Martir yang Menandatangani Sejarah dengan Darah Cahaya: Membaca Puisi “A Martyr” karya Abdel Latif Mubarak sebagai Kitab Luka Kemanusiaan
Oleh: Rizal Tanjung
—
Di setiap zaman yang diguncang perang, penjajahan, pengkhianatan, dan pasar-pasar kekuasaan yang memperjualbelikan nyawa manusia seperti ternak, selalu lahir penyair—bukan sebagai penghibur luka, tetapi sebagai saksi api sejarah. Mereka menulis bukan dengan tinta, melainkan dengan tulang belulang generasi yang hancur.
Dan dari Mesir—negeri para piramida yang sejak ribuan tahun lalu menyimpan jasad para raja, tetapi kini menyimpan jenazah rakyat—lahirlah suara yang mengiris langit: Abdel Latif Mubarak.
Puisinya “A Martyr” bukan sekadar teks sastra. Ia adalah altar pengorbanan. Ia adalah akta kematian peradaban yang pura-pura beradab. Ia adalah doa yang berubah menjadi tuduhan.
Tidak mengherankan bila Roma—kota yang pernah membangun imperium dengan darah—kini menundukkan kepala pada puisi tentang martir.
—
Puisi sebagai Rahim Sejarah
> Sign me up, right here,
To a womb that defies history’s commute.
Kalimat ini bukan permohonan kelahiran.
Ini adalah perlawanan terhadap sejarah yang selalu berulang menindas.
“Rahim yang menentang perjalanan sejarah” adalah metafora paling radikal:
Mubarak tidak ingin dilahirkan dalam sistem yang sama—
sejarah yang berputar seperti roda jagal: menindas, membunuh, lalu menulis ulang dirinya sebagai kemenangan.
Rahim di sini adalah peradaban baru—
tempat manusia lahir tanpa warisan penjara, tanpa nasib yang sudah dikutuk oleh kolonialisme, perang agama, dan kerakusan ekonomi.
Ia ingin dilahirkan kembali sebagai manusia yang merdeka dari siklus korban.
—
Tubuh yang Menolak Dijadikan Komoditas
> Never did I nurse from the breasts of women in a slave market.
Kalimat ini seperti cambukan di wajah dunia modern yang mengaku beradab.
Pasar budak di sini bukan hanya masa lalu.
Ia hidup dalam:
pengungsi yang diperdagangkan
buruh murah global
tubuh perempuan yang dijual sistem kapitalisme
darah anak-anak yang jadi bahan bakar industri senjata
Mubarak menolak sejarah yang membesarkan manusia dari susu perbudakan.
Ia menolak peradaban yang menyusui generasi dari payudara penindasan.
—
Spiritualitas yang Gagal Menyelamatkan Manusia
> I could not trust mystics,
Nor did their bells ring recognition in my heart.
Ini bukan anti-iman.
Ini adalah kritik tajam terhadap agama yang kehilangan keberanian moral.
Loncer-lonceng mistik berdentang, doa-doa dibaca, ritual dipertontonkan —
namun:
anak-anak tetap dibom
rakyat tetap kelaparan
tiran tetap berkuasa
Mubarak menelanjangi spiritualitas kosong — agama yang sibuk ke langit tetapi buta pada bumi yang berdarah.
—
Ketika Kematian Menjadi Pemandangan Sehari-hari
> When I see coffins stacked,
Black as the tears of rain.
Ini bukan hiperbola sastra.
Ini dokumentasi zaman.
Peti mati ditumpuk seperti kontainer pelabuhan.
Kematian menjadi industri.
Air mata hujan — alam pun ikut menangis.
Langit Mesir, Palestina, Suriah, Afrika, dan dunia ketiga bukan lagi biru —
ia gelap oleh abu bom dan doa yang tidak didengar.
—
Kebebasan yang Dibangun di Atas Mayat
> The bodies of the martyrs,
Whose lives gifted you freedom.
Inilah pusat moral puisi ini.
Mubarak menuduh peradaban modern:
Kebebasan kalian bukan lahir dari filsafat —
ia dibangun dari mayat.
Demokrasi berdiri di atas kuburan.
Kemakmuran berdiri di atas darah negeri lain.
Seperti Roma kuno yang makmur dari budak,
dunia modern makmur dari korban global.
—
Tali Gantungan sebagai Arsitek Impian
> Gallows craft your dreams,
Selling your heart on the very first road.
Tiang gantungan adalah tukang bangunan peradaban.
Impian manusia modern dibangun oleh:
penjara politik
eksekusi
pembungkaman
genosida sunyi
Hati manusia dijual di jalan pertama kapitalisme.
Kita hidup dalam ekonomi yang memperdagangkan nurani.
—
“Be a martyr.”
Dua kata ini bukan ajakan mati.
Ini vonis sejarah.
Dalam dunia yang menormalisasi pembunuhan,
menjadi manusia jujur berarti siap menjadi korban.
Martir bukan pilihan heroik —
ia konsekuensi hidup bermoral di dunia yang rusak.
—
Penghargaan Roma: Sejarah Membungkuk pada Luka
Ketika Roma memberikan First Prize International Poetry kepada Abdel Latif Mubarak, sesungguhnya sejarah sedang melakukan penebusan kecil.
Kota yang dulu memuja gladiator kini memuliakan martir kemanusiaan.
Penghargaan DivinaMente Donna bukan sekadar trofi sastra —
ia adalah pengakuan bahwa puisi masih sanggup melawan senjata.
Bahwa kata-kata masih bisa mengguncang istana kekuasaan.
—
Abdel Latif Mubarak: Penyair sebagai Nurani Global
Mubarak bukan sekadar penyair Mesir.
Ia adalah suara Selatan Dunia.
Ia adalah jeritan yang diterjemahkan menjadi keindahan berbahaya.
Puisinya mengingatkan:
Sastra bukan dekorasi budaya.
Sastra adalah senjata nurani.
Di tangannya, bahasa Arab tidak hanya bernyanyi —
ia menuduh, melawan, dan mengadili sejarah.
—
Puisi sebagai Makam dan Kelahiran
“A Martyr” adalah:
makam bagi kebohongan peradaban
kelahiran kesadaran baru
Ia menolak sejarah sebagai siklus penindasan.
Ia menuntut rahim baru bagi umat manusia.
Dan mungkin itulah sebabnya dunia mendengarnya.
Karena di tengah bising propaganda,
hanya puisi yang jujur yang terdengar seperti kebenaran.
—
Sumatera Barat Indonesia, 2026.
—-
Seorang Martir
Oleh: Abdel Latif Mubarak
Daftarkan aku, di sini,
Ke rahim yang menentang perjalanan sejarah.
Tuliskan namaku.
Aku tak pernah menyusu dari payudara wanita di pasar budak.
Aku tak bisa mempercayai para mistikus,
Dan lonceng mereka tak membangkitkan pengakuan di hatiku.
Sejuta ketakutan
Ketakutanku, berlipat ganda sejuta kali,
Ketika aku mendapati kematian menatap hidupku,
Ketika aku melihat peti mati bertumpuk,
Hitam seperti air mata hujan.
Semoga Tuhan memberimu umur panjang,
Untuk menghibur rumah-rumah yang dipenuhi kesedihan—
Tubuh para martir,
Yang hidupnya memberimu kebebasan.
Di samping para janda dan yatim piatu,
Tiang gantungan mengukir mimpimu,
Menjual hatimu di jalan pertama.
Jadilah martir.
—–
A Martyr
By: Abdel Latif Mubarak
Sign me up, right here,
To a womb that defies history’s commute.
Inscribe my name.
Never did I nurse from the breasts of women in a slave market.
I could not trust mystics,
Nor did their bells ring recognition in my heart.
A million fears
My fears, multiplied a millionfold,
When I find death staring into my life,
When I see coffins stacked,
Black as the tears of rain.
May God grant you a long life,
To console homes filled with sorrow—
The bodies of the martyrs,
Whose lives gifted you freedom.
Beside the widows and orphans,
Gallows craft your dreams,
Selling your heart on the very first road.
Be a martyr.