Merayakan Seabad Jam Gadang, Bukittinggi Berkolaborasi dengan SatuPena Sumbar dan IMLF -4 (The Fourth International Minangkabau Literacy Festival)
Gambar 1: Bangunan Jam Gadang dan Logo Perayaan Seabad Jam Gadang - Bukittinggi. Sumber gambar: IMLF-4
Laporan: Leni Marlina
–
SUMBAR — Suara Anak Negeri News| Jam Gadang terus berdetak, setia menjaga denyut Kota Bukittinggi. Dari pagi yang riuh di pasar, langkah wisatawan yang datang silih berganti, hingga senja yang perlahan merayap di lereng Bukit Barisan, menara jam itu telah menjadi saksi perjalanan waktu. Di tahun 2026 ini, Jam Gadang Bukittinggi (Indonesian Clock Tower) genap berusia seratus tahun, usia yang sangat panjang dan penuh historis. Karena itu Jam Gadang yang historis sejak masa kolonial Belanda sampai zaman kemerdekaan NKRI, dirayakan tidak hanya sekadar meriah sesaat, tapi disiapkan untuk mencetak sejarah baru di nusantara.

Pemerintah Kota Bukittinggi memilih jalan yang lebih panjang dan bermakna. Peringatan seabad Jam Gadang dirancang melalui 100 kegiatan yang berlangsung sepanjang tahun 2026. Angka seratus tak sekadar menandai usia, tetapi dirajut sebagai simbol dan filosofi, mengalir dalam konsep, judul, hingga pelaksanaan setiap agenda.
Rencana besar ini mengemuka dalam pertemuan antara Pemerintah Kota Bukittinggi dan Panitia International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4, Senin (19/1/2026), di Balai Kota Bukittinggi. Pertemuan tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis, Sekretaris Daerah Rismal Hadi, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Nauli Handayani sebagai moderator, Ketua IMLF-4 Sastri Bakry, Sekretaris IMLF-4 Armaidi Tanjung, sutradara Arief Malin Mudo, serta sejumlah pimpinan OPD terkait.

“Seratus tahun Jam Gadang adalah momen yang sangat langka. Karena itu kami ingin seluruh kegiatan kota di tahun 2026 memiliki benang merah yang sama,” ujar Wakil Wali Kota Ibnu Asis.
Dalam rangkaian perayaan tersebut, Pemerintah Kota Bukittinggi menggandeng SatuPena Sumatra Barat, organisasi persatuan penulis Sumbar yang selama tiga tahun berturut-turut menjadi penggerak utama IMLF. Festival literasi internasional ini ditetapkan sebagai salah satu agenda inti peringatan seabad Jam Gadang.
Menurut Ibnu Asis, pilihan kepada SatuPena berangkat dari rekam jejak dan konsistensi yang telah teruji. “Mereka memiliki konsep yang jelas, pelaksanaan yang matang, dan perhatian yang kuat terhadap Bukittinggi. Secara teknis maupun substansi, SatuPena sudah terbukti,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa gagasan memusatkan pelaksanaan IMLF-4 di Bukittinggi berasal langsung dari Wali Kota Ramlan Nurmatias, tak lama setelah penutupan IMLF-3 pada Mei 2025. “Pak Wali Kota saat itu langsung menyampaikan bahwa IMLF berikutnya harus digelar di Bukittinggi, bertepatan dengan 100 tahun Jam Gadang. Hari ini, kita mulai mematangkannya bersama,” ujar Ibnu Asis.
Sekretaris Daerah Bukittinggi Rismal Hadi, yang juga dipercaya sebagai Ketua Panitia Perayaan 100 Tahun Jam Gadang, menegaskan bahwa 2026 merupakan tahun istimewa bagi kota ini. “Jam Gadang adalah jantung kota. Ketika jantung itu genap berusia seabad, perayaannya harus memberi dampak nyata bagi masyarakat. Bukan sekadar ramai, tetapi bermakna,” tuturnya.
Ia menambahkan, sepanjang 2026 seluruh kegiatan resmi Pemerintah Kota Bukittinggi akan terintegrasi dengan perayaan seabad Jam Gadang, termasuk penggunaan logo resmi 100 Tahun Jam Gadang dalam setiap agenda.
Dari sisi festival, Ketua IMLF-4 Sastri Bakry menyampaikan bahwa gaung IMLF kini telah melampaui batas nasional. Hingga saat ini, delegasi dari 21 negara telah menyatakan kesiapan untuk hadir. Panitia menargetkan partisipasi 30 hingga 40 negara, dengan jumlah peserta sekitar 200 orang.

Pertumbuhan IMLF tercatat konsisten dari tahun ke tahun. Pada edisi perdana 2023, festival ini diikuti 12 negara. Jumlah tersebut meningkat menjadi 17 negara pada 2024, dan kembali bertambah menjadi 24 negara pada pelaksanaan 2025.
Rangkaian kegiatan IMLF-4 dirancang beragam dan inklusif. Mulai dari seminar utama dan paralel, seminar internasional untuk guru, pertunjukan seni dan budaya, peluncuran 100 buku, diskusi buku, pembacaan puisi internasional, penerbitan 100 puisi tentang Jam Gadang, berbagai lomba literasi, pameran buku, lukisan hidup kaligrafi sepanjang 100 meter, penanaman 100 pohon, wisata literasi, hingga program IMLF Goes to School yang menyasar pelajar.

Bagi Bukittinggi, perayaan ini bukan sekadar menoleh ke belakang. Seabad Jam Gadang dijadikan titik tolak untuk membuka ruang dialog dengan dunia—mengundang masyarakat lokal dan warga global berbagi pengetahuan, pengalaman, cerita, dan karya, sekaligus memperkenalkan seni budaya serta sastra Ranah Minangkabau kepada Indonesia dan dunia.
Ketika jarum Jam Gadang terus bergerak menuju abad keduanya, Bukittinggi memilih merayakan waktu dengan kreativitas, kolaborasi dan literasi, menautkan Indonesia dan dunia melalui bahasa, sastra, seni, dan budaya. (LM-SAN)