April 20, 2026

Laporan Paulus Laratmase

Umat Paroki Santa Maria Biak, Provinsi Papua sejak sore, tanggal 19 April 2025 mulai berdatangan mengikuti Misa Vigili Paskah. Jam 18.30 tepat Romo Laurentius Purwanto SCJ dan para petugas liturgi sudah berada di halaman gereja memulai prosesi “Upacara Cahaya” yang didahului denga pemberkatan api baru, pemberkatan lilin paskah dan perarakan lilin paskah menuju gereja.

Upacara Cahaya

Setelah menancapkan  lilin lilin paskah pada tempatnya dan didupai, dimulai “Pujian Paskah, Liturgi Paskah yang dimulai dari kisah penciptaan sampai bacaan Injil Lukas 24:1-12.

Berikut, refleksi Vigili Paskah oleh Romo Laurentius Purwanto SCJ yang kiranya menjadi permenungan seluruh umat Paroki Santa Maria Biak dalam memaknai “Paskah Kristus.”

Refleksi Vigili Paskah

Romo Laurentius Purwanto SCJ

Vigili Paskah adalah malam penuh makna, saat Gereja merayakan karya keselamatan Allah yang berpuncak pada kebangkitan Yesus Kristus. Bacaan-bacaan dalam liturgi malam ini membawa kita pada perjalanan panjang umat Allah—dari perbudakan menuju pembebasan, dari keterasingan menuju pengampunan, dan dari kematian menuju hidup kekal. Ini bukan sekadar kisah lama, tetapi undangan bagi kita semua untuk masuk ke dalam kisah penyelamatan yang masih terus berlangsung.

Bacaan pertama dari Kitab Keluaran mengingatkan kita akan kuasa Allah yang membebaskan. Ketika bangsa Israel terjepit antara Laut Merah dan pasukan Firaun, Tuhan bertindak secara ajaib. Air terbelah, tanah menjadi kering, dan umat-Nya melangkah dengan iman di antara tembok air. Ketika orang Mesir mencoba mengikuti, mereka ditelan oleh air yang berbalik. Di sini kita melihat bahwa Allah bukan hanya menyelamatkan, tetapi juga menegaskan bahwa Dialah Allah yang berperang bagi umat-Nya.

https://youtu.be/_nrj4w2-tnI

Lalu, bacaan dari Nabi Yesaya memperlihatkan wajah Allah yang penuh kasih setia. Sekalipun umat-Nya telah berdosa dan menjauh, Allah tidak tinggal diam. Dia berkata, “Hanya sesaat lamanya Aku meninggalkan engkau, tetapi karena kasih sayang yang besar Aku mengambil engkau kembali.” Ini adalah kasih yang tidak tergoyahkan, seperti gunung yang tetap berdiri. Allah tidak hanya membebaskan secara fisik, tapi juga memulihkan hati umat-Nya.

Yesaya 55 kemudian mengajak kita untuk datang dan menerima anugerah Allah tanpa bayar. “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air…” Allah menawarkan kehidupan sejati kepada siapa pun yang bersedia mendengarkan dan bertobat. Rencana Allah lebih tinggi dari rencana manusia, dan Firman-Nya tidak akan kembali sia-sia.

Kitab Barukh menegaskan kembali pentingnya kebijaksanaan dan hukum Allah. Kehidupan sejati ada dalam persekutuan dengan Allah dan berpegang pada firman-Nya. Kehidupan di tanah asing dan dalam penderitaan terjadi ketika umat meninggalkan sumber kebijaksanaan itu.

Yehezkiel lalu menyampaikan janji pembaruan. Allah tidak hanya akan mengembalikan umat-Nya ke tanah perjanjian, tetapi akan memberi mereka hati yang baru dan roh yang taat. Ini menunjuk pada pembaruan batiniah, yang digenapi dalam baptisan dan hidup baru dalam Kristus.

Puncaknya ada pada bacaan Injil dari Lukas. Kubur yang kosong menjadi tanda bahwa kuasa dosa dan maut telah dikalahkan. Yesus telah bangkit! Para wanita yang setia menjadi saksi pertama, meski awalnya tidak dipercaya. Namun berita ini mengubah dunia. Kebangkitan Kristus adalah bukti bahwa Allah setia pada janji-Nya dan bahwa kehidupan baru tersedia bagi siapa pun yang percaya.

Dari peristiwa Laut Merah hingga kebangkitan, satu benang merah menghubungkan semuanya: kasih setia Allah yang tak pernah berubah. Ia membebaskan, mengampuni, memperbarui, dan menghidupkan. Vigili Paskah bukan hanya perayaan sejarah, tetapi undangan untuk hidup dalam terang kebangkitan.

Hari ini, kita diajak merenungkan: apakah kita hidup sebagai orang yang sudah dibebaskan? Apakah kita masih tinggal dalam kegelapan ketakutan dan dosa, ataukah kita sudah melangkah ke dalam terang kehidupan baru dalam Kristus?

Mari kita buka hati bagi kuasa kebangkitan itu. Seperti umat Israel yang melangkah di tanah kering, seperti mereka yang haus yang datang minum, seperti hati yang diperbarui oleh Roh Kudus—kita pun dipanggil untuk hidup sebagai umat Paskah: umat yang telah melewati kegelapan dan kini hidup dalam terang. Melalui permandian kita disatukan dengan Tubuh Kristus, dalam keberdosaan kita, kita mati dan dikuburkan bersama Kristus, dan dengan kebangkitan Kristus, kita diangkat menjadi Satu Tubuh dalah Wadah Gereja Katolik yang Satu, Kudus dan Apostolik. Karena melalui pewartaan iman para rasasul itulah kita diselamatkan dalam dan melalui sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus.

“Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit!” adalah pekik kemenangan yang menggetarkan alam semesta. Semoga setiap langkah hidup kita mencerminkan sukacita dan harapan dari kebangkitan itu.

Selamat Vigili Paskah. Kristus telah bangkit! Alleluia!