Putri Tanimbar dari Cepu Kembali Mengadu Harapan di BPI
Di Depan Kantor BPI, Harapan Anak-Anak Tanimbar Bertemu Masa Depan
http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki – Pagi itu, Senin, 25 Mei 2026, halaman Kantor BPI Cabang Kabupaten Kepulauan Tanimbar di Jalan Ir. Soekarno, Sifnana, tampak dipenuhi pencari kerja. Di depan bangunan yang berada tepat di seberang Markas Kodim Saumlaki itu, puluhan anak muda berdiri membawa map berisi dokumen lamaran dan sertifikat pelatihan.
Sebagian datang dengan wajah penuh keyakinan. Sebagian lain tampak cemas menunggu peluang yang mungkin akan mengubah masa depan mereka.
Di antara antrean itu, berdiri Vero Juita Batmanlussy bersama beberapa rekannya, Elisabeth Reresy, Ira Fenisa Sainyakit Bella Sainyakit dan Anna Elsina Melatunan yang pernah mengikuti pelatihan migas di Cepu, Jawa Tengah.
Mereka datang bukan sekadar membawa ijazah, tetapi juga membawa harapan besar sebagai putra-putri daerah yang selama ini dipersiapkan untuk industri energi di tanah sendiri. “Kami daftar lagi di BPI karena kami percaya anak daerah juga punya kemampuan dan kesempatan untuk terlibat di industri ini,” ujar Vero saat diwawancarai media.
Lulusan Akamigas dengan Bekal Dunia Industri
Vero bukan wajah baru di lingkungan pelatihan migas. Ia merupakan lulusan Teknik Mesin Kilang Politeknik Energi dan Mineral Akamigas dengan IPK 3,17. Selama masa pendidikan, ia menjalani berbagai pengalaman praktik industri di sektor migas dan mekanikal.
Perempuan muda asal Tanimbar itu pernah mengikuti perancangan mekanikal di PT Tuban Steel Work, melakukan inspeksi tangki crude oil di PT Pertamina RU V Balikpapan, hingga analisa kebocoran tangki di PPSDM Migas Cepu.
Pengalaman tersebut membentuk pemahamannya terhadap sistem kerja industri migas, termasuk penerapan budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
“Saya ingin terus belajar dan menambah kemampuan di bidang migas karena saya percaya pengalaman dan sertifikasi yang kami miliki bisa menjadi modal untuk membangun karier di daerah sendiri,” katanya.
Selain memiliki sertifikasi Technician III Mechanical Maintenance dan Occupational Health and Safety Operator (K3), Vero juga mengaku siap ditempatkan pada bidang maintenance maupun turbine operation.
Dipersiapkan untuk Masela
Bagi Vero, pelatihan yang diikuti di Cepu bukan sekadar bagian dari pendidikan formal. Ia melihat proses itu sebagai persiapan panjang menghadapi hadirnya industri migas di Kepulauan Tanimbar, terutama pengembangan Blok Masela.
“Orang tua tentu sangat mendukung, dan saya pribadi memang punya keinginan besar mengikuti pelatihan ini. Kami lulusan PEM Akamigas merasa dipersiapkan untuk Blok Masela nanti,” tuturnya.
Ia mengaku telah mengikuti pelatihan sejak tingkat pertama hingga tingkat akhir selama masa kuliah. Karena itu, ketika peluang kerja kembali terbuka melalui BPI, dirinya merasa siap bersaing. “Mulai pembukaan pendaftaran, saya sudah sangat siap,” ucapnya.
Harapan untuk Kesempatan yang Adil
Di balik antusiasme para pencari kerja lokal, tersimpan pula harapan agar proses rekrutmen dilakukan secara terbuka dan adil.
Vero berharap perusahaan benar-benar memberi ruang bagi putra-putri daerah yang telah menempuh pendidikan dan pelatihan sesuai kebutuhan industri migas.
“Harapan saya, semoga dengan adanya pelatihan ini kami anak daerah punya kesempatan lebih dan mau belajar supaya bisa bersaing dengan orang luar dan memajukan daerah ini,” katanya.
Ia juga menaruh perhatian terhadap mekanisme perekrutan tenaga kerja yang menurutnya harus berjalan secara profesional. “Proses perekrutan tenaga kerja harus transparan, berbasis kompetensi objektif, serta memberikan kuota atau afirmasi yang tegas bagi masyarakat lokal,” tegasnya.
Menunggu Masa Depan di Tanah Sendiri
Di tengah geliat persiapan proyek strategis nasional Blok Masela, suara-suara seperti Vero mulai banyak terdengar di Tanimbar. Mereka adalah generasi muda yang datang dengan pendidikan, sertifikat, pengalaman, dan harapan untuk mendapat tempat di industri yang akan tumbuh di tanah mereka sendiri.
Bagi mereka, peluang kerja bukan sekadar soal pekerjaan. Lebih dari itu, ada keinginan untuk membuktikan bahwa anak-anak daerah juga mampu berdiri sejajar dalam industri energi nasional.(rls:jk)