Tuhan dalam Islam: Nyata, Tapi Tak Bisa Dibatasi Indera
Yusufachmad Bilintention
Pertanyaan klasik yang kerap muncul di ruang publik adalah: “Apakah Tuhan orang Islam nyata?”
Sekilas terdengar sederhana, namun sesungguhnya pertanyaan ini salah kaprah. Banyak orang berasumsi bahwa sesuatu dianggap nyata hanya jika bisa dilihat, disentuh, atau dibayangkan. Padahal, dalam ajaran Islam, Allah SWT justru nyata karena keberadaan-Nya melampaui batasan indera manusia.
Allah Bukan Makhluk
Islam menegaskan bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Besar, Maha Sempurna, dan berbeda dari segala sesuatu. Ia tidak bisa dipersepsikan dengan cara manusia mempersepsikan makhluk. Ketidakmampuan manusia melihat atau membayangkan Allah bukan berarti Allah tidak ada, melainkan menunjukkan keterbatasan akal dan indera manusia.
Bukti dari Al-Qur’an
Al-Qur’an menjadi bukti pertama keberadaan Allah SWT. Kitab suci ini diyakini sebagai kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril. Mukjizat Al-Qur’an bukan hanya pada keindahan bahasanya, tetapi juga pada kandungan ajarannya yang tak tertandingi. Di dalamnya, Allah memperkenalkan diri melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta menyingkap tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta.
Alam Semesta sebagai Saksi
Langit, bumi, dan segala isinya adalah bukti nyata kekuasaan Allah. Hukum alam yang teratur, keseimbangan ekosistem, hingga keindahan dan keragaman ciptaan menunjukkan adanya Pencipta yang mengatur segalanya. Alam semesta, dalam perspektif Islam, adalah “saksi bisu” yang menegaskan keesaan Allah.
Dalil Fitrah dan Akal
Selain bukti eksternal, Islam juga menekankan dalil internal: fitrah dan akal.
- Fitrah adalah kecenderungan asli manusia untuk mengenal dan menyembah Tuhan. Ia membuat manusia merasakan kehadiran Sang Pencipta, merindukan rahmat-Nya, sekaligus takut akan pengawasan-Nya.
- Akal adalah anugerah yang menuntun manusia menyadari adanya Penyebab Pertama, Penguasa Mutlak, dan Tujuan Akhir dari segala sesuatu.
Kesimpulan
Pertanyaan “Apakah Tuhan orang Islam nyata?” sesungguhnya berangkat dari kesalahpahaman. Islam mengajarkan bahwa Allah SWT nyata, tetapi tidak bisa disamakan dengan makhluk. Bukti keberadaan-Nya hadir melalui Al-Qur’an, alam semesta, fitrah, dan akal manusia. Dengan itu, umat Islam meyakini bahwa Allah adalah realitas tertinggi yang tak bergantung pada makhluk, sementara seluruh makhluk justru bergantung kepada-Nya.
Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018 https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly