“THE TRULY BIRTHDAY”: Merayakan Leni Marlina dan Kiprahnya Menghidupkan Sastra di Suara Anak Negeri
Oleh Redaksi Suara Anak Negeri News.com
–
Tanggal 18 Juli adalah sebuah tanggal yang mengingatkan diri. Ia adalah momen refleksi tentang kelahiran yang lebih dalam, kelahiran kreativitas, dedikasi, dan komitmen pada dunia literasi. Di tanggal ini, kami memperingati ulang tahun seorang penyair dan sastrawan yang telah menjadi pilar utama dalam perjalanan estetik dan intelektual Media Suara Anak Negeri News.com selama satu tahun terakhir: Leni Marlina, S.S., M.A.
Karya puisinya yang bertajuk “THE TRULY BIRTHDAY” menjadi simbol dari kelahiran sejati sebuah makna spiritual dan kultural. Melalui bait-baitnya, Leni tidak hanya menulis tentang hidup, tetapi menghidupkan kata. Puisinya menjadi ruang permenungan bagi pembaca tentang eksistensi, cinta, luka, harapan, dan kelahiran-kelahiran baru dalam batin manusia yang merindukan makna.
Redaktur Sastra yang Mendirikan Panggung Kata
Sejak dipercaya menjadi redaktur bidang sastra di Suara Anak Negeri, Leni Marlina telah membawa nafas baru dalam penataan rubrik yang menyuarakan suara puisi dan refleksi kebudayaan. Ia menjadi kurator karya dan mentor senyap yang membimbing banyak penulis muda menemukan suaranya sendiri.
Dalam satu tahun terakhir, lebih dari 1000 judul puisi/ karya sastra telah diterbitkan di bawah koordinasinya, termasuk antologi tematik seperti “Puisi dari Timur”, “Perempuan dan Batas”, “Anak Negeri Bicara Dunia”, “Matilda Batlayeri”, “Anggrek Larat”. Leni, seorang editor, ia adalah penyulam makna, menjaga otentisitas karya sekaligus memastikan bahwa setiap tulisan yang terbit membawa pesan yang kuat dan bermartabat.
Penyair Perempuan yang Meretas Batas
Sebagai perempuan dalam dunia sastra yang masih sering didominasi suara laki-laki, Leni Marlina hadir dengan kekuatan yang lembut namun tajam. Puisinya berani menggugat, tetapi tetap hangat. Esainya tenang, tetapi menohok.
Dalam karya “Malam yang Tak Selesai”, ia menulis:
“Aku bukan sunyi, aku adalah gema yang tidak pernah diundang.”
(Suara Anak Negeri, Desember 2024)
Kalimat ini mencerminkan posisi khasnya sebagai penyair yang tidak memohon pengakuan, melainkan membuktikan keberadaannya lewat kualitas kata dan ketulusan ekspresi.
Mendorong Literasi Sastra di Akar Rumput
Tidak berhenti pada redaksi, Leni juga aktif menginisiasi Kelas Sastra Anak Negeri, sebuah program literasi yang mengajarkan teknik menulis kreatif kepada mahasiswanya. Leni Marlina bersama Anto Narasoma, Yusuf Achmad dan Rizal Tanjung berani melanglang buana ke wilayah Timur Indonesa, Papua dan Tanimbar melalui karya-karya sastra yang enak dibaca dan dicerna. “Menulis bukan soal jadi sastrawan,” ujar Leni dalam salah satu diskusi singkat di Kampus Universitas Negeri Padang akhir Mei 2025 lalu. Baginya, menulis membebaskan pikiran dan memberi suara pada yang tak terdengar.”
“THE TRULY BIRTHDAY”: Sebuah Manifesto Kehidupan
Puisi THE TRULY BIRTHDAY yang ia tulis menjadi puisi pembuka edisi sastra di hari Jumat 18 Juli 2025. Puisi itu tak hanya merayakan ulang tahun dirinya, tetapi juga menggambarkan pemaknaan mendalam tentang lahir kembali sebagai manusia baru: lebih sadar, lebih mencinta, lebih hidup.
Berikut kutipan pembuka puisinya:
“Hari lahir bukan lilin dan kue,
tapi detik-detik yang kupungut dari luka
dan kubentuk jadi sayap kata…”
(Leni Marlina, THE TRULY BIRTHDAY, Juli 2025)
Kata yang Menjadi Jalan Pulang
Di hari kelahiran Leni Marlina ini, redaksi Suara Anak Negeri News.com tidak hanya mengucapkan selamat ulang tahun, tetapi juga mengangkat topi setinggi-tingginya atas perannya yang tak tergantikan. Ia adalah suara yang menghidupkan yang bisu, pena yang menjahit yang retak, dan cahaya yang menuntun pembaca pulang kepada hakikat manusia.
Selamat ulang tahun, Leni Marlina.
Teruslah menulis, karena dari puisi-puisimu, anak negeri belajar mencintai kata, dan dari cintamu pada sastra, kami percaya bahwa literasi adalah jalan menuju kebebasan.
THE TRULY BIRTHDAY
Poem by Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena-West Sumatra, KEAI, ACC SHILA, ASM, Literacy Community, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Today,
the day you were born.
The sky doesn’t speak your name—
yet it knows the hush of gratitude
growing quietly
inside a body learning
to forgive
the cruelty of time.
Rain begins to fall,
as if the earth were whispering:
it is not only age that gathers,
but the wounds—
softly catching fire,
becoming a small lantern
in the hollow of your chest.
You stand
behind the windowpane,
welcoming each drop
as if welcoming prayers
without voice,
but with memory—
and a map that leads
to your heart
this very day.
–– and do you know? ––
sometimes,
a birthday is not a celebration
but a silent pilgrimage
into one’s own body—
which has carried
a thousand sorrows
without ever asking
for even a single
“congratulations.”
No guests arrive,
only the wind tapping gently,
bringing the scent
of an unlamented past.
No cake,
but the sky slices its clouds
and pours drizzle
into the cup of loneliness
you placed at dawn.
And you sip it
slowly,
murmuring in your chest:
“Thank You, God.
You sent the rain—
so I’d remember:
I do not grow older
alone.”
Padang, West Sumatra, INDONESIA, 2025
“THE TRULY BIRTHDAY”: Merayakan Leni Marlina dan Kiprahnya Menghidupkan Sastra di Suara Anak Negeri
“THE TRULY BIRTHDAY”: Merayakan Leni Marlina dan Kiprahnya Menghidupkan Sastra di Suara Anak Negeri