Misi Cinta yang Tak Pernah Padam: ALMA dan Jejak Pelayanan di Tanimbar
Oleh : joko
http://suaraanaknegwrinews.com | Saumlaki – Dalam hembusan angin lembut siang hari dan cahaya matahari yang hangat, suasana di beranda depan Panti Asuhan Bhakti Luhur Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, terasa begitu tenang namun bermakna.
Di sinilah, pada Minggu, 18 Mei 2025, awak Suara Anak Negeri berkesempatan berbincang dengan Sr. Cisilia Suratmi, Pemimpin Umum ALMA (Asosiasi Lembaga Misionaris Awam) Puteri, dalam rangka kunjungan pastoralnya yang berlangsung sejak tanggal 16 hingga 18 Mei, dan berakhir dengan kepulangan pada 19 Mei 2025.
Kunjungan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan bagian penting dari agenda besar yang telah dirancang secara matang.
“Yang pertama, kami ingin mensosialisasikan Renstra (Rencana Strategis) ALMA 2025–2034. Kedua, kami datang untuk melihat secara langsung kondisi nyata di lapangan, apakah sudah ada pelaksanaan dari tujuan awal yang kami rumuskan atau belum,” tutur Sr. Cisilia membuka pembicaraan.

Dua Misi yang Menjadi Satu Napas: Iman dan Kasih
Menurut Sr. Cisilia, misi ALMA terdiri dari dua hal utama: misi iman dan misi kasih. Misi iman dijalankan melalui pelayanan ke paroki-paroki dan stasi, sementara misi kasih diwujudkan dalam bentuk nyata, seperti kehadiran rumah-rumah panti asuhan dan pelayanan langsung kepada anak-anak berkebutuhan khusus.
“Visitasi seperti ini adalah agenda rutin. Tahun ini kami fokus pada sosialisasi Renstra, tahun depan mungkin akan menyesuaikan dengan program lainnya,” jelasnya.

Struktur yang Hidup, Organisasi yang Bertumbuh
Sr. Cisilia menguraikan bahwa pengelolaan di Yayasan Bhakti Luhur sudah tertata rapi.
“Ada ketua sebagai pelayan kasih, bendahara, sekretaris, serta program pengembangan panti dan sekolah yang dilakukan setiap tahun. Kita menangani anak-anak sesuai bidang karya dan mengembangkan kapasitas anggota ALMA dalam mendampingi mereka.”
Renstra sepuluh tahun ke depan sudah dirumuskan, dan pelaksanaannya dikawal ketat lewat pertemuan tahunan setiap bulan November.
“Kita harus memastikan pola asuh anak ditangani dengan SDM yang kompeten. Kami bahkan mulai mengidentifikasi orang-orang yang punya keahlian khusus di bidang ini.”

Dari Komunitas, Untuk Komunitas
ALMA memiliki 16 regio yang terdiri dari 56 komunitas aktif. Untuk menjaga semangat spiritualitas dan koordinasi pelayanan, ada rekoleksi rutin setiap bulan serta retret tahunan.
“Kami punya sistem rohani yang diatur langsung dari pusat, tapi pelaksanaannya diserahkan ke komunitas. Setiap November juga ada rapat kerja tahunan,” tambahnya.
Menurut Sr. Cisilia, setiap komunitas ALMA diarahkan untuk mandiri dan mampu merespons dinamika zaman.
“ALMA berdiri sejak tahun 1963 oleh Rm. Prof. Dr. Paulus Hendrikus Janssen, CM. Saat ini kami memiliki tiga pilar yayasan: Bhakti Luhur untuk anak disabilitas, Institut Pastoral Indonesia (IPI) untuk pendidikan agama, dan lembaga pendidikan SD, SMP yang didukung Dinas Sosial.”

Mengasuh dengan Hati, Melayani dengan Iman
Sr. Cisilia sendiri sudah bergabung dengan ALMA sejak tahun 1986, dan sejak 2003 dipercaya menjadi pimpinan. Dedikasi hidupnya ditujukan untuk mereka yang membutuhkan perhatian dan kasih.
“Saya tergerak hati untuk menolong siapa pun yang perlu ditolong. Setiap perbuatan kecil kepada mereka, saya persembahkan kepada Tuhan.”
Ia menutup perbincangan dengan kalimat yang menggambarkan jiwanya yang sepenuhnya tercurah dalam karya pelayanan: “Kami datang untuk melayani, bukan untuk dilayani.”
Sebuah warisan nilai dari sang pendiri yang terus hidup dalam gerak langkah para misionaris ALMA.

Selanjutnya dalam senyap yang penuh makna, suara lembut Sr. Dr. Macaria Theresia Laiyan, ALMA, menggema kuat: tentang cinta, tanggung jawab, dan dedikasi yang tiada lelah untuk kaum disabilitas.
Sosok Sekretaris Yayasan Bhakti Luhur yang juga dikenal sebagai penulis buku-buku spiritual dan kemanusiaan ini menegaskan bahwa pelayanan terhadap kaum disabilitas bukan hanya soal profesi, melainkan panggilan jiwa.
Dalam kunjungannya ke Yayasan dan Panti Asuhan Bhakti Luhur Saumlaki bersama Sr. Cisilia Suratmi, Sr. Macaria membuka kisah panjang tentang karya-karya tulisnya dan semangat yang membakar di baliknya.
Ia telah menulis sejumlah buku yang menggugah kesadaran publik tentang disabilitas, baik dari sudut pandang teologis maupun kebijakan sosial.

Menulis dari Hati, Mengubah Pandangan
Salah satu bukunya yang paling dikenal adalah “Potensi Anak Disabilitas di Indonesia dan Timor Leste”, sebuah refleksi penuh empati atas kemampuan anak-anak disabilitas yang sering tersembunyi di balik stigma masyarakat.
Sampulnya menampilkan figur religius dengan pesan “Cinta Kasih Membangun Dunia Baru,” serta simbol dua organisasi besar: ALMA Puteri dan ALMA Putera, yang mengindikasikan sejarah panjang dan komitmen organisasi dalam pelayanan sosial lintas batas.
Tak kalah penting, buku “Kebijakan Publik untuk Penyandang Disabilitas di Indonesia” mengupas realita kebijakan negara terhadap kelompok rentan ini.

Gambar seorang suster yang berinteraksi dengan penyandang disabilitas di sampul buku mempertegas pesan: kebijakan tanpa empati hanya menjadi teks tanpa jiwa.
Buku lainnya, “Menembus Batas, Menyusun Harapan di Era Modern”, ditulis bersama Putra Surya Santosa, menyentuh persoalan disabilitas ganda atau tuna ganda.
Buku ini merupakan suara dari mereka yang kerap kali tidak terdengar di tengah gegap gempita modernitas, judulnya menjadi semacam manifesto: bahwa keterbatasan bukan akhir dari harapan.
Karya, Wilayah, dan Semangat Melayani
Sr. Macaria mengungkapkan bahwa Yayasan Bhakti Luhur saat ini hadir di 14 provinsi dan menjangkau 21 keuskupan di Indonesia serta tiga keuskupan di Timor Leste.
“Kami tidak hanya menangani satu jenis disabilitas, tapi keseluruhan disabilitas, bahkan lansia,” jelasnya.
Didirikan pada 1 Agustus 1959 oleh Rm. Prof. Dr. Paulus Hendrikus Janssen, CM, Yayasan Bhakti Luhur kini menjadi rumah besar pelayanan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Dengan didukung kaum awam, yayasan ini mengelola SLB, sekolah umum, dan dua SMA yang dirancang khusus untuk mendidik para pendamping anak disabilitas.
“Setiap pelayanan yang kita berikan kepada kaum disabilitas adalah pelayanan kepada Allah sendiri,” kenang Sr. Macaria, mengutip pesan spiritual dari pendiri yayasan.

Tantangan dan Harapan: Menggugah Kesadaran Bersama
Dalam praktiknya, tantangan tetap ada, terutama terkait kebijakan pemerintah daerah yang tidak merata dalam memberi dukungan.
“Ada daerah yang memberi subsidi kepada panti dan SLB, tapi ada juga yang tidak,” ujar Sr. Macaria.
Karena itu, ia mengajak semua pihak, pemerintah, masyarakat, gereja, dan dunia pendidikan untuk turut serta.
“Mari kita lihat kaum disabilitas sebagai anak bangsa yang berhak atas pendidikan, sebagai anak Allah yang butuh cinta, dan sebagai anak kandung yang membutuhkan kasih sayang,” serunya mengakhiri.
.