Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Presiden RI Mulai Kehilangan Arah Di Persimpangan Kekuasaan?

Anekdot dan Opini

Oleh Tb Mhd Arief Hendrawan

Jakarta, Suaraanaknegerinews.com,- Ada yang berubah dari Prabowo Subianto.
Nada suaranya kini justru terdengar semakin lantang, tapi bukan karena keberanian—melainkan karena kepatuhan.

Ucapannya tak lagi ditimbang dengan hati-hati, gesturnya memang tetap tegas, tapi arah ketegasan itu telah bergeser. Dari seorang jenderal yang dulu berdiri menantang ketidakadilan, ia kini tampak lebih seperti pengawal bagi presiden yang pernah dua kali ia hadapi di gelanggang politik, Joko Widodo.

Pernyataan Prabowo baru-baru ini tentang akan “menyelesaikan sendiri” urusan warisan pemerintahan Jokowi terdengar janggal. Ia seolah hendak mengambil alih tanggung jawab moral sekaligus membentengi Jokowi dari gelombang kritik publik.

Padahal, yang sedang dipersoalkan rakyat bukan soal siapa yang berbicara, tetapi uang siapa yang dipakai.

“Jangan pakai APBN. Jangan memakai uang rakyat,” seruan dari lubuk hati nurani rakyat itu menggema ke seluruh negeri. Publik ingin tahu apakah proyek-proyek yang diklaim sebagai simbol kemajuan—seperti kereta cepat Whoosh—benar-benar pantas dibiayai dengan keringat mereka, atau justru sekadar proyek gengsi yang menumpuk utang dan menambah beban generasi mendatang.

Sikap Prabowo kali ini tampak seperti seseorang yang sedang tersandera oleh loyalitas. Ia yang dulu gagah mengibarkan semangat kemandirian kini seperti kehilangan arah di persimpangan kekuasaan. Ia ingin tampil sebagai negarawan, tapi malah terlihat sebagai bemper politik: melindungi, bukan mengoreksi; menutupi, bukan menuntut kejelasan.

Padahal, demokrasi memberi ruang bagi rakyat untuk berbicara—untuk menuntut penjelasan atas setiap rupiah yang diambil dari dompet mereka. Membungkam opini publik dengan dalih stabilitas hanyalah cara halus untuk mematikan akuntabilitas.

Prabowo mestinya tahu, tanggung jawab tidak sama dengan pembelaan. Seorang pemimpin sejati berdiri di atas kebenaran, bukan di bawah bayang-bayang kekuasaan yang telah lewat. Jika ia ingin menuntaskan warisan pemerintahan sebelumnya, biarlah itu dilakukan dengan transparan, tanpa membebani rakyat, tanpa mengulang kesalahan yang sama.

Negeri ini sudah terlalu lama kehilangan figur yang berani berkata jujur di tengah hiruk-pikuk kekuasaan. Prabowo masih punya kesempatan untuk membuktikan bahwa keberaniannya bukan sekadar kenangan masa lalu. Tapi untuk itu, ia harus berani menanggalkan baju bemper, dan kembali mengenakan jubah kesatria.

Karena di atas rel cepat bernama Whoosh, rakyat tidak butuh presiden yang sekadar bisa melaju — mereka butuh pemimpin yang tahu kapan harus berhenti.