RACUN MENUJU SURGA
Penulis : Ririe Aiko
–
Puisi esai ini di dramatisasi dari kasus seorang ibu gantung diri di Pinrang, Sulawesi Selatan. Sebelum gantung diri, wanita itu meracuni kedua putranya hingga tewas.
Di balik jendela yang buram, rembulan enggan bersinar.
Angin berbisik di sela genting, membawa keluh kesah yang tak terdengar.
Di dalam kamar sempit itu, seorang ibu terpekur,
Mengaduk takdirnya dalam secangkir racun.
Malam pun menangis
Tak tega menyaksikan jiwa-jiwa nestapa.
Yang terpaksa meregang nyawa
Demi hutang orangtua
Di dalam rumah mungil itu,
Seorang Ibu, duduk dalam gulita, menghitung waktu.
Di genggamannya, selembar kertas lusuh,
Berisi angka-angka yang mencekik.
Utang adalah belenggu yang merayap,
Menjerat lehernya lebih erat dari seutas tali.
Sementara anak-anaknya tertidur lelap,
Dengan wajah suci
Tak tahu bahwa malam ini,
ibu akan mengakhiri hidupnya.
Ponsel di tangannya ia raih,
sebuah rekaman suara dikirim sebagai pesan terakhir
untuk suaminya tercinta.
“Anak-anak kita sudah ku kirimkan ke Surga”
Lalu ia berbalik, menatap dua buah hatinya.
Darahnya, Nyawanya,
Dengan tega, ia kembalikan pada pelukan semesta.
—-
Di atas meja, dua gelas kecil tersaji.
Kedua buah hati meneguk tanpa curiga
Seketika hati sang ibu berbisik, aku bukanlah pembunuh
Aku hanya seorang ibu,
Yang tak ingin meninggalkan kalian di dunia yang keji.
Hatinya hancur berkeping,
Tapi di matanya, ini adalah peluang.
Untuk terbebas dari jerat hutang
Si sulung tersenyum mengantuk,
Si bungsu menguap pelan.
Tak tahu bahwa cairan di bibir mereka,
Bukan lagi susu ibu,
Tapi pahitnya kenyataan mematikan.
Tangannya gemetar saat menyeka keringat si kecil,
Mencium ubun-ubun mereka yang mulai dingin.
Air matanya jatuh, merayapi pipi anak-anaknya,
Meninggalkan jejak luka yang tak terlihat.
Lalu, keheningan mulai membuat pikirannya berantakan.
Dua tubuh mungil tak lagi bergerak.
Wajah kecil penuh tawa,
Kini membiru tak bernyawa.(1)
Si ibu tersenyum seolah menyaksikan
Malaikat kecilnya menuju surga
—-
Subuh belum datang, tapi ia sudah siap.
Seutas tali tergantung di langit-langit,
Dengan gagah berani ia mulai menaiki kursi kayu,
Mencoba merasakan maut yang sama seperti buah hatinya
Di matanya, terpampang bayangan anak-anaknya,
Berlari dalam cahaya,
Melewati batas dunia yang fana.
Ia hembuskan nafas terakhirnya.
Angin berhenti berbisik.
Dinding rumah menjadi saksi.
Tubuhnya terayun perlahan,
Seperti ingin merangkul angin,
Seperti ingin melepas beban yang tak tertanggungkan.
Lalu, ia melangkah ke dalam kekosongan.
Anak-anaknya menari menuju surga
Tapi si ibu terseret ke Neraka
Ibu tak menyesal, meski karma kematian
Menghukum dosanya jutaan kali
CATATAN:
(1)https://www.detik.com/sulsel/berita/d-6301198/miris-2-anak-di-pinrang-dibunuh-ibu-kandungnya-yang-terlilit-utang