“Di Ruangan Itu, Saya Melihat Indonesia”
Oleh: Harry Tjahyono
–
Di ruangan sempit itu, di hadapan dua penyidik dan sebuah kursi merah yang tampak biasa, duduk seorang lelaki yang tak biasa. Berkemeja batik, bersahaja. Kepalanya tertunduk tenang—seolah sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar pertanyaan hukum: tentang siapa sebenarnya yang sedang diadili.
Dia akrab dipanggil Jokowi.
Pernah menjadi Walikota, Gubernur, lalu Presiden dua periode.
Dan kini, disudutkan oleh tuduhan yang bahkan tak pantas disebut gugatan—selain motif absurd yang dibungkus rapi dalam narasi hukum.
Saya melihat foto itu, dan hati saya bergetar.
Lebay? Mungkin. Tapi saya tak peduli.
Saya merasa getir terhadap cara-cara yang mengingkari rasa hormat.
Apa tidak cukup semua jalan tol, bendungan, bandara, rel kereta, dan rumah sakit yang berdiri karena tekadnya?
Apa tidak cukup malam-malam panjang tanpa tidur, tangan legam yang menggenggam rakyat di tengah bencana, dan keberaniannya menembus ruang-ruang kekuasaan yang sebelumnya tabu?
Lalu, apakah benar—semua itu gugur hanya karena satu tuduhan absurd tentang ijazah?
Kita mungkin tak selalu sepakat dengan semua keputusannya.
Namun, di negeri yang sedang kehilangan figur keteladanan,
mestinya kita masih tahu cara menghormati mereka yang telah banyak memberi.
Ia kini merendah, bukan karena kalah.
Tapi karena tahu: kekuasaan sejati tidak dibalas dengan kebrutalan yang sama.
Di ruangan itu, ia duduk—diam, tapi gagah.
Sebab kehormatan sejati tidak dibangun dari pembelaan,
melainkan dari keikhlasan menghadapi tuduhan.
Orang-orang yang menuduhnya mungkin lupa:
Dalam kisah Malin Kundang, yang kena kutuk bukan yang diam—
melainkan yang durhaka kepada ibu.
Dan dalam kisah ini, negeri adalah ibunya.
Mereka yang mencaci Jokowi, tanpa sadar,
sedang memukul wajah Indonesia sendiri.
Saya percaya, sejarah tak buta.
Ia mencatat mereka yang diam dalam martabat,
dan mengungkap mereka yang berteriak dalam kebencian dan kedegilan.
Kelak, kita semua akan melihat dan membaca ulang foto ini.
Bukan sebagai berita investigasi—tapi sebagai potret luka bangsa
yang sempat lupa cara mencintai pemimpinnya sendiri.
Potret cacat peradaban yang memperlakukan pengabdiannya dengan cara paling tak senonoh.
Dan saat itu tiba, kita akan tahu:
bahwa mereka yang dihina karena pengabdian,
adalah mereka yang paling dicintai waktu.
Dan saat itu tiba, kita akan tahu:
Para Malin Kundang itu sudah jadi batu.