RD Ponsianus Ongirwalu: Hari Kedelapan Ziarah Iman di Tanah Spanyol
Oleh: joko
Menapak Jejak Santo Ignatius Loyola, dari Lourdes ke Loyola: Peziarahan Rohani yang Menyentuh Relung Batin, Dalam Damai Doa Bersama Santo Ignatius
http://suaraanaknegerinews.com | Spanyol – Perjalanan hari kedelapan dalam rangkaian Ziarah Porta Santa membawa rombongan peziarah dari Lourdes, Prancis, menuju kota Valladolid di Spanyol.
Usai santap pagi, suasana hati para peziarah terasa tenang namun sarat harapan.
Di bawah bimbingan RD Ponsianus Ongirwalu, Vicaris Episcopal Kevikepan Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya, rombongan melangkah meninggalkan Lourdes dengan doa syukur, menapaki jalan panjang menuju tempat bersejarah, Loyola, tanah kelahiran Santo Ignatius, pendiri Serikat Yesus (Societas Iesu – SJ).
Mengenang Sang Prajurit yang Berubah Menjadi Rasul Iman
Kota kecil Loyola menyambut rombongan dengan udara pegunungan yang sejuk dan suasana sakral.
Di sinilah, pada tahun 1491, Santo Ignatius Loyola lahir dengan nama Iñigo López de Loyola dari keluarga bangsawan.
Awalnya seorang prajurit gagah, hidup Ignatius berubah drastis ketika ia mengalami cedera berat dalam pertempuran tahun 1521.
Selama masa pemulihan panjangnya, Ignatius menemukan makna baru tentang penderitaan dan panggilan hidup.
Ia membaca kisah-kisah Yesus dan para santo, yang perlahan menyalakan api pertobatan dalam dirinya. Dari sanalah lahir tekad untuk meninggalkan kemuliaan dunia dan menempuh jalan rohani.
Dari Pedang yang Dilepaskan hingga Doa yang Dilahirkan
Peziarah menyimak kisah ketika Ignatius melakukan perjalanan ke Biara Montserrat, di mana ia menyerahkan pedang dan jubah militernya, simbol pengabdian duniawi yang ditinggalkannya.
Kemudian, di kota Manresa, ia menjalani masa kontemplatif yang dalam, berpuasa dan berdoa, hingga menulis karya monumental “Latihan Rohani” (Spiritual Exercises), pedoman doa dan refleksi batin yang hingga kini menjadi inti spiritualitas Yesuit.
Dari Sumpah Iman hingga Gerakan Global
Pada tahun 1534, Ignatius bersama sahabat-sahabatnya, antara lain Santo Fransiskus Xaverius dan Petrus Faber — mengikrarkan sumpah kemiskinan, ketaatan, dan pelayanan kepada Gereja. Tujuh tahun kemudian, pada 1540, lahirlah Serikat Yesus (Yesuit) secara resmi.
Sebagai Superior Jenderal pertama, Ignatius memimpin dengan kebijaksanaan dan doa, menulis banyak surat serta menyusun Konstitusi Serikat Yesus yang menjadi pedoman spiritual dan organisatoris hingga kini.
Ia wafat pada 1556, namun warisannya tetap hidup dalam karya misi, pendidikan, dan pelayanan sosial Gereja di seluruh dunia.
Refleksi Iman di Tengah Keagungan Sejarah
Dalam keheningan Basilika St. Ignatius Loyola, RD Ponsianus Ongirwalu memimpin Misa Kudus. Kubah tinggi dan altar marmer yang megah menjadi saksi kesatuan doa para peziarah yang larut dalam kekhusyukan.
RD Ongirwalu mengajak umat untuk meneladani semangat Santo Ignatius, keberanian untuk berbalik arah, meninggalkan ego, dan hidup bagi Allah serta sesama.
“Pertobatan bukan sekadar perubahan arah hidup, melainkan kesediaan untuk terus dibentuk oleh kasih Tuhan,” ujarnya dalam renungan singkat usai misa.
Refleksi Peziarahan: Antara Sejarah dan Hati yang Disentuh
Hari kedelapan ziarah ini bukan hanya perjalanan geografis lintas negara, tetapi juga perjalanan batin yang menuntun setiap peziarah untuk menelusuri makna panggilan hidup.
Dari Lourdes yang penuh mukjizat hingga Loyola yang menyimpan kisah pertobatan, setiap langkah terasa seperti untaian doa yang mengalir dalam damai.
“Setiap tempat yang kita singgahi bukan sekadar destinasi wisata rohani,” ungkap RD Ponsianus Ongirwalu, “melainkan ruang perjumpaan, antara manusia dengan sejarah keselamatan, dan antara hati kita dengan kasih Allah yang tak bertepi.”