Pastor Pius Heljanan, MSC: “Ampuni Saudaramu Seperti Tuhan Mengampunimu”
Oleh : joko
Menghapus Luka, Menyuburkan Cinta: Pastor Pius Heljanan, MSC Ajak Umat Hidupkan Kasih Lewat Pengampunan
“Bukan hanya sampai tujuh kali, tetapi tujuh puluh kali tujuh kali.”Pengampunan sebagai kunci kebebasan batin dan rahmat Tuhan.
http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki, Kamis pagi, 14 Agustus 2025 —
Di tengah suasana pagi yang tenang di Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, umat Katolik berkumpul di Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran.
Pastor Pius Heljanan, MSC, yang menggembalakan umat di Kuasi Paroki ini, menyampaikan sebuah pesan rohani yang menyentuh hati: “Ampuni Saudaramu Seperti Tuhan Mengampunimu.”
“Bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali kalian harus mengampuni,” tegas Pastor Pius, mengutip Injil Matius 18:21–19:1.
Mengampuni, Tantangan Iman
Mengampuni, terlebih kepada mereka yang berulang kali melukai hati, bukanlah perkara mudah. Pastor Pius mengakui bahwa banyak orang merasa berat memaafkan, apalagi bila kesalahan terus berulang.
Namun, ia mengingatkan, Yesus tidak hanya mengajarkan kasih dalam kata-kata, tetapi dalam tindakan nyata yang terwujud melalui pengampunan tanpa syarat dan tanpa batas.
“Bila kita mengimani Yesus, maka kita harus mengikuti ajaran-Nya. Mengampuni sesama adalah kunci untuk menerima rahmat pengampunan dari Tuhan,” ujar Pastor Pius.
Kasih yang Membebaskan
Menurutnya, mengampuni adalah tindakan kasih yang membebaskan, baik bagi yang memberi maaf maupun yang menerimanya.
Menyimpan dendam hanya akan meninggalkan luka dan kebencian di hati, sementara menghitung kebaikan orang lain akan menumbuhkan sukacita.
“Jangan hitung kesalahan sesamamu, itu hanya akan menyisakan kebencian. Sebaliknya, hitunglah kebaikannya, karena itu akan meninggalkan sukacita di hati,” pesan Pastor Pius dengan suara lembut namun penuh ketegasan.
Menghidupi Sabda
Pesan rohani ini menjadi pengingat bahwa iman bukan hanya soal doa, tetapi juga soal sikap hati. Mengampuni bukan berarti melupakan kesalahan, melainkan memilih untuk tidak membiarkan kesalahan itu menguasai hati.
Di tengah tantangan hidup masyarakat Tanimbar, ajakan ini menjadi semacam oase spiritual—menguatkan, menyejukkan, dan mempersatukan.