April 23, 2026
tonnio

Oleh Tonnio Irnawan

Pasca Sidang Umum MPR Maret 1998 yang memilih kembali Jenderal (purn) Soeharto menjadi Presiden Republik Indonesia, situasi politik kian memanas. Ketegangan ada di mana – mana. Mahasiswa yang tadinya mengadakan aksi protes hanya di dalam kampus, mulai berani ke jalan – jalan. Kamis (2/4/1998) aksi turun ke jalan dimulai dari Yogyakarta. Esok harinya harian Kompas memberitakan aksi tersebut. Judul beritanya “Kekerasan Pecah di UGM dan IAIN Yogya” dengan subjudul 29 Mahasiswa dan Pelajar Luka – luka.

Waktu itu saya aktif menyimak kondisi negara. Karena pers dalam ancaman militer, tak semua informasi dapat disebarluaskan. Karenanya saya mencari informasi dengan mendengarkan warta berita dari Radio Australia, BBC London. Suara Amerika (VOA), dan Radio Hilversum Belanda. Kadang – kadang siaran tersebut tidak dapat didengar jernih karena ada suara kresek – kresek.

Sepertinya saya sudah menduga aksi – aksi mahasiswa tidak berhenti di sini saja tapi akan terus berlanjut. Oleh karena itu saya membuat kliping dari koran dan majalah. Yang paling banyak saya ambil dari Harian Kompas karena saya berlangganan. Setiap ada berita politik dalam negeri saya gunting kemudian saya tempel dengan lem di kertas HVS. Hingga kini kliping tersebut masih ada meski warna kertasnya mulai menguning. Maklum usianya sudah 27 tahun.

Semalam atau Rabu (19/3/2025) saya membuka – buka lembaran kliping tersebut. Ini saya lakukan bukan karena iseng – iseng melainkan situasi tiga bulan pertama tahun ini jika terus begini, tidak mustahil akan memancing mahasiswa kembali turun ke jalan. Rakyat berharap banyak kepada mahasiswa untuk mengawasi pemerintah. Hanya gerakan mahasiswa besar – besaran yang bisa menciutkan nyali Senayan dan istana. Bukan yang lain.

Album kliping saya juga memuat berita penembakan di kampus Trisakti – Grogol yang menimbulkan panjarahan massal dan huru hara di Jakarta. Mundurnya beberapa menteri membuat goyah kepercayaan diri Presiden Soeharto, sehingga ia mengundurkan diri pada Kamis pagi, 21 Mei 1998.

Salah satu lembar kliping saya gunting dari Harian Kompas, Senin 25 Mei 1998. Judul berita tsb “Lee Kuan Yew : Krisis Ekonomi Penyebab Soeharto Mundur”. Berita dikutip dari Kantor Berita Reuter yang mengutip siaran BBC London.

Menurut PM Singapura periode 1959 -1990 ini faktor utama mundurnya Soeharto bukan karena kebangkitan rakyat melainkan karena kebangkrutan ekonomi.

“Jika Anda tak mampu menjaga stabilitas harga dan lapangan kerja, jika Anda membiarkan tingkat inflasi sampai 10 persen setiap bulan sehingga banyak pabrik terpaksa tutup dan proyek – proyek konstruksi macet, itu artinya Anda harus menghadapi gejolak sosial,” jelasnya.

Selanjutnya Lee mengatakan, pelajaran yang bisa diambil dari Indonesia adalah, “Jaga jangan sampai nilai mata uang tenggelam. Jaga stabilitas ekonomi dan tingkat pengangguran pada batas yang aman. Perhatikan kondisi kesejahteraan rakyat.”

Lembar kliping yang lain dari Harian Kompas (22/5/1998) dengan judul “Indonesia Pelajaran Berharga bagi Anggota ASEAN”. Berita ini antara lain mengutip pernyataan Presiden Filipina – Fidel Ramos yang mengatakan mundurnya Soeharto akan menjadi pelajaran bagi negaranya dan ASEAN bahwa ini adalah barangkali pendekatan yang benar, seperti kita alami, adalah tetap dalam jalur reformasi dalam berkonsultasi dengan rakyat dan pemimpin aneka kelompok.

Salah tuntutan aksi – aksi para mahasiswa waktu itu adalah dihapuskannya Dwi Fungsi ABRI. Mahasiswa dan kelompok sipil ingin militer kembali ke barak dan menjadi tentara profesional. Tuntutan ini kemudian dipenuhi parlemen dengan mengeluarkan UU TNI. Bukan hanya mahasiswa, rakyat gembira menyambut UU ini.

Kemarin (19/3/2025) para mahasiswa mengeluarkan seruan mengajak warga untuk ikut bergabung dengan mereka dalam aksi di depan Gedung DPR di Senayan, Jakarta. Hari ini rencananya DPR akan bersidang untuk mensahkan RUU TNI menjadi UU TNI. Revisi UU TNI dikhawatirkan sebagai pintu masuk kembalinya Dwi Fungsi TNI.
Bagaimana aksi hari ini akan berlangsung? Kita berharap berjalan damai dan Senayan mau mendengarkan suara rakyat yang dilantangkan oleh anak – anak kita.

Kekuasaan adalah cara melayani sebaik – baiknya rakyat bukan cara menguasai posisi dan jabatan untuk memperkaya diri sendiri mereka yang diberi kepercayaan sebagai pemerintah.

Maret 27 tahun lalu merupakan awal perjuangan mahasiswa yang berpuncak mundurnya seorang presiden yang berkuasa terlalu lama. Kita tak ingin sejarah berulang kembali karena ongkos sosial, ongkos politik, dan ongkos ekonominya terlalu mahal. Namun adalah keniscayaan rakyat berhak untuk mengawasi dan memberikan koreksi terhadap rezim berkuasa. Pemerintah yang baik, pemerintah yang mau mendengarkan suara rakyat. Pemerintah yang bijak, pemerintah yang sadar bahwa mereka diberikan mandat dan mandat itu sewaktu – waktu bisa ditarik jika rakyat menghendakinya.