12 PuisiPuisi Pilihan Terbaik
Pulo Lasman Simanjuntak
–
RANJANG MAUT
kusapa dari wajah
kitab suci
tubuhmu terus membengkak
menjelma jadi sebuah bangunan
rumah sakit berbukit-bukit
lalu menatap langit senjahari
menelan habis
kuman-kuman diagnosis penyakit
menyebar kesepian berdahak
dari seorang perjaka tak punya sperma
pukul berapa jam bezuk, tanyamu
bau infus telah menyebar sampai
tanah kuburan basah
airmata memerah
amarah menular dusta
“kalau kematianku tiba, biarlah dibungkus kain kafan tua, sebab peti mati harganya terlalu mahal untuk dijual di bawah bumi tak berpenghuni,” pesanmu
maka sebelum pulang
ke rumah pinggir kota
telah kusodorkan ranjang maut ini
persis di bawah perutmu yang berlobang
disuntik menjadi sebuah terowongan berair
tembus sampai ke liang lahat
mengerikan memang !
inalilahi wa inalilahi rojiun
Jakarta, Rabu, 19 Oktober 2022
LELAKI TAK BERKELAMIN
lelaki tak berkelamin
rajin menyapa
hujan sore hari
setiap mau menembus belantara kota
hari-hari mencemaskan
paru-parunya terinfeksi bakteri
takut matahari
bahkan jantungnya
hanya berdetak
semakin gelap gulita
lelaki tak berkelamin
punya sepotong ginjal
telah membuat bengkak seisi rumah
tempat orang berdoa
mengumpulkan dosa
masa lalu paling menyakitkan
lelaki tak berkelamin
pingsan
menabur bunga mawar
di atas ranjang tak punya pengharapan
Jakarta, Kamis, 20 Oktober 2022
LELAKI MATA TULI JATUH DI RANJANG SEPI
lelaki mata tuli
jatuh di ranjang sepi
tubuhnya dari kertas emas
seperti hewan pemalas
takut menyapa matahari begitu keras
lelaki mata tuli tidur di ranjang sepi
bantalnya batu
ditiup angin pagi
tak memikirkan
harga-harga pangan melambung tinggi
air minumnya dari bensin dengan bayaran hanya kuitansi
sekarang lelaki mata tuli
sedang merenung di kamar mandi
disetubuhi bau terasi bangkai tikus mati
rajin onani berulangkali
ia ingin memeluk negeri khatulistiwa ini
tanpa kelaparan lagi
Jakarta, Rabu 7 September 2022
KELAPARAN AKUT
-episode dua-
membangun mezbah batu pagi ini
kembali membuat otak kecilku
terluka parah
dirajam seorang lelaki
tak punya rahim
matahari terlihat
kian kurus
menusuk-nusuk paru-paru
ke dalam perut rumah persinggahan
selalu gelisah
antara dua pilihan kelabu
mencuri sepiring beras merah
ataukah berteriak di pinggir jalan sambil memungut persembahan
hayo, ajakku sambil menggendong
sekarung derita di bahumu tulang belulang
kita mulai bangkit berdiri
di pinggiran kota pandemi ini
sebab masa kelaparan telah tiba
di depan pintu negerimu nusantara
kutagih terus utang renternir dua miliar rupiah
bersamaan dengan datangnya
kenaikan harga bahan bakar minyak
bakal tergilas
pecah seperti balon gas
Jakarta, Minggu 3 September 2022
SAJAK KRITIS
hari ini
kembali sajakku menjahit sunyi
tanpa angin pagi
hanya suara aliran air kolam
ikan-ikan setengah lumpuh
membuat sajakku semakin kelaparan
mau kemana
dibawa tubuhmu
ke padang ilalang
tak ada mata uang
di sana kering kerontang
(sementara dari jarak dekat seorang lelaki tuli mondar-mandir
menyusup dalam sajakku
yang telah berkemas
untuk menjual nyawa
barang mati apa saja yang bisa dimakan dengan rakus)
Jakarta , Senin 5 September 2022
KAMI SENANG MENDAKI BUKIT-BUKIT ROHANI
kami senang
mendaki bukit-bukit rohani
sepanjang dua puluh enam tahun
keluar dari air dosa
kolam baptisan
bertubuh lumut
hitam legam
kadangkala kaki kami
sering terjebak
dalam panas membara
api belerang
berbau kecacatan
sperma tunggal
kami senang mendaki bukit-bukit rohani
dalam rumah sengketa
dihuni ratusan kecoa
pecahan kaca di atas kepala
bacaan mantera
dalam tanah
berakar sampah perzinahan
berhamburan kesedihan
kepanikan tertinggal
di atas meja surat perkawinan
rajin ibadah
disodorkan pelayanan
kadang telanjang kemarahan
pada bangunan telah ditahbiskan
tanpa papan nama
dalam kota tua
dekat terminal bus ledakan bom ransel
nyaris mencuri nyawaku
kian terluka parah
kini telah kehilangan
jabatan orang lewi
maupun roh semangat
dibanting di atas tanah berkarat
kami senang mendaki bukit-bukit rohani
mengalir dari puncak gunung berapi
ada di sekitar kehidupan
masa dewasa pandai berpuisi ria
sampai kami menjadi
manusia tumbuh subur
dipeluk kitab suci
setiap pagi
sungguh
kami senang mendaki
bukit-bukit rohani
Jakarta, Minggu 11 Februari 2024
SEPI KAPAN MENCAIR
sunyi merayap
sepi tiarap
hening berharap
hidup nyaris kiamat
aku bertanya lagi,
tetapi pertanyaanku membeku
membentur jidat para pejabat
tak mau lagi berjabat erat
ketika berita kusebar
makin berkarat
ketika siaran kudendangkan
makin melarat
dengarlah,
oi, para pewarta
oi, para pujangga
di ujung otot usia menua
di muara ibu negeri
hijrah tumpah ruah
sepi
kapan mencair
akankah sampai
tiba
nyawa kita turun ke liang bumi
orang-orang mati
tak punya lagi
pengharapan
kepastian
Jakarta, Rabu, 31/1/2024
PERKAWINAN MEMBUSUK
perkawinan ini makin membusuk-
dipahat dengan air liur amarah berkepanjangan
dibenturkan suara jeritan ratusan hewan buas
muncul tiba-tiba
karena selalu ada kabar
kemurtadan hari kemarin
lalu segera dimasaknya
bumbu dan menu perkawinan
dalam dapur perapian
tempat para pendekar iblis
bertarung mau turun
ke dunia paling sunyi
nyaris menjelma menjadi seekor
matahari terbenam
bintang-bintang berguguran
hari ketujuh jadi pesakitan
disiram air keras
sekeras hatinya yang kian
membatu
setelah melewati aliran-aliran sungai penghakiman
maka perkawinan harus menghadap pengadilan
semoga ada pasukan balatentara dari
langit
mau jadi pembela
sehingga nama kita jangan sampai Terhapus
dari kitab kehidupan
dari ayat-ayat suci hapalan
dari Tuhan
masih pegang kendali
Jakarta, Senin, 22-1-2024
BERSAKSI
Melalui layar zoom-
Basah ditelan hujan malam
Engkau masih di kamar mandi
Menguliti tulang-tulang tubuhmu
Makin mencair
Sebelum disampaikan khotbah tentang Nubuatan
Akhir zaman terlupakan
Kuceritakan penderitaan
Makin berkepanjangan
Satu untuk para pahlawan iman
Satu lagi untuk jamaah serabutan
Aku tetap kelaparan
“Seribu penyakit menular harus ditebar dalam rumah persinggahan, lihatlah tiap malam rembulan batuk darah minta suntikan obat-obatan dari rumah sakit orang miskin,” teriaknya dari atas tikar penuh dendam dan kebohongan
Aku harus segera meditasi
Kembali ke gua-gua kesunyian
Mengais barang-barang loakan
Lantaran anakku gagah perkasa
Senantiasa berpesan penuh kemarahan
Jangan ada lagi perkakas logam
Dijual
Atau perangkat elektronik dijejer
Di jantung kiri dan etalase kematian
Datanglah kepada Tuhan Yesus, pesanmu
Sebab dari bukit hambalang
Deru angin sangat kencang
Semua diselesaikan
Satu siksaan
Kapan berakhir
Hari-hari tak punya kepastian
Jakarta, Senin 12 Februari 2024
PUISIKU BERLARILAH
Puisiku
Berlarilah
Menuju matahari sore hari
Bersinar dengan amarah
Kemarau panjang
Kering
Mengerikan
Meledakkan gunung batu
Memangkas bukit rohani
Sampai daun-daun ikut berguguran
Di atas ranjang
Ia sering menjilati masa lalunya
Yang purba
Sekarang ia menjelma
Jadi perempuan
Dikutuk ular berbisa
Cemburu membuta
Bila meneteskan airmata
Diurai tali-tali maut
Mau menjemput
Jakarta, Senin, 5 Februari 2024
MENULIS SYAIR UNTUK PRESIDEN
-episode pertama-
Menulis syair untuk presiden
Aku melihat tingkap-tingkap langit terbuka lebar
Seperti percakapan tadi pagi
Di meja kaca tanpa daging
Kehilangan pasangan
Tak punya kenangan
Kenapa harga pangan terus melambung tinggi, tanyamu
Setinggi burung gagak
terbang ke lumbung kematian sangat Gersang
Kering kerontang
Kenapa nilai mata uang
Tak bisa lagi menari-nari
Bersama matahari pagi hari
Menyambut kekusaman hati
Memasuki negeri di bawah telapak kaki
Menulis syair untuk
Presiden
Aku menatap jutaan manusia langka
Tak punya otak
Minta sedekah
Tangannya berapi
untuk publikasi sejati
Tanah tumpah darah
Di seberang pulau berair
Masihkah ada investor
Menebar benih-benih palsu
Yang tak bisa dihitung
Dengan sempoa atau kucing liar dalam.karung
Jakarta, Kamis 1 Februari 2024
MENULIS SYAIR UNTUK PRESIDEN
-episode dua-
Jika aku jadi presiden
Aku akan melanjutkan
Menulis syair ini
Sambil menghitung jumlah utang negara
Di bawah awan garang
bahkan angan-angannya telah Dikorupsikan mencapai delapan puluh Triliun rupiah
Setelah itu
Kutelan rakus ribuan kilometer
Jaringan jalan tol, kereta api cepat, Bendungan tak bisa dijebol, dan mobil Listrik yang sering meledak di pinggir jalan protokol
Sekarang lihatlah,
Aku sudah jadi presiden
Tak punya janji
Hanya ku sodorkan
Perawan berpendidikan
Anak-anak mampu berlarian
Mengejar sejumlah harapan
Tanpa harus jadi pesakitan
Karena masa depan
Bukan lagi milik penyair
Yang rajin menulis syair
untuk disodorkan
Di pintu gerbang negarawan
Acap kali kebakaran
Uraikan kemacetan di seputar
Bundaran kematian
Jakarta, Kamis 1 Februari 2024
–
Biodata :
Pulo Lasman Simanjuntak, dilahirkan di Surabaya 20 Juni 1961. Ratusan karya puisinya telah diterbitkan dalam 7 buku antologi puisi tunggal, dan 35 buku antologi puisi bersama para penyair di seluruh Indonesia.Karya puisinya juga telah dipublikasikan ke mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Republik Demokratik Timor Leste, Bangladesh, dan India.Sering diundang membaca puisi di Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.
Bekerja sebagai wartawan dan bermukim di Pamulang, Kota Tangerang Selatan.
Kontak : 08561827332 (WA)
Medsos :
Facebook : Bro
Instagram : Lasman Simanjuntak
Tik Tok : Lasman Simanjuntak
Youtube : Lasman TV