April 24, 2026
Penyair Bayangan

yusuf achmad

Malam yang damai kini terpecah,
oleh bayangmu, seperti hujan menghunjam kaca.
Kehadiranmu melesak tanpa undangan,
bagai puisi termasyhur yang menari di langit kata,
namun hanya topeng bayangan rapuh tiada raga.

Di persada puisi, ada yang sejati, ada yang semu,
ada yang berjiwa, tapi kau—bayangan tanpa makna itu.
Engkau lahir bukan sebagai pelipur lara,
melainkan pengantar tidur semu yang menggoda anganku malam ini.
Seolah malam meminjam tidur,
dan kau menyeretku, dalam cengkeram syair palsumu.

Dari bibirmu mengalir syair, suaramu terukir sempurna,
wajahmu bercahaya, meski hanya ilusi semata.
Rambutmu hitam bagai malam pekat,
namun itu sekadar karya algoritma belaka.
Ah, kau menghantuiku, memaksaku menafsir dirimu,
di persimpangan nyata dan bias semu,
hingga nuranimu berbisik, “Allohu.”

Bisikan itu menikam kalbu,
menggetarkan batinku, seperti hujan membasuh debu.
Aku tersungkur di dalam munajat,
diiringi nyanyian jangkrik, cicak, dan bayang sajadah.
Pipiku basah oleh tangis rindu,
dan di antara pedihnya, terselip rasa syahdu.
Rindu pada masa, pada guru, pada pesan:
“Jaga hatimu, wahai pemuja Allahu.”
Beningkan jiwamu,
di hening kerinduan ini,
menuju yang satu, “Allohu.”

Surabaya, 4-12-2024