Rasa yang Menjembatani Karya: Catatan Awal ke 4 atas Sun-Shattering Mythology of Tanimbar
Rasa Syukur yang Menjadi Jembatan Karya
Refleksi atas Halaman Pengakuan (Acknowledgments)
Oleh Yusuf Achmad – Bilintention
Refleksi syukur sebagai jembatan spiritual dan intelektual dalam karya Prof. Pangemanan tentang mitologi Tanimbar. Dalam dunia literasi dan spiritualitas, halaman pengakuan sering kali dianggap pelengkap. Namun dalam karya Sun-Shattering Mythology of Tanimbar, halaman itu justru menjadi jantung narasi. Saya-Yusuf Achmad, penulis dan kurator literasi, menafsirkan bagian ini sebagai ruang syukur yang bukan hanya etis, tetapi transenden. Ia mengajak kita melihat bahwa setiap karya besar lahir dari perjumpaan, dari relasi yang tulus, dan dari keberanian untuk mendengarkan. Tulisan ini bukan sekadar refleksi, tetapi undangan untuk membaca dengan hati yang terbuka.
Dalam setiap karya yang lahir dari perenungan mendalam, selalu ada jejak orang-orang yang menjadi lentera di sepanjang jalan. Halaman-halaman pengakuan dalam buku ini bukan sekadar daftar nama, melainkan tanda-tanda kasih yang membentuk wajah spiritual dari karya ini.
Prof. Frits H. Pangemanan menyebut nama-nama dengan penuh hormat dan kehangatan. Dari Mina M. Ramirez, Ph.D., yang menjadi penopang intelektual sejak masa disertasi, hingga Uskup Amboina, Msgr. Seno Inno Ngutra, Pr., yang dengan kemurahan hati menulis kata pengantar khusus. Di sini, saya melihat bahwa karya ini bukan hanya milik penulisnya, tetapi milik komunitas yang telah mempercayakan narasi mereka untuk ditulis dengan cinta.
Nama-nama seperti Msgr. P. C. Mandagi, S.C., Jesus E. Dacillo, Ph.D., dan Prof. Remedios Nalundasan-Abijan, Ph.D., hadir sebagai penjaga spiritual dan akademik. Mereka bukan hanya pemberi izin atau dukungan administratif, tetapi penjaga gerbang makna, yang memastikan bahwa karya ini tetap setia pada nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas.
Saya terharu membaca bagaimana Prof. Pangemanan menyebut para peneliti lapangan dan informan lokal di Tanimbar. Ia tidak menyebut mereka sebagai “subjek penelitian,” tetapi sebagai rekan seperjalanan. Dalam penyebutan nama-nama seperti Prof. Felipe Mendoza de Leon, Prof. Maria Teresa Gustilo-Villasor, dan Evelyn Magnata, saya melihat bahwa ilmu pengetahuan yang sejati lahir dari relasi, bukan dominasi.
Bagian ini mengingatkan saya bahwa rasa syukur bukanlah pelengkap, tetapi inti dari proses kreatif. Ia adalah pengakuan bahwa kita tidak pernah berjalan sendiri. Bahwa setiap kata yang kita tulis adalah hasil dari perjumpaan, dari doa yang diam-diam dipanjatkan oleh orang lain, dari tangan yang membantu tanpa pamrih.
Sebagai penulis yang juga sedang menapaki jalan literasi dan spiritualitas, saya belajar bahwa mengucap terima kasih bukan hanya etika, tetapi praktik transendensi. Ia menghubungkan kita dengan yang ilahi, dengan yang tak terlihat, namun nyata dalam setiap langkah kita.
Melalui catatan ini, sekali lagi saya, Yusuf Achmad mengingatkan kita bahwa pengetahuan sejati tidak lahir dari dominasi, melainkan dari kerendahan hati. Bahwa dalam setiap nama yang disebut, dalam setiap ucapan terima kasih, tersimpan wajah spiritual dari sebuah karya. Ia mengajak kita untuk menulis bukan sebagai penguasa narasi, tetapi sebagai saksi yang menjaga makna, merawat luka, dan menyambung harapan. Sebuah pelajaran penting bagi siapa pun yang menapaki jalan literasi dan kebudayaan.