Pendidikan Nonformal di Papua: Jalan Strategis dalam Semangat Partisipasi Semesta
Oleh: Margaretha Singgamui)*
Kepala SPNF SKB Kabupaten Biak Numfor
–
Tema Hari Pendidikan Nasional 2025, “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, menjadi refleksi penting tentang perlunya kolaborasi antara seluruh elemen masyarakat dalam menghadirkan pendidikan yang adil, inklusif, dan berkualitas. Di tengah semangat ini, pertanyaan mendasar yang harus kita renungkan adalah: sudahkah Papua benar-benar dilibatkan dalam semangat partisipasi itu?
Secara umum, pendidikan di Papua masih menghadapi tantangan multidimensi. Ketimpangan infrastruktur, kurangnya tenaga pendidik, kondisi geografis yang ekstrem, serta kesenjangan budaya dan bahasa, menjadikan banyak anak Papua terpinggirkan dari akses pendidikan formal yang layak. Di beberapa wilayah pedalaman, sekolah negeri hanyalah nama tanpa guru, tanpa bangunan, bahkan tanpa murid karena belum terbangun sistem yang berpihak.
Namun, ada satu jalur pendidikan yang sesungguhnya sangat potensial untuk mengisi kekosongan dan menjawab kebutuhan lokal Papua, yakni pendidikan nonformal. Sayangnya, jalur ini kerap dipandang sebelah mata dan tidak diprioritaskan dalam kebijakan pendidikan nasional, padahal di Papua, pendidikan nonformal dapat menjadi jembatan utama bagi masyarakat adat, anak putus sekolah, ibu rumah tangga, hingga generasi muda di daerah terpencil.
Pendidikan nonformal adalah ruang belajar yang fleksibel, kontekstual, dan adaptif terhadap kondisi sosial-budaya lokal. Kursus keterampilan berbasis masyarakat, program keaksaraan fungsional, taman bacaan, sekolah minggu, pelatihan gereja, hingga kelompok belajar mandiri adalah bentuk nyata dari pendidikan nonformal yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat Papua.
Dalam konteks partisipasi semesta, penguatan pendidikan nonformal harus dilakukan dengan kesadaran bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya terletak pada keberadaan gedung sekolah atau kurikulum nasional yang baku, melainkan pada kemampuan kita menciptakan ruang-ruang belajar yang dekat, relevan, dan memberdayakan.
Pemerintah perlu hadir bukan sekadar sebagai regulator, tetapi sebagai fasilitator yang aktif memberdayakan masyarakat lokal, gereja, lembaga adat, dan organisasi masyarakat sipil untuk menjadi bagian dari sistem pendidikan yang inklusif. Dukungan anggaran, pelatihan tutor lokal, pengembangan modul berbasis budaya Papua, dan penyediaan sarana belajar yang kontekstual harus menjadi bagian dari kebijakan pendidikan nonformal.
Pendidikan bermutu tidak dapat dicapai jika kita masih mengabaikan mereka yang berada di pinggiran. Di Papua, pendidikan nonformal bukan hanya jalur alternatif, tetapi bisa menjadi arus utama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Di sinilah tema Hardiknas 2025 menemukan maknanya yang paling otentik: ketika seluruh elemen masyarakat bergerak bersama, membangun pendidikan dari akar rumput, dan memastikan tidak ada satu anak pun yang tertinggal.
Jika kita benar-benar ingin menciptakan generasi Papua yang unggul dan berdaya saing, maka kita harus terlebih dahulu membuka pintu pendidikan seluas-luasnya melalui jalur yang paling mungkin dijangkau oleh masyarakat. Dan pendidikan nonformal adalah salah satu kunci strategisnya.
SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL
*(Kepala SPNF SKB Kabupaten Biak Numfor