May 7, 2026

September Penuh Anugerah: Esthi Susathi Hudiono Raih Dua Penghargaan Bergengsi

Laporan ini ditulis oleh Paulus Laratmase.

Sidoarjo, September 2025 – Bulan September menjadi bulan penuh anugerah bagi Esthi Susathi Hudiono. Ia meraih Juara 3 dalam lomba esai heritage di Sidoarjo dengan karyanya berjudul “Belajar dari Industri Batik Sidoarjo.” Capaian ini tidak hanya memperkuat kiprahnya sebagai penulis, tetapi juga membuka ruang refleksi atas keterlibatannya dalam dunia kebudayaan dan feminisme.

Tulisan tersebut lahir berkat stimulus riset awal dari Mbak Fara Hita. Esthi kemudian mendukung dan melibatkan diri secara penuh dalam isu batik, hingga berhasil menyusun esai yang menyentuh tema heritage dengan perspektif segar. Meski lomba berformat untuk anak muda dan individu, ia memaknainya sebagai tantangan yang menuntut dedikasi penuh serta kesetiaan pada etika dan moral.

Yang mengejutkan bagi Esthi, batik ternyata tidak sekadar karya seni atau tradisi, melainkan juga berkaitan dengan studi feminisme. Industri batik dipandang sebagai perpanjangan dari ruang domestik perempuan sekaligus medium penting dalam pembentukan identitas keindonesiaan. Temuan itu memperluas wawasannya dan memberi warna baru dalam perjalanan intelektualnya.

Dalam persaingan lomba, capaian Juara 3 yang diraih Esthi sangatlah berarti. Ia hanya terpaut satu angka dari juara 2 dan lima angka dari juara 1. Juara pertama adalah mahasiswa S-2 sejarah UGM yang menulis tentang sejarah kesehatan di masa revolusi, sementara juara kedua menulis tradisi ruwat di kampung halamannya. Esthi sendiri baru mulai mendalami isu batik Sidoarjo sejak Mei 2025, bahkan bukan berasal dari daerah tersebut. “Bagi saya, capaian ini adalah tantangan sekaligus latihan untuk menundukkan ego yang fana,” katanya.

Prestasi Esthi tidak berhenti di Sidoarjo. Di Konferensi Kartini, ia kembali menorehkan capaian penting. Ia masuk dalam panel feminis senior, mendapat kesempatan berbicara mengenai arah kerja akademiknya, dan presentasinya berjudul “Feminisme Toeti Heraty dari Perspektif Sejarah” ditetapkan sebagai Juara 3 presenter terbaik.

Bagi Esthi, hadiah terbesar dari konferensi tersebut adalah lahirnya dialektika dengan para pemikir dan presenter lain. Pertemuan itu menumbuhkan gagasan baru untuk menulis buku lintas disiplin mengenai dialog agama dan feminisme. Ia mengakui bahwa bidang ini sangat peka dan penuh tantangan, tetapi diyakini relevan dan dibutuhkan oleh Indonesia saat ini.

Ia menegaskan, ruang pionir pembaruan yang digarapnya secara teoritis memang ibarat lahan gersang untuk memperoleh nafkah. Namun, panggilan hati mendorongnya untuk terus menyuburkannya. Karena itu, kemenangan di lomba esai heritage bukan hanya penghargaan semata, tetapi juga jalan praktis untuk menopang hidup sekaligus bukti nyata penyertaan Tuhan.

Meski demikian, perjuangannya tidak lepas dari kendala teknis. Laptop yang tak bisa menampilkan angka “1” membuatnya repot, ditambah belum bisa mengoperasikan PowerPoint maupun mengatur backdrop presentasi. Namun, keterbatasan itu tidak membuatnya patah semangat. Ia tetap melangkah dengan meminta bantuan anak-anak muda di sekitarnya.

“Menang atau kalah bukan inti. Yang terpenting adalah proses yang menghadirkan pertumbuhan spiritual,” ungkap Esthi. Dengan semangat itu, ia menegaskan bahwa anugerah sesungguhnya bukan semata piala atau gelar, melainkan kesempatan untuk terus bertumbuh, melibatkan diri, dan menyebarkan inspirasi.