Balita Pencetak Rupiah
Karya: Ririe Aiko
(Puisi esai ini terinspirasi dari pengalaman pribadi, ketika saya sedang duduk menikmati kuliner di sebuah kedai kaki lima. Seorang anak balita menghampiri, bernyanyi, sambil menengadahkan tangan meminta kepingan rupiah.)(1)
—000—
Di sudut kedai kaki lima, seorang bocah mungil melangkah pelan. Dengan kaki yang baru belajar berjalan, dia menyusuri satu meja ke meja lain, menengadahkan tangan, dengan raut polos menyanyikan lagu kemiskinan.
Matanya mengiba, memohon kepingan rupiah, memenuhi kotak kardus lusuh bertuliskan: “Mohon bantuannya.” Tak jauh darinya, duduk sang ibu, memberikan perintah dengan aba-aba.
Matanya menyalak memberi tekanan pada jiwa kecil yang gemetar ketakutan. Entah ancaman apa, hingga bocah kecil itu bernyanyi lebih keras lagi, demi menggugah empati, mengisi kantong rupiah untuk dibawa pulang.
Lagu terus ia dendangkan, dengan bibir mungil yang bahkan tak hafal lirikSuaranya terdengar tak karuan, karena ia baru saja belajar bicara. Ia tak tahu ini beban siapa. Yang ia tahu, ia harus mengumpulkan pundi rupiah demi pujian ibu.
Sepasang mata terus mengamati, menilai, menghitung: berapa langkah lagi, hingga anaknya pantas mendapat satu porsi nasi hari ini?
Orang-orang mulai bertanya: “Bu, mengapa kau tega jadikan anakmu pengais rupiah?” Dengan suara tak berdosa, si ibu menjawab:
“Jika saja kalian yang kaya tidak berpura-pura tuli, aku tidak akan tersudut dalam lingkaran setan kemiskinan yang membuatku jadi ibu yang kejam!”
Dan kalimat itu menggantung di antara suara wajan yang mendesis. Membisu! Tak ada yang bisa menjawab!
—000—
Malam turun dengan gerimis. Angin dingin yang menusuk kulit, menghantam sakit dalam sudut. Namun, si kecil belum berhenti. Ia tak tahu arti lelah. Ia hanya tahu tugasnya mencetak rupiah.
Haruskah ia dilahirkan jika ibu menjadikannya keuntungan— mewariskan dunia penuh luka dan menyimpan beban pada pundak kecil yang masih rapuh, yang masih butuh direngkuh?
Sering kali kita dengar: “Anak adalah titipan Tuhan.”(2) Namun kini titipan itu dijadikan alat tukar— untuk menakar keuntungan, menjadi lembaran rupiah.
Bukan! Bukan hanya tentang kemiskinan! Tapi sebuah kegagalan dari orang tua yang menimang kasih sayang, menakarnya dengan uang. Nuraninya mati digerogoti kerakusan, hingga tega menjadikan balita pencetak rupiah.(3)
CATATAN:(1)https://www.kompasiana.com/erika37118/6865bb2034777c19374864d3/ketika-anak-terpaksa-ikut-dalam-perjuangan-mencari-rupiah (2)https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200717105406-284-525044/anak-adalah-titipan-ini-makna-dan-tanggung-jawab-orang-tua (3)https://nasional.kompas.com/read/2022/03/20/03000011/kasus-kasus-pekerja-anak-di-indonesia