Perjuangan Dapur Gizi di Tanimbar: Leli Suarni Dorong Dukungan Pemerintah Pusat
Oleh: joko
Program Makan Bergizi Gratis Resmi Berjalan di Kepulauan Tanimbar, Leli Suarni: “Anak-Anak Tanimbar Berhak Nikmati Makan Bergizi Gratis”
Dari Ambon ke Tanimbar: Tantangan Transportasi dan Gizi Anak Sekolah
Ketua Yayasan Pelita Ibu Bangsa minta pemerintah pusat naikkan dana untuk Maluku Tenggara Raya, tantangan distribusi bahan pangan dan buah-buahan jadi sorotan di Tanimbar.
Perjuangan Panjang Hadirkan Dapur Gizi di Tanimbar
http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki, 15 September 2025 –Badan Gizi Nasional melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Pelita Ibu Bangsa resmi hadir di Jl. Ir. Soekarno No. 72, Kota Saumlaki, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Setelah delapan bulan penuh persiapan yang melelahkan, dapur bergizi pertama di Kabupaten Kepulauan Tanimbar akhirnya resmi beroperasi. Dapur ini menjadi bagian dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden untuk anak sekolah dan kelompok rentan.
Leli Suarni, Ketua Yayasan Pelita Ibu Bangsa yang menjadi mitra Badan Gizi Nasional (BGN), mengungkapkan betapa beratnya perjuangan menghadirkan layanan ini di daerah terpencil.
“Transportasi cukup mahal, bahan pangan terbatas. Buah-buahan harus dipasok dari Ambon. Jika cuaca buruk, distribusinya terhambat,” ujarnya saat ditemui media ini di Saumlaki.
Harga Bahan Pangan Tak Seimbang dengan Kondisi Lapangan
Menurut Leli, harga yang ditetapkan pemerintah pusat untuk Kepulauan Tanimbar, Maluku Barat Daya, Kepulauan Aru, dan Tual hampir sama dengan kota Ambon. Padahal, biaya transportasi ke wilayah kepulauan jauh lebih tinggi.
“Kami berharap pemerintah pusat menaikkan alokasi dana. Bahan baku di sini jauh lebih mahal. Seperti di Papua, ada kabupaten yang harganya Rp48.000 karena harus diangkut pesawat. Di sini, kami memasak dengan harga Rp10.000–Rp15.000 per porsi, termasuk gaji karyawan, gas, dan listrik,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebagai mitra, yayasan hanya menyediakan tempat, peralatan, dan kendaraan. Manajemen dapur sepenuhnya ditangani oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelola tenaga profesional dididik Universitas Pertahanan (UNHAN) dan dilantik oleh Presiden.
“Yang mengatur menu, takaran gizi, dan penggunaan dana adalah kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan dari pusat,” tambahnya.
Dampak Ekonomi Lokal Mulai Terasa
Program MBG di Tanimbar kini melayani lebih dari 2.000 porsi per hari dan menargetkan 3.650 porsi untuk siswa SD negeri, SD Inpres, SD Don Bosco, SMP, SMA, ibu hamil, dan menyusui.
Sebanyak 50 tenaga kerja lokal direkrut untuk mendukung dapur ini. “Kami tidak mengambil tenaga kerja dari luar. Mereka dibayar Rp.120.000,- perhari oleh BGN, dibayarkan setiap dua minggu,” kata Leli.
Selain meningkatkan gizi anak sekolah, program ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. “Kami sudah bekerja sama dengan petani sayur dan pemasok ikan serta ayam di sekitar sini. Dampaknya besar, petani dan pemasok mendapat penghasilan tambahan,” ungkapnya.
Harapan untuk Dukungan Pemda dan Masyarakat
Leli berharap pemerintah daerah turut mendorong petani lokal menyediakan sayuran dan ayam segar agar dapur bergizi berjalan lancar.
“Ini program besar Presiden untuk masa depan anak-anak menuju Indonesia Emas. Antusias anak-anak untuk sekolah meningkat, hampir tidak ada yang libur. Kami berharap pemerintah daerah dan masyarakat bersatu mendukung program ini,” ujarnya.
Ia juga meminta media turut mengawal dan melindungi anak-anak Tanimbar. “Kami butuh kerja sama media agar anak-anak kita aman, terhindar dari masalah alergi atau kendala lainnya. Ini perjuangan bersama,” pungkas Leli mengakhiri.