April 22, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

kekasih, di malam yang sepi ini kutulis lagi
sebait rindu yang tak mengenal pagi
dalam denting sunyi yang meluruhkan hati
namamu kembali mengalun di tepi mimpi

dulu, di bawah langit penuh cahaya
aku pernah menuliskan kata-kata bahagia
pada secarik kertas yang kutitip angin
berharap kau akan membaca dengan segenap kehangatan

kisah kita, sayang, bagai hujan yang ragu
turun perlahan, lalu menguap sebelum menyatu
seperti mawar yang mekar di batas senja
indah, namun tak sempat dipetik cinta

aku masih ingat, saat pertama kita berjumpa
tatapanmu bagai bintang yang tak bisa kugapai
senyummu menyelinap di sela-sela dada
menjadikanku tawanan dalam penjara angan-angan

aku menulis surat, lembar demi lembar
tentang semua perasaan yang tak bisa kugelar
tentang namamu yang kusemat di jantung waktu
tentang rinduku yang tak pernah jemu

kusisipkan bait-bait cinta di antara huruf
namun tak pernah sampai ke tanganmu
mungkin takdir telah memilih jalan lain
atau semesta memang ingin aku merindu tanpa ujung

surat ini terus kugoreskan
seiring angin yang membawa keluhan
kata demi kata merintih dalam diam
sebab kau tak pernah menjawab salam

ah, kekasih, bagaimana kabarmu hari ini?
apakah matamu masih menyimpan langit senja?
adakah kau ingat seseorang yang pernah menunggumu?
atau namaku telah larut dalam hujan yang hilang jejaknya?

malam demi malam kulipat sunyi
menjadi untaian kata yang kuabadikan di hati
tapi jika kau tak pernah menjawab rinduku
biarlah cinta ini tetap bersemayam dalam pilu

dan jika surat ini tak pernah kau baca
aku takkan mengutuk takdir yang terlalu sunyi
karena mencintaimu, meski dalam diam
adalah bahagia yang tak butuh balasan

maka biarkan surat ini menghilang di angin
menjadi nyanyian tanpa pendengar
menjadi puisi tanpa pembaca
menjadi cinta yang abadi dalam kesepian

Padang, 29 Maret 2025.