Menyelami Level Guru dari Arahan Ka.Kanwil Kemenag Sumbar saat Membuka Bimtek KBC MAN Sawahlunto
Oleh: Dafril, Tuanku Bandaro, M.Pd.I
Kepala MAN Kota Sawahlunto dan Mahasiswa Program Doktoral Studi Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat
Di tengah derasnya arus perubahan zaman, pendidikan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Revolusi digital, kecerdasan buatan, krisis moral, hingga disorientasi nilai menjadi ujian besar bagi dunia pendidikan modern. Dalam situasi demikian, guru tidak lagi cukup dipahami sekadar sebagai pengajar ilmu pengetahuan, tetapi harus menjadi figur utuh yang mampu membimbing jiwa, membentuk karakter, dan menumbuhkan peradaban.
Pesan mendalam inilah yang disampaikan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat, H. Mustafa, saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di MAN Kota Sawahlunto. Dalam arahannya, beliau menguraikan hakikat guru dalam perspektif Islam melalui empat tingkatan mulia: Mu’allim, Mudarris, Muaddib, dan Murabbi.
Empat level ini bukan sekadar istilah terminologis, melainkan tahapan spiritual, intelektual, dan moral yang menggambarkan kemuliaan profesi guru dalam Islam. Jika direnungkan secara mendalam, konsep tersebut memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan empat kompetensi guru dalam sistem pendidikan nasional, yakni kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian.
Guru sebagai Mu’allim : Penyalur Cahaya Ilmu
Level pertama adalah Mu’allim, yakni guru sebagai penyampai ilmu pengetahuan. Dalam posisi ini, guru bertugas mentransfer ilmu, membuka cakrawala berpikir, dan menuntun peserta didik menuju pemahaman.
Allah SWT berfirman:
“Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Ayat ini menegaskan bahwa aktivitas mengajar merupakan pekerjaan luhur yang bersumber dari sifat ketuhanan. Guru menjadi perantara turunnya cahaya ilmu kepada manusia.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus sebagai seorang pengajar.”
Dalam perspektif pendidikan modern, posisi Mu’allim berkaitan erat dengan kompetensi profesional guru. Guru dituntut menguasai materi pembelajaran secara mendalam, memahami perkembangan ilmu pengetahuan, serta mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.
Pakar pendidikan Islam, Syed Muhammad Naquib al-Attas, menyebut bahwa ilmu bukan sekadar informasi, melainkan sesuatu yang membawa manusia menuju pengenalan terhadap hakikat diri dan Tuhannya. Karena itu, seorang Mu’allim tidak cukup hanya cerdas secara akademik, tetapi juga harus mampu menghadirkan makna dalam ilmu yang diajarkannya.
Di era digital hari ini, tantangan Mu’allim semakin berat. Peserta didik dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber, bahkan dari kecerdasan buatan. Maka guru tidak boleh berhenti belajar. Guru harus menjadi mata air pengetahuan yang terus mengalir, bukan kolam yang stagnan dan keruh.
Guru sebagai Mudarris: Pengelola Proses Pembelajaran
Tingkatan kedua adalah Mudarris, yakni guru sebagai pengelola pembelajaran. Jika Mu’allim berorientasi pada isi ilmu, maka Mudarris berorientasi pada proses bagaimana ilmu itu dipahami dan diinternalisasi oleh peserta didik.
Allah SWT berfirman:
“Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”
Ayat ini mengandung pesan pedagogis yang sangat dalam.
Pendidikan bukan hanya tentang apa yang diajarkan, tetapi juga bagaimana cara mengajarkannya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Mudahkanlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.”
Hadis ini menjadi fondasi metodologi pendidikan Islam yang humanis dan penuh kasih sayang.
Dalam konteks kompetensi guru, posisi Mudarris sangat berkaitan dengan kompetensi pedagogik. Guru harus memahami karakter peserta didik, mampu menyusun perencanaan pembelajaran, memilih metode yang tepat, melakukan evaluasi, hingga memberikan remedial dan pengayaan.
Pemikiran ini sejalan dengan teori pendidikan Paulo Freire yang menolak pendidikan gaya “bank”, yakni guru hanya menjejalkan informasi kepada peserta didik. Pendidikan sejati, menurut Freire, adalah dialog yang membebaskan dan memanusiakan manusia.
Karena itu, seorang Mudarris sejati bukan sekadar pengajar di depan kelas, tetapi sutradara pembelajaran yang mampu menghidupkan suasana, membangun interaksi, dan menumbuhkan kecintaan peserta didik terhadap ilmu.
Guru sebagai Muaddib : Penanam Adab dan Karakter
Level ketiga adalah Muaddib, tingkatan yang oleh banyak ulama disebut sebagai inti pendidikan Islam. Pada level ini, guru tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan adab, etika, dan akhlak mulia.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Pendidikan dalam Islam pada hakikatnya adalah proses pembentukan manusia beradab. Sebab ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kecerdasan yang kehilangan arah.
Al-Attas menegaskan bahwa krisis terbesar umat modern bukanlah krisis ilmu, melainkan krisis adab. Ketika adab hilang, manusia kehilangan kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Di sinilah pentingnya guru sebagai Muaddib. Guru harus menjadi teladan hidup bagi peserta didik.
Sikap, ucapan, cara berpakaian, cara berbicara, bahkan cara memandang orang lain menjadi bagian dari pendidikan karakter yang diajarkan secara tidak langsung.
Posisi Muaddib sangat erat kaitannya dengan kompetensi kepribadian dan sosial guru. Guru harus memiliki integritas moral, kedewasaan emosional, kewibawaan, serta kemampuan membangun hubungan harmonis dengan peserta didik dan masyarakat.
Kurikulum Berbasis Cinta yang digaungkan H. Mustafa sesungguhnya berpijak kuat pada konsep Muaddib ini. Pendidikan dibangun atas dasar cinta, penghormatan, dan kemuliaan manusia sehingga sekolah menjadi ruang aman yang bebas dari bullying, kekerasan, dan intoleransi.
Guru sebagai Murabbi : Pembina Jiwa dan Peradaban
Tingkatan tertinggi guru dalam Islam adalah Murabbi. Kata ini berasal dari akar kata tarbiyah yang berarti menumbuhkan, memelihara, dan membimbing secara bertahap menuju kesempurnaan.
Allah SWT berfirman:
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, sayangilah mereka sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil.”
Ayat ini menggambarkan bahwa pendidikan sejati adalah proses pengasuhan penuh cinta dan ketulusan.
Seorang Murabbi tidak hanya mendidik kecerdasan intelektual, tetapi juga membina ruhani, emosi, visi hidup, bahkan masa depan peradaban. Ia hadir bukan sekadar di ruang kelas, tetapi juga di ruang hati peserta didik.
Pemikiran Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa pendidikan adalah instrumen utama pembangunan peradaban. Sebuah bangsa akan besar apabila memiliki guru-guru yang mampu membina generasi dengan ilmu dan moral sekaligus.
Dalam konteks kompetensi guru, Murabbi merupakan puncak integrasi seluruh kompetensi: pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Ia menjadi sosok pendidik paripurna yang mengajar dengan ilmu, mendidik dengan hati, membimbing dengan keteladanan, dan menginspirasi dengan kasih sayang.
Menjadi Guru yang Dirindukan
Arahan H. Mustafa dalam Bimtek KBC MAN Kota Sawahlunto sejatinya merupakan refleksi mendalam tentang hakikat guru di era modern. Guru bukan sekadar profesi administratif, tetapi amanah peradaban.
Guru ideal dalam Islam bukan hanya Mu’allim yang pandai mengajar, tetapi juga Mudarris yang cakap mengelola pembelajaran, Muaddib yang menanamkan adab, dan Murabbi yang membina jiwa.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan guru bukan semata-mata tingginya nilai akademik peserta didik, tetapi sejauh mana ia mampu melahirkan manusia yang berilmu, beradab, dan berakhlak mulia.
Sebab guru terbaik bukan hanya yang mampu membuat murid memahami pelajaran, melainkan yang kehadirannya dirindukan, nasihatnya dikenang, dan keteladanannya hidup sepanjang zaman.