Nada dan Ilmu Berpadu: Marco dhyllan Pattianakotta & Edo Laratmase di Panggung HUT ke-80 RI
Oleh : joko
Merdeka di Tanimbar: Ketika Guru, Siswa, dan Rakyat Bersatu dalam Detik Proklamasi, Marco dhyllan Pattianakotta dan Edo Laratmase Iringi Suara Kemerdekaan di Langit Tanimbar
Detik-detik Proklamasi ke-80 RI di Kepulauan Tanimbar berlangsung khidmat, penuh doa, dan syair perjuangan, nada musik dan barisan pasukan menjadi saksi persatuan rakyat dalam peringatan kemerdekaan, upacara diwarnai doa lintas iman, derap pasukan, serta nyanyian abadi perjuangan bangsa.
http://suaraanaknegerinews.com | Mentari baru saja mengintip dari ufuk timur ketika halaman SMA Negeri 8 Kabupaten Kepulauan Tanimbar mulai dipadati siswa berseragam putih abu-abu.
Di tengah gegap gempita, dua sosok pendidik tampil menonjol: Marco dhyllan Pattianakotta, S.Sn, guru seni musik, dan Edo Laratmase, S.Pd.Gr., M.Pd, guru fisika sekaligus staf humas sekolah.
Keduanya memimpin ratusan siswa menuju Lapangan Upacara Peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI bertempat di Lapangan Mandriak, Desa Sifnana, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Saat upacara berlangsung, mereka melantunkan lagu-lagu perjuangan: Hari Merdeka, Berkibarlah Bendera, Maju Tak Gentar, dan Bangun Pemudi Pemuda. Suara mereka bersatu, menggema, seolah menyatu dengan derap langkah pasukan upacara.
Detik-Detik Proklamasi
Sirene panjang meraung, menandai dimulainya Upacara Peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI. Barisan pasukan dari Polres Kepulauan Tanimbar memasuki lapangan dengan tegap. Komandan upacara, Ipda Thomas P. Wenno, memberi hormat kepada inspektur upacara, Bupati Kepulauan Tanimbar, Ricky Jauwerissa.
Sejenak hening. Semua mata tertuju pada pasukan Paskibraka yang bersiap menaikkan Sang Saka Merah Putih. Lagu Maju Tak Gentar kembali berkumandang, mengingatkan semua hadirin akan semangat abadi para pejuang.
Doa untuk Bangsa
Suasana khidmat kian terasa ketika Aloysius Paskhalis Rumwarin, S.Fil, Kepala Kantor Kemenag KKT, memimpin doa lintas iman.
“Tuhan yang Maha Baik, segala puji dan hormat kami haturkan ke hadirat-Mu atas anugerah negeri merdeka tercinta, Indonesia…” ucapnya lantang, dengan undangan diminta menyesuaikan doa sesuai keyakinan masing-masing.
Ia memohonkan berkat untuk bangsa, para pahlawan, serta perlindungan bagi para pemimpin daerah. Doa itu meneteskan haru di wajah hadirin, menyatukan semua dalam roh toleransi, solidaritas, dan persaudaraan sebangsa.
Rakyat dan Pemimpin Menyatu
Di mimbar utama, Bupati Ricky Jauwerissa bersama Wakil Bupati Dr. Juliana Katarina Ratuanak berdiri memberi penghormatan. Turut hadir Gembala Sidang Jemaat Milos Saumlaki, Pdt. Heberth S. Wahilaitwan, serta Evangelis Haris Boritnaban, S.Th, melengkapi deretan tokoh yang menyaksikan detik bersejarah itu.
Langkah Paskibraka yang gagah, bendera merah putih yang perlahan naik, dan doa yang terucap menjadi simbol persatuan. Di momen itulah, semangat Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju benar-benar terasa hidup.
Penutup dengan Nyanyian Kebangsaan
Upacara ditutup dengan pembacaan teks proklamasi, aubade, serta ucapan lantang dari panitia: “Dirgahayu Republik Indonesia ke-80! Semoga Indonesia terus bersinar sebagai bangsa besar dan berbudaya. Merdeka!”
Sorak tepuk tangan menggema, bercampur dengan lantunan nyanyian kemerdekaan. Marco dhyllan Pattianakotta dan Edo Laratmase kembali memimpin siswa, membiarkan lagu-lagu perjuangan membasuh semesta.
Catatan Penulis
“Sebagai jurnalis lapangan, saya melihat sendiri bagaimana irama musik dan derap langkah pasukan melebur menjadi satu. Tidak hanya sekadar upacara, tetapi sebuah peristiwa kebangsaan yang menyatukan rakyat Tanimbar dari berbagai latar belakang.”
“Marco dan Edo, dua guru yang berbeda disiplin ilmu, hari itu seakan menjadi simbol: seni dan sains dapat berjalan beriringan, memimpin generasi muda untuk terus mencintai Indonesia.”