Jejak Perempuan dalam Cahaya
Oleh Gunawan Trihantoro
–
Di sebuah rumah di Kauman,
lahirlah seorang anak perempuan,
dengan senyum ayahnya yang penuh harapan,
dan doa ibu yang menembus langit malam.
“Ayah,” suara kecil itu bertanya,
“Kenapa perempuan tak boleh bersekolah tinggi?”
H. Tamim tersenyum,
“Baroroh, ilmu itu hak semua anak,
tak peduli kau laki-laki atau perempuan.
Kelak, jadilah obor,
yang menerangi jalan banyak orang.”
-000-
Waktu berputar,
langit Kauman menjadi saksi tekadnya.
Di bangku sekolah,
Siti Baroroh tak hanya duduk,
ia berdiri, berbicara,
tentang hak dan kewajiban perempuan.
Di depan teman-temannya, ia berkata:
“Perempuan bukan hanya pelengkap.
Kita adalah pendidik pertama.
Bagaimana mungkin kita mendidik,
jika tak mengerti apa yang benar?”
-000-
Tahun 1964,
di aula megah Universitas Gadjah Mada,
ia berdiri dengan toga hitam pekat,
bukan sekadar pakaian,
melainkan lambang perjuangan.
Seorang dosen senior berbisik:
“Profesor perempuan? Apa dunia tak terbalik?”
Siti tersenyum,
“Bukan dunia yang terbalik, Pak,
hanya pandangan kita yang harus diperbaiki.
Ilmu itu tak punya gender.”
-000-
Di tengah organisasi ‘Aisyiyah,
ia berbicara di mimbar,
di antara ribuan perempuan yang mendengarkan.
“Saudari-saudariku,
pendidikan adalah jembatan kita,
dari ketertinggalan menuju kemajuan.
Mari kita berdiri tegak,
tanpa melupakan Al-Qur’an sebagai panduan.”
Seorang ibu muda mendekat,
“Bu Baroroh, apakah aku bisa?”
Dengan lembut, ia menjawab,
“Bisa, Bu. Jangan pernah ragu.
Belajar adalah tugas suci.”
-000-
Kerjasama terjalin dengan UNICEF, UNESCO, WHO,
menembus batas negara,
namun tak meninggalkan akar budaya.
“Emansipasi, bukan berarti melupakan kodrat,”
katanya dalam sebuah wawancara.
“Kita bisa menjadi pemimpin,
tanpa kehilangan iman.”
-000-
Hingga akhirnya,
pada senja 9 Mei 1999,
ia menutup mata,
dengan Suara ‘Aisyiyah masih menggema,
dan amal usaha terus berlanjut.
Dialog dan langkahnya tak pernah padam,
jejaknya menjadi terang,
bagi mereka yang ingin melangkah,
dalam cahaya pendidikan.
SM Tower Malioboro, 27 Desember 2024.
Catatan Kaki:
1. “Mengenal Lebih Dekat dengan Prof. Siti Baroroh Baried.” Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Diakses pada 27 Desember 2024, dari https://library.umy.ac.id/mengenal-lebih-dekat-dengan-prof-siti-baroroh-baried/.
2. Siti Baroroh Baried dikenal sebagai profesor perempuan pertama di Indonesia, diangkat pada tahun 1964 di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.
3. Di bawah kepemimpinannya, ‘Aisyiyah menjalin relasi dengan organisasi internasional seperti UNICEF, UNESCO, dan WHO untuk memajukan perempuan Indonesia.
4. ‘Aisyiyah mengelola sekitar 4.500 amal usaha pendidikan, mulai dari tempat penitipan anak hingga perguruan tinggi.
5. Siti Baroroh menegaskan bahwa emansipasi perempuan tidak bertentangan dengan ajaran agama, melainkan sejalan untuk mengembangkan potensi perempuan dalam kehidupan.