanmu.
Dan bukankah Rasulullah pun diludahi,
dilempari, dicaci,
tapi beliau tetap langit yang menaungi mereka yang melukainya?
Padang, Sumatera Barat 2016
/2/
Menjadi Batu yang Tak Meledak
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Aku pernah ingin menjadi kilat,
menghantam keangkuhan dengan api,
merobek langit dengan amarah yang tak terbendung.
Tapi, ya Allah, Engkau menciptakan batu,
dan batu tak pernah meledak hanya karena diinjak.
Batu tak membalas ludah angin,
tak menjerit ketika diinjak langkah sombong,
tak mengaduh saat panas membakarnya.
Ia hanya diam, memeluk sabar
seperti Ka’bah yang tak terusik oleh caci maki zaman.
Maka jadikanlah aku batu yang tak meledak,
yang menahan bara di dadanya,
sebab kemarahan hanya ilusi api,
dan aku tak ingin menjadi bahan bakarnya.
Padang, Sumatera Barat 2016
/3/
Lautan yang Tak Pernah Menjadi Lumpur
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Kemarahan datang kepadaku seperti banjir,
menyeret serpihan luka,
menghanyutkan dendam dalam gelombang hitam.
Tapi lautan tetap lautan,
tak pernah menjadi lumpur,
meski menampung bangkai keangkuhan manusia.
Ya Allah, ajarkanlah aku keluasan lautan,
agar aku menampung derita tanpa menjadi kotor,
agar aku menyerap kejahatan tanpa menjelma kebencian,
agar aku tetap asin dengan hikmah,
dan tak tawar oleh kemarahan dunia.
Sebab lautan menelan kemarahan,
bukan untuk menghancurkan,
tapi untuk mengembalikannya menjadi hujan,
yang turun sebagai berkah di bumi yang lapar.
Padang, Sumatera Barat 2016
/4/
Gunung yang Tak Mengeluh
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Gunung tak mengeluh ketika tertimpa longsor,
tak bersuara saat perutnya dilukai,
tak marah saat tubuhnya dicabik pencari tambang.
Ia diam, menunggu takdir-Nya,
sebab ia tahu, kehancuran bukanlah kematian,
tapi hanya jalan menuju bentuk yang baru.
Wahai jiwaku, jadilah gunung.
Tetaplah tegak meski dicabik,
tetaplah diam meski diterjang badai.
Sebab yang menjerit adalah ranting kecil,
tapi yang besar tak perlu berteriak untuk menunjukkan kekuatannya.
Dan bukankah Musa mencari Tuhan di puncak gunung?
Bukan di reruntuhan amarah yang lemah?
Padang, Sumatera Barat 2016
/5/
Cahaya Tak Pernah Marah Pada Malam
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Cahaya tak pernah marah pada malam,
tak pernah berteriak pada gelap yang menelannya.
Ia hanya hadir, sekecil apa pun,
dan dengan kehadirannya, kegelapan pun runtuh.
Wahai jiwaku, jadilah cahaya.
Jangan sibuk memerangi kebencian dengan kebencian,
jangan menyalahkan kegelapan,
cukup nyalakan dirimu.
Sebab mereka yang menyulut kemarahan
hanya menguatkan bayangan yang menakutkan.
Tapi mereka yang tetap bercahaya,
adalah mereka yang akan bertahan di hadapan waktu.
Dan tidakkah Rasulullah disebut ‘siraj munira’,
pelita yang menerangi,
bukan api yang membakar?
Padang, Sumatera Barat 2016
/6/
Api yang Menunduk di Sajadah
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Kami berlindung pada-Mu, ya Rabb,
sebelum amarah menggelegak di nadi kami,
sebelum lidah menjadi pedang tak bersarung,
sebelum tangan menjadi petir yang memecah langit keheningan.
Seperti Engkau tundukkan api bagi Ibrahim,
dinginkanlah gejolak ini dalam peluk kasih-Mu,
jadikanlah bara di dada kami sekadar lilin yang berzikir,
menyala tanpa membakar, menerangi tanpa menghanguskan.
Wahai Allah, engkau telah perlihatkan kepada manusia:
ada samudra dalam sabar Nuh,
ada belati di leher Ismail yang tetap tersenyum,
ada Yusuf yang ditelan sumur, tapi tak kehilangan cahaya.
Maka kami memohon, tanamkanlah di dada kami sabar mereka,
sabar yang tak hanya bertahan,
tapi dengan kekuatan untuk memaafkan.
Kami pasrahkan api amarah ini di antara huruf-huruf firman-Mu,
kami baringkan ia di sajadah waktu,
agar ia melebur dalam tasbih fajar,
larut dalam rukuk semesta.
Jika hidup masih lebih baik bagi kami,
jadikanlah kami tanah yang menelan bara,
tapi jika batas usia kami mencapai takdir kematian dari-Mu,
jadikanlah kami air yang kembali pada langit-Mu.
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu,
hiasilah kami dengan iman,
serupa pohon di surga yang tak meranggas,
serupa bintang yang tak terbenam dalam kelam,
serupa air zamzam yang tak pernah surut,
menyegarkan jiwa-jiwa yang haus akan Tuhannya.
Padang, Sumatera Barat
2016
————–‐———————–
Kumpulan puisi di atas, yang terdiri dari puisi No. 1–6 (beserta sejumlah puisi sejenis yang belum terbit), awalnya ditulis secara bilingual (Inggris-Indonesia) oleh Leni Marlina pada tahun 2016, murni sebagai hobi pribadi dan koleksi pribadi. Setiap tahun, puisi-puisi ini ditinjau kembali, direvisi, dan untuk pertama kalinya secara bertahap diterbitkan melalui platform digital pada tahun 2025.
Leni Marlian aktif terlibat dalam dunia kepenulisan dan sastra, khususnya sebagai anggota Komuitas Penulis Indonesia (SATU PENA, cabang Sumatera Barat) sejak didirikan pada tahun 2022, serta sebagai bagian dari Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Ia juga merupakan anggota Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional (ACC) di Shanghai, dan pada tahun 2024, ia dianugerahi peran sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Perjalanannya di dunia sastra mencakup keterlibatan sebelumnya dengan Victorian Writers Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia dengan penuh dedikasi mengajar sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Di luar bidang akademik dan sastra, Leni juga mendirikan dan memimpin sejumlah komunitas digital yang berfokus pada bahasa sastra, literasi pendidikan, dan pemberdayaan sosial. Komunitas-komunitas tersebut meliputi:
✨ 1. World Children’s Literature Community (WCLC) – https://shorturl.at/acFv1
✨ 2. Poetry-Pen International Community – Wadah bagi ekspresi puisi global
✨ 3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat) – PPIPM-Indonesia. https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
✨ 4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia) – https://rb.gy/5c1b02
✨ 5. Linguistic Talk Community – Ruang diskusi mendalam tentang bahasa
✨ 6. Literature Talk Community – Wadah bagi para pecinta sastra
✨ 7. Translation Practice Community – Menjembatani bahasa melalui penerjemahan
✨ 8. English Language Learning, Literacy, and Literary Community (EL4C) – Mendukung perkembangan bahasa, sastra, literasi dan budaya.