Tarian “Myama Tawahuk” dan “Soumane” Guncang Peringatan HUT Pattimura ke-208 di Biak: Semangat Juang dan Cinta Budaya Tanimbar Masih Membara di Tanah Papua
Laporan Paulus Laratmase
–
Biak, Papua — Suara Anak Negeri News.Com,- Suasana penuh semangat, haru, dan kegembiraan menyelimuti Lapangan Ridge II Sospol Biak saat peringatan Hari Ulang Tahun ke-208 Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura digelar dengan penuh khidmat dan budaya, Jumat, 23 Mei 2025. Acara puncak yang dipimpin langsung oleh para Upulatu dari Biak dan Supiori itu menampilkan dua tarian khas dari Kepulauan Tanimbar, Maluku, yakni “Myama Tawahuk” dan “Soumane”, yang berhasil memukau ratusan penonton yang hadir.

Di bawah arahan dan koreografi Netty Oratmangun, seorang perempuan tangguh dari Koratutul, Kecamatan Larat, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, kedua tarian ini bukan sekadar hiburan. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan semangat perjuangan masa lalu dengan realitas kehidupan masyarakat Maluku di perantauan—khususnya para pemuda-pemudi Tanimbar yang kini menetap di Kabupaten Biak Numfor dan Supiori, Papua.
“Myama Tawahuk”: Gairah Kemenangan dan Semangat Kemerdekaan
Tarian pertama yang ditampilkan adalah “Myama Tawahuk” yang memiliki arti “Mari Bergembira Ria.” Tarian ini menggambarkan semangat kegembiraan masyarakat atas keberhasilan perjuangan, khususnya dalam konteks heroisme Kapitan Pattimura—pahlawan besar dari tanah Maluku yang gugur demi kemerdekaan bangsa Indonesia.

Syair dan irama lagu “Myama Tawahuk” diawali dengan tempo lambat, menghadirkan nuansa reflektif dan penuh penghormatan terhadap perjuangan para leluhur. Namun seiring waktu, gerakan para penari mulai dinamis, diiringi sorakan “Tore! Ria!” sebagai lambang puncak kegembiraan. Gerakan kaki dan lambaian tangan para gadis Tanimbar yang menari dengan busana adat, menggambarkan sorak sorai kemenangan atas penjajahan dan kebangkitan bangsa.
Tarian ini menjadi bentuk penghormatan kepada Kapitan Pattimura, yang tidak hanya menjadi simbol heroik masyarakat Maluku, tetapi juga menjadi inspirasi nasional akan arti perjuangan, harga diri, dan kemerdekaan.

“Soumane”: Romansa Budaya dalam Bingkai Cinta dan Perjuangan
Selanjutnya tampil tarian “Soumane”, lagu rakyat dari masyarakat adat Tanimbar yang mengangkat kisah pergaulan remaja yang saling berbalas pantun. Lewat pantun-pantun itu, tersirat harapan akan hadirnya cinta sejati—bukan sekadar romansa biasa, tetapi cinta yang dilambangkan dengan Bunga Ros, simbol ketulusan, kesetiaan, dan pengorbanan.
Menariknya, tarian “Soumane” tidak hanya bicara soal kasih antar muda-mudi, tapi juga mengangkat cinta kolektif masyarakat Maluku terhadap perjuangan dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh Kapitan Pattimura. Bunga Ros dalam tarian ini adalah metafora atas pemberian diri sepenuh hati untuk bangsa dan tanah air.
“Bunga Ros adalah wujud kegembiraan Masyarakat Maluku dalam mencintai bangsanya. Ini adalah bentuk cinta terhadap perjuangan, terhadap kemerdekaan, terhadap nilai-nilai luhur sebagai manusia Indonesia,” jelas Netty Oratmangun usai pertunjukan.
Upulatu Biak dan Supiori Hadir dalam Sukacita Budaya
Puncak peringatan HUT Pattimura ini juga dihadiri oleh para tokoh penting daerah. Hadir Upulatu Biak Numfor Markus Mansnembra, SH., M.M, Upulatu Supiori Heronimus Mansoben, S.I.P, serta Drs. Sahrul Hasanudin Nunsi, M.Si. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa budaya bukan hanya milik masa lalu, tapi bagian dari pembangunan masa depan.
Tak ketinggalan, Ketua PERMATA (Persekutuan Masyarakat Tanimbar) Kabupaten Biak Numfor dan Supiori, John Amboki, SE., M.H, memberikan apresiasi mendalam atas penampilan para pemuda-pemudi Tanimbar. Ia menegaskan bahwa meskipun hidup jauh dari kampung halaman, identitas budaya masih terjaga dengan kuat.

“Penampilan tarian Tanimbar yang mendominasi HUT Pattimura ke-208 ini menunjukkan bahwa budaya Tanimbar masih hidup di hati generasi muda, walaupun mereka hidup di perantauan. Ini juga bukti bahwa nilai-nilai perjuangan Kapitan Pattimura tetap relevan dan membakar semangat kita semua,” ujarnya.
Tore! Tore! Semangat Tak Pernah Padam
Acara ditutup dengan “Tore”—sebuah goyangan khas dalam tarian Tanimbar yang dilakukan bersama para tamu dan undangan. Goyangan ini menjadi simbol semangat yang terus menyala, semangat membangun Biak Numfor dan Supiori dalam semangat Pattimura, semangat Maluku, dan semangat Indonesia.
Di Tanah Papua, jauh dari Maluku, para pemuda Tanimbar membuktikan bahwa budaya bukan hanya tentang tempat asal, tapi tentang identitas, semangat, dan cinta yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dan pada hari itu, semangat itu digemakan—Tore! Ria! Tore!—hingga langit Biak pun menyambutnya dengan suka cita.