Pimpin Apel Pagi Perdana, Kepala MAN Kota Sawahlunto Hembuskan Angin Edukasi dan Karakter
–
SAWAHLUNTO — Mentari baru tak hanya menyinari lembah dan perbukitan Sawahlunto, tapi juga menyentuh relung jiwa para pelajar MAN Kota Sawahlunto. Rabu pagi, 16 Juli 2025, suasana halaman madrasah menjadi saksi bisu ketika Dafril, Tuanku Bandaro, dalam perannya yang baru sebagai Kepala MAN Kota Sawahlunto, menyemai embun nilai dan hikmah dalam apel pagi bersama siswa kelas X, XI, dan XII.
Hari itu adalah hari ketiganya menjabat, namun keteduhan tutur katanya seolah telah lama dikenal. Dalam waktu yang singkat—tujuh menit yang bermakna ia tak hanya berdiri sebagai pemimpin administratif, tetapi tampil sebagai penyemai karakter dan cahaya budi pekerti.
“Jaga dirimu. Jaga akhlakmu. Disiplin adalah jembatan emas. Semangat belajar itu cahaya yang menuntunmu ke masa depan,” ucap Dafril dalam narasi yang menyentuh kalbu.
Dengan tutur lembut namun tegas, ia mengajak para siswa untuk menapaki hari-hari belajar dengan integritas, semangat, dan adab. Ia tak menarasikan perintah, melainkan menanamkan kesadaran—bahwa pendidikan bukan sekadar soal angka dan ijazah, tapi soal jati diri dan cahaya hidup.
Dan saat pantun-pantun dilantunkan, suasana berubah menjadi lebih hangat, lebih bersahabat, lebih manusiawi. Empat pantun edukatif mengalir dari bibir sang Kepala Madrasah, menggugah tawa kecil sekaligus renungan mendalam para siswa:
Naik kereta ke Kota Lama,
Jangan lupa membawa bekal.
Belajarlah dengan jiwa mulia,
Agar hidupmu jadi terarah dan kekal.
Pagi cerah burung berkicau,
Daun-daun menari ditiup bayu.
Rajin belajar jangan risau,
Ilmu menuntun hingga waktu berlalu.
Menyulam kain benang sutera,
Indah dipakai di pagi raya.
Sopan santun dan kata bicara,
Cermin hati, cermin jiwa.
Pergi ke pasar beli rempah,
Jangan lupa beli cengkeh.
Anak madrasah berakhlak indah,
Insya Allah hidupnya berkah.
Pantun-pantun itu tak sekadar hiburan. Ia adalah jembatan hati, cara seorang pemimpin menyentuh anak-anak didiknya tanpa ceramah panjang, namun membekas dalam kesadaran.
Sambutan meriah pun datang dari para siswa. Tepuk tangan bergema, bukan karena formalitas, tapi karena rasa senang dan bangga—bahwa pemimpin baru mereka bukan hanya datang membawa kebijakan, tapi juga membawa embun kesejukan jiwa.
Dengan apel pagi ini, MAN Kota Sawahlunto seperti memulai halaman baru. Bukan dengan gegap gempita, melainkan dengan kebeningan nilai, kesantunan pemikiran, dan ketegasan karakter.
“Ini bukan sekadar pidato apel, ini adalah peristiwa batin. Pagi yang tak akan mudah dilupakan,” ungkap salah satu guru yang turut hadir.
Semoga ini menjadi awal dari serangkaian pagi-pagi hebat berikutnya, di mana pemimpin dan murid bersatu dalam cahaya ilmu dan akhlak.
Kontributor: Nofri Hendra
Editor: DTB