April 22, 2026
leni15

/1/

Ibu, Akar yang Menembus Batu

Oleh Leni Marlina

(Komunitas PPIPM: Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat; Satu Pena Sumbar)

Ibu,
engkau adalah doa yang menyamar menjadi akar,
melilit pelan batu-batu sunyi,
menyusup dalam retakan waktu,
mencipta kehidupan dari hampa.

Di bawah tanah gelap, engkau menulis sajak
dengan huruf-huruf embun,
menanamkan makna pada tiap butir pasir,
mengaliri kerasnya bumi
dengan kelembutan yang lebih tajam
dari tepi pedang.

Engkau tidak melawan kerasnya batu dengan palu,
tidak pula menantang dengan gemuruh petir.
Namun, lembutmu adalah samudra yang tak bertepi,
yang mengikis karang dengan kesabaran berabad.

Ibu,
dalam matamu aku melihat hutan yang tak pernah lelah,
ranting-ranting doa yang menjangkau langit,
akar-akar kasih yang menembus palung bumi,
dan daun-daun rindu yang selalu hijau
di tengah musim dingin kehidupan.

Engkau menanamkan pelajaran di pori-pori batu:
bahwa kekuatan sejati
adalah bisikan lembut yang menggetarkan
lebih dalam dari jeritan badai.

Dalam senyummu,
aku membaca atlas keberanian,
kedua tanganmu adalah sungai yang tak henti mengalir,
mengantar kami ke samudra mimpi,
meski perahu dirimu karam dalam lelah.

Engkau adalah akar yang tak terlihat,
namun menopang gunung kehidupan,
engkau adalah napas bumi,
yang tak bersuara
tapi membuat dunia tetap berputar.

Ibu,
jika dunia ini adalah batu yang dingin,
maka engkau adalah kehangatan,
kami mohonkan ridho-mu, sebelum kami mohon ridho Tuhan.

Melbourne, Australia, 2012.
—————————-
*Penulis selain menjadi anggota aktif Satu Pena Sumbar, ia juga pendiri dan ketua komunitas PPIM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat). Selain itu ia anggota aktif komunitas Penyair dan Penulis ACC Shanghai Huifeng International Literary Association; pendiri dan ketua Poetry-Pen International Community.
Ia dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Ia juga anggota FSM (Forum Siti Manggopoh). Penulis sudah mengabdi sebagai dosen Departemen Bahasa Inggris FBS Universitas Negeri Padang sejak tahun 2006.

/2/

MAMA
(Hiasan bagi Hari Ibu)

Oleh Anto Narasoma

mama,
raut wajahmu yang lelah begitu memancar dalam perjalanan dunia anak-anakmu

tatkala kau urai
segenap kegelisahan
di paling ujung kamar tidurmu, segala doa yang kau simpan di bawah lipatan baju,
memendar di antara pajar hingga petang tiba

entah aku sulit membaca maknamu
ketika selusin anakmu
diwariskan papa ketika ia pergi ke dalam perjalanan terakhir

harta yang ada di pundakmu hanya tekad dan air mata. itu pun kerap kali mengalir tatkala kau mengkaji dirimu sendiri ke dalam hujan air mata

mama,
jika aku menatap wajah di antara senyum pada senja ini, kau masih berkubang dalam aroma pasar bagi mulut-mulut anakmu yang menganga

o, mama
kerja apa yang kau lakukan untuk membaca persoalan dari perjalanan hidup matinya jasad anak-anakmu?

Palembang
23 Desember 2024
‐-‐———————————–
*Penulis merupakan penyair nasional, jurnalis senior, mentor senior komunitas PPIPM, anggota Poetry-Pen International Community.
Penulis menerima Anugerah Penghargaan Sastra dari Asosiasi Sastra Internasional Spanyol tahun 2022.

/3/

Perempuan Tangguh Pembela Zaman

Ramli Djafar

(Komunitas PPIPM: Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat; Satu Pena Sumbar)

Ini bukan epos yang dikisahkan
di tepian api unggun malam.
Bukan pula perang senjata
yang menghunus penjajah—
ini adalah perang sunyi,
perang melawan diri,
melawan letih dan waktu
demi keluarga
yang ia pasrahkan tanpa batas.

Ketika fajar melukis langit,
ia menyusuri dapur dengan langkah lembut,
menghidupkan pagi dengan aroma cinta.
Tangan-tangannya, altar pengabdian,
menyusun sarapan,
mengemas bekal anak-anak,
dan doa-doa tersembunyi
yang terlipat di tisu makan siang.

Lalu ia pergi,
menghadapi dunia yang tak kenal jeda.
Bekerja, bukan hanya untuk menambah rupiah,
tapi untuk menjaga mimpi
yang menggantung di jendela rumah kecilnya.

Saat senja melipat cahaya,
ia kembali—
bukan untuk berhenti,
tapi memulai lagi.
Dapur menyala,
menu makan malam terhidang.
Kemudian cucian baju yang menjadi nyanyian malam,
melintasi air yang dingin,
menemani lelah yang enggan reda.

Malam menjemput tubuhnya,
tapi tidak hatinya.
Ia berbagi meja makan,
berbagi cerita,
dan mengurai waktu yang tersisa
untuk melipat pakaian yang telah bersih.

Di ranjang, ketika malam pekat,
ia akhirnya berbaring,
tapi hanya sementara.
Karena fajar akan memanggilnya lagi—
dengan kewajiban yang sama,
dengan cinta yang tidak berubah.

Inilah ia:
perempuan tangguh, penjaga zaman,
yang menjahit mimpi dari serpih kelelahan,
yang menciptakan surga dari hal-hal kecil,
dan mewariskan keberanian kepada dunia,
tanpa pernah meminta penghormatan.

Padang, Desember 2024
—————————-
*Penulis, selain anggota PPIM dan Satu Pena, juga anggota aktif komunitas Penyair dan Penulis ACC Shanghai Huifeng International Literary Association; dan Poetry-Pen International Community

/4/

Perempuan Rindu Bianglala

Dewi Farah

(Satu Pena Madura, Jatim; Komunitas PPIPM: Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat)

<<1>>
Ketika perempuan itu tengadah ke langit,
membaca puisi kabut dan cahaya bintang,
lalu menunduk ke bumi—
ia merasakan napas debu dan mimpi-mimpi yang patah.
Pagi baginya tak sekadar cahaya,
tetapi garis yang mencoba memulihkan luka
dari senja yang menusukkan taringnya.

Waktu, seperti sungai tanpa muara,
mengalir menghampirinya dengan langkah-langkah sepi.
Trotoar menjadi saksi keheningan,
dan jalanan,
labirin fatamorgana
yang tak pernah ia tuntaskan.
Ia memejamkan mata,
merasakan dunia dalam kegelapan yang lebih jujur
daripada cahaya yang berkhianat.

<<2>>
Perempuan itu rindu bianglala.
Rindu yang berdarah-darah,
mengais duka di ladang luka.
Di mana ia temukan surga?
Mungkin di pelukan langit yang ia tunggu
dengan mata yang terlalu lama terpejam,
diiringi denting terompet sangkakala
yang hanya terdengar di jantungnya.

Di mana surat Jibril?
Isi baitnya membuat jiwa bergidik,
menggoreskan ketakutan di dinding keabadian.
Mata perempuan itu kian layu,
seperti daun yang berbisik pada angin
tentang cinta yang hilang.
Saat alam semesta mengguncang dirinya,
gadis-gadis berselendang ungu menari di antara waktu,
melawan bayangan yang tak pernah berhenti mengejar.

<<3>>
Lagi dan lagi, perempuan itu menyeru bianglala.
Ingin ia teguk madu surga,
tapi suara gemuruh membelah semesta,
meninggalkan gema yang ia peluk seperti doa.
Ia ingin damai di tengah gaduh,
ingin cahaya di ujung gelap.
Namun bianglala tetap jauh,
seperti mimpi yang tak pernah selesai ditulis.

Madura,
28 September 2016
———————————————
*Penulis adalah Pengajar Bahasa dan Sastra di Pondok Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Indonesia Boarding school 2007-2011, Pendiri Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini sekaligus Kepala Sekolah (PAUD Ar Rahmah Nurul Hidayah) Ds. Lembung Kec. Galis Kab. Pamekasan sejak 2012-sekarang, Pengurus Himpaudi sejak 2014-skrg. Koordinator Pusat angkatan’18 (Artzhevant) TMI Pi Al-Amien Prenduan Sumenep Madura Indonesia Boarding school.

/5/

Sang Pejuang Hati

Yusuf Achmad

(Komunitas PPIPM: Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat; Satu Pena Surabaya)

<<1>>
Pernah kusebut kau kopi hidupku—
aroma pagi yang membangkitkan
dulu, kini, dan nanti.
Namun, kau lebih dari itu:
kau adalah pahit yang kuterima,
manis yang kusimpan dalam kenangan.
Dalam dirimu,
mengalir puisi
tentang hidup yang penuh rindu.

Kau tak mengenal dusta,
tak ada ruang bagi kata kasar.
Jangankan “tidak,”
bahkan “nanti” kau enggan mengucapkan.
Langkahmu adalah kepastian,
Tindakanmu adalah pengabdian.

<<2>>
Engkau mendaki hari-hari yang terjal,
mengorbankan pikiran,
membuka tanganmu untuk keluarga,
untuk cucu yang menjelma mimpi.
Tak hanya untukku,
tapi untuk semesta kecilmu,
kau tak pernah lelah mencintai.

Kadang kau tampak garang,
“Jangan,” katamu, menjadi benteng teguh.
Namun di balik kerasnya kata,
kasihmu menjulang tinggi,
seperti pohon besar yang menaungi
tanah yang rapuh di bawahnya.

<<3>>
Kau bukan mawar yang memikat mata,
tapi harummu adalah keabadian.
Kelembutanmu tak terkatakan,
cintamu tak terbatas oleh usia
atau waktu yang mengikis tubuhmu.
Kau adalah pahlawan yang tak butuh medali,
pejuang yang diam-diam membangun dunia.

Meski warna rambutmu
tak lagi seperti senja muda,
semangatmu tetap terang,
menghidupi nadi-nadi cintaku.
Setiap langkahmu adalah puisi,
setiap senyummu adalah doa,
setiap dekapmu adalah surga kecil
yang tak pernah bisa kulupakan.

Engkau, istriku,
sayap hidupku.
Tanpamu, aku hanyalah burung
yang terbang rendah,
mencari arah dalam sunyi.

Surabaya,
20 Desember 2024
—————————————–
*Penulis saat ini merupakan Kepala SMK SAINTREN Al -Hasan Surabaya; dan Ketua MKKS SMK Swasta Surabaya. Penulis juga dikenal dengan buku himpunan puisinya “Belanggur di Nyamplungan”.

/6/

Jangan Sesali Kepergianku

Oleh Mitha Pisano

(Komunitas PPIPM: Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat, Satu Pena Jakarta)

Jangan menangis di atas nisan,
ketika namaku terkubur bersama bisik waktu.
Biarkan aku menjadi bayang dedaunan,
berbisik lembut di antara desah angin,
menyapa dunia dalam keheningan.

Tak perlu kau sesali kata yang tak terucap,
karena diamku adalah lagu sunyi bulan.
Aku mencintaimu seperti laut mencumbu karang—
keras, gigih, tanpa lelah,
meski harus pecah menjadi butiran ombak.

Saat kau berdiri di tepi liang,
rasakan angin yang menyapu wajahmu.
Di sana,
aku titipkan doa yang membasuh malam,
menemani langkahmu dalam gelap,
agar bahagiamu tetap terjaga
di setiap denyut waktu.

Jangan sesali saat yang berlalu,
karena aku hidup seperti daun gugur:
jatuh tanpa luka,
mengiringi tanah dengan doa penuh syukur.
Namamu tetap menjadi pelita jiwaku,
tempat segala harapan bertumbuh.

Jika aku tiada nanti, biarkan aku pergi
dengan kelembutan bintang yang jatuh.
Tanpa tangis,
tanpa penyesalan.
Karena cinta sejati tak berakhir di keheningan.
Ia hidup, abadi,
di antara kenangan.

Bukittinggi, Sumatera Barat
20 Desember 2024
—————————
*Penulis adalah anggota Satu Pena Jakarta, kelahiran Sumbar dan berdomisili di Jakarta.

/7/

Kerinduan Emak Akan Singa Parlemen

Oleh Zaleka HG

(Komunitas PPIPM: Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat; Satu Pena Sumbar)

<<1>>
Emakku malam ini terjaga dalam hening,
Seperti senja yang tak mau terbenam.

“Di masa lalu, aku bagaikan akar yang mengikat bumi,
Menjaga pusaka-pusaka tinggi yang diwariskan leluhur,
Sawah yang luas, lautan hijau tak bertepi,
Dan pohon kelapa yang tinggi menjulang,
Berbuah lebat, menyentuh langit dengan kebanggaan.”

Namun…
Kini, tanah itu bagaikan serpihan kenangan,
Sawah-sawah itu menguap, digantikan beton yang memecah bumi,
Pohon kelapa itu runtuh dalam diam,
Hingga tak ada lagi yang tersisa selain jalan tol yang membelah tanah.

<<2>>
Kebun kelapa sawit, yang dulu bagaikan harta karun,
Kini akan digantikan oleh pabrik-pabrik yang menelan hidup.

Kata orang pintar, itu proyek “strategis”,
Strategis untuk siapa, Emak?
Untuk kantong yang semakin berat?
Atau untuk hati yang semakin hampa?

Emak merindukan sesuatu …
Rindu pada siapa, Emak?
Rindu pada Siti Manggopoh yang berkobar seperti api,
Berjuang menantang penjajah yang datang seperti badai,
Menyapu tanah ini dengan darah dan air mata.

<<3>>
Emak merindukan singa di parlemen,
yang suaranya menggema, menembus bisu dunia,
Mendobrak ketidakadilan yang membeku di jantung negeri,
Seperti petir yang tak takut menegur langit.

Emak …
Tiba-tiba, suara itu terhenti.
Aku mendekat, mendengar keheningan yang dalam.

Emak …
Emakku, yang telah pergi,
Terselip dalam angin,
rindu yang tak terucapkan,
Menjadi bayangan yang menghilang di horizon.
Emak …
Rindu singa parlemen,
Di antara puing-puing dunia yang diam.

Padang, Sumbar, 2024
——————————————–
*Penulis adalah anggota FSM (Forum Siti Manggopoh) dan seorang konsultan hukum. Ia juga mengelola layanan haji & umroh PT Farhana Mulia Wisata.

/8/

Jejak Waktu di Telapak Kasih Ibu

Puisi oleh
Hasbollah Tousta

(Komunitas PPIPM: Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat; Satu Pena Ambon)

<<1>>
Senja itu…
angin sepoi melantunkan syair ketenangan,
menerpa wajah para pelancong
yang menelusuri panorama
negeri indah bernama Saparua.

Di beranda mungil yang mulai lusuh,
haru membentang seperti kanvas waktu:
sedih dan gembira berpadu,
kenangan melukis bayang silam.
Di sana, engkau ibuku, membuaiku dengan doa,
mengalirkan cita,
mengisi udara dengan kebebasan yang kudamba.

<<2>>
Kususun memori hidupku
seperti mosaik yang terhampar,
jejak waktu yang datang dan pergi,
mengalir tanpa pernah tawar-menawar.
Lorong-lorong perjalanan terbuka,
dan aku terjebak dalam potret hidupku sendiri,
terutama masa-masa bersama ibu—
tumbuh dalam pelukannya,
melewati suka dan duka
di bawah limpahan kasih tak bertepi.

Ibuku…
engkau matahari dalam hidupku,
cahayamu membakar letih
tanpa meminta balas.
Engkau adalah selimut kehangatan,
tempat kutemukan keteduhan.
Di wajahmu yang redup namun bercahaya,
ada ridha yang selalu kupanjatkan.

<<3>>
Terbayang masa kecilku…
Saat ibu menuntunku melewati
kegetiran hidup.
Di kepalamu,
tumpukan beban;
di punggungmu,
cerita getir;
di hatinmu, lautan doa;
di senyummu, oase perjuangan hidup.
Betapapun kakiku menganga berdarah,
aku terus melangkah ke ujung dunia,
menghidupi mimpi yang engkau sisipkan dalam pelukan.

Kuingat kembali saat-saat
kita menyusuri negeri tetangga:
Siri-Sori Serani, Ulath, Ouw,
atau ke kota Saparua.
Kita menjual ikan tangkapan papa—
terkadang semuanya terbeli,
terkadang tak seekor pun laku.
Tapi ibu tetap tersenyum,
seolah mengajarkan bahwa harapan
adalah doa yang tak perlu suara.

<<4>>
Ibuku…
engkau bukan sekadar ibu,
engkau adalah guru,
penjaga moral dalam jiwaku.
Meski engkau tak mengenal kata-kata dan jargon besar,
sikap dan lembut kasihmu
menjadi semesta yang membentukku.
Engkau melukis cinta dengan tindakan,
mengajariku bahwa nilai hidup
tak perlu aksara,
hanya hati yang tulus.

Terima kasih, ibu…
doamu masih kupinta,
ridhomu tetap kunanti.
Karena aku tahu,
tanpamu aku takkan mampu
menggapai ridha Ilahi.

Suara azan memanggil,
suara itu mengingatkanku
untuk bersujud,
menunduk pada Yang Maha Kuasa,
dengan hati yang dipenuhi cinta untukmu ibuku.

Kebun Cengkeh, Ambon, Desember 2024
————————————-
*Penulis adalah Pimpinan Yayasan Sombar Negeri Maluku

/9/

Aku Perempuan

Oleh Mutiara Rimba

(Komunitas PPIPM: Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat; Satu Pena Sumbar)

Adakah aku perempuan—
dipertanyakan keberadaannya
di ruang-ruang gelap,
meniti langkah tanpa jejak,
seolah maknaku tak pernah tercatat?

Adakah aku perempuan
yang nilainya terbuang,
seperti bonteng tersisih dari neraca?
Mengapa?
Bukankah engkau hadir
karena nafas seorang perempuan?

Dalam pangkuan kami,
bianglala pernah kau lihat,
indah dan megah.
Namun kini, kemana kau letakkan
nama Siti Manggopoh?
Bagaimana dengan Cut Nyak Dien,
dan Kartini yang kau puja dalam sejarah?
Atau Nusaibah binti Kaab,
yang kau singkirkan dari cerita?

Janganlah menjadi munafik.
Jika kau lemah,
jangan tindih kami hingga remuk.
Kau tumbuh dari isapan ASI kami,
kau lahir dari rahim yang tak pernah letih.
Jika masih ingin berpenerus,
sadarlah, kami adalah awal dan akhirmu.

Tahun berganti,
dunia berevolusi,
dan aku tetap ada—
sebuah nama yang takkan kau tenggelamkan.
Aku adalah perempuan
yang akan kau akui,
bukan sebagai bayang-bayang,
tapi sebagai cahaya.

Payakumbuh, Sumbar,
2 Desember 2024
————————————–
*Penulis merupakan penerima penghargaan The Best Poetry Competition Sumbar Talenta Indonesia ke-16 tahun 2024. Saat ini ia seorang mahasiswa di Sumbar dan tergabung di IBMI (Ikatan Bikers Minang Indonesia), anggota FSM (Forum Siti Manggopoh).