Obituari Bernardus Betaubun, SP: Pendiam, Senyum, dan Mendengar: Warisan Hidup yang Tak Tergantikan
Oleh Paulus Laratmase
–
Minggu subuh, 28 September 2025, menjadi pagi yang tak terlupakan bagi keluarga, sahabat, dan rekan-rekan yang pernah mengenal sosok Bernardus Betaubun, SP. Di rumahnya, ia menghembuskan napas terakhir, meninggalkan kesan yang dalam bagi siapa saja yang pernah bersentuhan dengannya. Seorang yang bersahaja, tidak banyak bicara, lebih suka tersenyum dan mendengar, namun menyimpan integritas yang teguh dalam seluruh perjalanan hidupnya.
Ungkapan tulus mengalir dari bibir orang-orang yang datang melayat. Hampir semua sepakat pada satu kalimat yang sama: “Bernardus orang baik.” Ia adalah pribadi yang tidak pernah menyusahkan orang lain, selalu siap mengemban tanggung jawab, dan tetap setia pada prinsip yang diyakininya. Kepergiannya tentu meninggalkan duka, tetapi lebih dari itu, ia meninggalkan teladan kehidupan yang layak dikenang dan dijadikan inspirasi.
Awal Perjalanan Hidup: Dari Aktivisme Lingkungan
Bernardus Betaubun menamatkan pendidikan tingginya di Universitas Pattimura Ambon dengan gelar Sarjana Pertanian. Namun, gelar itu tidak menjadikannya seorang teknokrat atau birokrat. Justru, lulusan ini memilih jalannya melalui aktivisme sosial dan lingkungan hidup.
Awal kariernya dimulai dengan bergabung bersama LSM Rumsram, sebuah organisasi yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan di Papua. Di sini, Bernardus bukan sekadar anggota biasa; ia menjadi bagian penting dari kerja-kerja nyata di lapangan di Kepulauan Padaido. Salah satu program besar yang pernah ditanganinya adalah program “Rehabilitasi Terumbu Karang” yang dilaksanakan di awal tahun 2000-an. Program ini mendapat dukungan dari Bank Dunia, Pemerintah Pusat dengan melibatkan LIPI, NGO, dan Pemerintah Daerah Biak Numfor.
Dalam program itu, Bernardus menunjukkan ketekunan yang khas. Ia tidak hanya bekerja di balik meja, tetapi terjun langsung ke lapangan, berdialog dengan masyarakat, mencatat pengalaman mereka, serta merangkai narasi yang kemudian memperkaya kesadaran publik. Dari sinilah bakat jurnalistiknya mulai tampak, sebuah kemampuan menuliskan pengalaman nyata menjadi literasi yang bisa dipahami banyak orang.
Suara Anak Negeri: Dari Cetak ke Digital
Pada tahun 2004, lahirlah sebuah media alternatif bernama Suara Anak Negeri. Media ini digagas oleh LSM Santa Lusia bersama sejumlah tokoh, termasuk Bernardus Betaubun, SP, yang kala itu didapuk menjadi redaktur. Bersama Ir. Ishak Matarihi, Direktur Rumsram, ia menapaki jalan baru dalam dunia pers: menghadirkan suara-suara dari pinggiran, dari kelompok yang sering terabaikan oleh media arus utama.
Cetakan awal Suara Anak Negeri bahkan dikerjakan di percetakan Gramedia Jakarta, sebuah langkah berani untuk sebuah media daerah. Namun keberanian itu tidak berdiri sendiri. Yayasan Kehati Jakarta, di bawah kepemimpinan Prof. Emil Salim, turut mendukung dengan pelatihan jurnalistik lingkungan dan teknik penulisan berita.
Selama satu minggu, Bernardus dan timnya ditempa langsung oleh para jurnalis senior seperti Drs. Raul Gultom dari Suara Karya serta beberapa wartawan kawakan lainnya. Dari pelatihan ini, Bernardus mengasah kemampuannya: menulis berdasarkan fakta, tunduk pada kode etik jurnalistik, dan patuh pada Undang-Undang Pers.
Ia pun tumbuh menjadi penulis yang luar biasa. Berbagai pengalaman lapangan dituangkan dalam artikel yang jernih, informatif, dan mendidik. Ia tidak hanya menulis berita, tetapi menjadikan tulisan sebagai alat literasi publik, memberi pengetahuan baru bagi pembaca tentang pendidikan, lingkungan hidup, dan kehidupan sosial masyarakat Biak serta Papua pada umumnya.
Dari ASN hingga Menulis Kembali
Tahun 2015, jalan hidup Bernardus membawanya menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai seorang guru. Meski kesibukannya kian meningkat, semangat menulisnya tidak padam. Ia tetap mencari waktu untuk menuangkan gagasan, menulis tentang hal-hal yang dekat dengan hatinya: pendidikan, lingkungan, dan masyarakat kecil yang sering kali terpinggirkan.
Namun realitas ekonomi juga tidak bisa dielakkan. Media cetak semakin mahal dan sulit bertahan. Suara Anak Negeri pun sempat berhenti beroperasi beberapa tahun. Meskipun demikian, semangat itu kembali menyala pada tahun 2022/2023.
Dengan semangat baru, lahirlah suaraanaknegerinews.com, sebuah media online yang membuka akses pembaca lebih luas. Dunia digital menjadi rumah baru bagi gagasan Bernardus. Sekali lagi, ia menunjukkan bahwa teknologi hanyalah sarana, sementara tujuan utamanya tetap sama: literasi publik, pencerahan bagi masyarakat, dan keberpihakan pada kebenaran.
Penulis yang Handal dan Bersahaja
Dalam dunia jurnalistik, Bernardus dikenal sebagai penulis yang tekun. Ia tidak sembarangan menulis. Strategi memperoleh data dan informasi menjadi kekuatannya. Ia selalu memastikan bahwa setiap tulisan berbasis fakta, diperoleh melalui cara-cara yang benar, serta ditulis dengan kesadaran penuh akan tanggung jawab sosial seorang jurnalis.
Namun di balik ketenaganannya menjaga integritas penulisan, ia tetap pribadi yang sederhana. Keramahan dan senyum serta keheningannya membuat orang nyaman berada di dekatnya. Ia bukan tipe orang yang suka menonjolkan diri. Justru dengan diamnya, ia banyak mendengar, menyerap, dan mengolah pengalaman orang lain untuk kemudian dituliskan kembali.
Tidak berlebihan jika menyebut Bernardus sebagai jurnalis sekaligus pendidik. Tulisan-tulisannya tentang kondisi sumber daya manusia pendidik di Biak Barat, kehidupan para siswa, hingga problem lingkungan sosial yang ia amati, menjadi bahan refleksi berharga bagi siapa saja yang membacanya.
Warisan: Integritas dan Literasi Publik
Kini Bernardus Betaubun telah pergi. Namun warisan hidupnya tidak berhenti di liang lahat. Warisan itu terus hidup dalam bentuk integritas, kesederhanaan, dan dedikasi.
Pertama, ia mengajarkan bahwa hidup tidak perlu banyak bicara untuk bermakna. Dengan diam dan mendengar, seseorang bisa lebih peka terhadap kebutuhan orang lain, lebih bijaksana dalam bertindak, dan lebih dalam, dalam memahami dunia.
Kedua, ia menunjukkan bahwa menulis adalah jalan pengabdian. Tulisan bukan sekadar kata-kata, tetapi sarana untuk mencerdaskan masyarakat, membuka wawasan, dan memperjuangkan kebenaran.
Ketiga, ia membuktikan bahwa integritas adalah harta yang tak ternilai. Dalam setiap peran yang dijalani, aktivis lingkungan, redaktur, jurnalis, hingga ASN, Bernardus tetap setia pada prinsip kejujuran, kesetiaan pada fakta, dan komitmen pada nilai-nilai kemanusiaan.
Keluarga Kecil yang Ditinggalkan
Di balik sosoknya yang dikenal publik sebagai aktivis, jurnalis, dan abdi negara, Bernardus adalah seorang suami dan ayah yang penuh kasih. Ia meninggalkan seorang isteri bernama Maria Kablesa, S.Pd., M.Pd., serta seorang anak semata wayang, Iren Betaubun, S.Pi Kehilangan ini tentu menjadi pukulan mendalam, tetapi tidak membuat mereka larut dalam kesedihan berkepanjangan.
Pengalaman hidup bersama Bernardus sebagai seorang suami dan ayah menghadirkan refleksi yang tak ternilai. “Bagi Usi Maria dan anak Iren,” kenangan tentang kesederhanaan, ketulusan, serta pengabdian “Sang Pendiam” Bung Cece akan menjadi kekuatan dalam melanjutkan perjalanan hidup. Kehidupan bersahaja yang diwariskan akan menghiasi langkah mereka, mengajarkan bahwa hidup yang bermanfaat bagi Tuhan dan sesama adalah warisan terindah yang pernah diberikan Bung Cece.
Selamat Jalan, Bung Cece
Kepergian Bernardus Betaubun, atau akrab disapa Bung Cece, tentu meninggalkan luka dan kehilangan. Namun bagi mereka yang mengenalnya, ia bukan sosok yang telah tiada. Ia adalah cermin tentang bagaimana menjalani hidup dengan tulus, bagaimana bekerja tanpa pamrih, dan bagaimana mengabdi tanpa henti.
Selamat jalan, Bung Cece. Tuhan menerima engkau di surga abadi. Senyummu, keheninganmu, dan tulisanmu akan tetap menjadi bagian dari ingatan kolektif kami. Warisan literasi publik yang engkau bangun tidak akan pernah padam, melainkan terus menjadi obor bagi generasi berikutnya.
Penutup
Obituari ini bukan hanya untuk mengenang kematian, tetapi merayakan kehidupan. Kehidupan seorang Bernardus Betaubun, SP, yang sederhana namun penuh makna. Melalui jalan aktivisme, jurnalisme, dan pengabdian, ia meninggalkan jejak yang akan terus diingat.
Di era ketika kebenaran sering kali tertutup kabut kepentingan, kehadiran figur seperti Bernardus adalah cahaya yang menuntun. Cahaya itu kini mungkin telah berpulang ke Sang Pencipta, tetapi sinarnya akan tetap membekas dalam hati dan pikiran kita.
Ditulis oleh:
Paulus Laratmase
Direktur Eksekutif LSM Santa Lusia
Editor:
Ir. Ishak Matarihi
Direktur Eksekutif LSM Rumsram