Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

🌳 Reruntuhan Hijau dan Jejak Kayu Hanyut 🌊

Oleh : Eka Teresia

Aku dulu adalah napas bumi, sebuah istana kayu yang menjulang, menyambut embun pagi dengan nyanyian siamang. Selama ratusan tahun, aku adalah penjaga keseimbangan, akar-akarku adalah tangan yang menahan tanah, batangan-ku adalah rumah bagi setiap kehidupan, dan daun-daunku adalah pabrik oksigen bagi dunia. Aku bukan sekadar pohon; aku adalah paru-paru rimba, hidup dalam harmoni yang sempurna antara memberi dan menerima.

Namun, kedamaian abadi itu hancur oleh raungan asing. Manusia datang membawa janji kemakmuranβ€”sebuah kata yang beracunβ€”yang hanya melihat tubuhku sebagai angka dalam grafik keuntungan. Gergaji mesin meraung, memecah orkestra alam. Bau oli menggantikan wangi tanah, dan dalam hitungan menit, aku tumbang. Aku mendengar rintihan saudara-saudaraku, saksikan kepanikan margasatwa yang kehilangan arah, dan merasakan kehampaan saat langit terbuka tanpa perlindungan.

Aku tak lagi tegak, melainkan hanya gelondongan tanpa nyawa, ditumpuk bersama ratusan tubuh yang senasib. Rimba hijau berganti cokelat debu. Mereka menukar hutan dengan ladang sawit yang seragam, menukar keanekaragaman dengan keserakahan yang menyakitkan.

Bencana datang ketika sang penopang hilang. Musim hujan tiba dengan murka. Tanah yang tak lagi dicengkeram akar meluncur liar. Air bah menyeretku, gelondongan tak berdaya yang berguling dalam lumpur pekat. Aku terbawa ke permukiman, menghantam rumah-rumah, melukai manusia tak bersalah yang justru menjadi korban dari dosa orang lain.

β€œAku bukan pembunuh!” jeritku dalam hati, menyaksikan tangisan dan kengerian yang kubawa. Aku, sang penjaga, kini menjadi pembawa kehancuran.

Arus deras membawaku jauh, dari sungai yang meluap hingga terombang-ambing di laut yang asing. Aku kini adalah saksi bisu, sebuah serpihan dari peradaban hijau yang telah mereka korbankan.

Kisahku hanyalah peringatan. Jika manusia terus menutup telinga dari deru bencana yang mereka ciptakan sendiri atas nama pembangunan, kelak bukan hanya hutan yang akan hilang, tetapi juga seluruh masa depan. Aku berharap serat-seratku yang tersisa bisa menjadi doa: agar mereka menanam kembali, sebelum penyesalan menjadi air mata yang tak lagi mampu menyelamatkan bumi yang sekarat.

Padang, 1 Desember 2025