Oleh: Rizal Tanjung
–
Aku akan menunggumu—
bukan hanya pada satu pagi yang retak di ambang jendela,
bukan hanya pada senja yang kehilangan warnanya,
tetapi pada seluruh lingkaran waktu
yang diciptakan langit agar manusia
mengingat luka yang belum selesai.
Aku akan menunggumu
seperti embun menunggu kelopak terakhir yang belum mekar,
seperti desir angin menunggu nama
yang pernah dibisikkan sunyi pada batu-batu tua.
Aku akan menunggumu
di antara celah-celah waktu yang sudah patah,
di antara jam-jam yang menua karena kehilangan suara langkahmu.
Sebab setiap kehidupan
adalah pintu lain yang kutemukan kosong
tanpa bayanganmu.
Aku telah menunggumu
di kehidupan pertama,
ketika aku masih menjadi sebatang pohon muda
yang mencari harum tubuhmu pada angin.
Namun kau lewat sebagai badai,
dan aku tumbang oleh rindu
yang belum sempat kusebutkan namanya.
Aku menunggumu lagi
di kehidupan berikutnya,
ketika aku menjelma sungai panjang
yang hanya ingin kau seberangi.
Tetapi kau datang sebagai hujan singkat
yang jatuh sebentar,
menghapus jejakmu sendiri
sebelum sempat aku merasa disentuh.
Aku menunggumu lagi
ketika aku lahir sebagai burung kecil
di dahan paling gelap sebuah hutan.
Kau hadir sebagai musim dingin
yang tak membawa kehangatan,
dan aku mengejarmu
dengan sayap retak
yang tak pernah bisa mencapaimu.
Di kehidupan keempat,
aku menjadi manusia sekali lagi
—dan inilah kehidupan yang paling menyakitkan.
Sebab aku mengenal matamu.
Aku mengenal caramu diam.
Aku mengenal caramu memalingkan wajah
setiap kali hatimu ingin kembali,
tapi langkahmu memilih pergi.
Kau datang sebagai musim semi
yang singgah sekejap,
lalu pergi sebelum bunga-bunga
sempat mencatat namamu di kelopaknya.
Aku memakai seluruh malam
hanya untuk menulis ulang kepergianmu
pada cahaya bulan yang redup,
agar ia turut mengerti
bahwa kesedihan juga butuh saksi.
Aku menunggumu di antara mimpi
yang tak pernah ingin berakhir,
di antara serpih luka
yang tak pernah ingin sembuh.
Setiap langkahku adalah rantai,
setiap napasku adalah perjanjian
bahwa aku tak akan menyerah
meski dunia berkali-kali menghapusmu
dari ingatan dan sejarah.
Lalu kehidupan berganti lagi.
Aku menjadi bayangan yang mengikuti orang asing,
aku menjadi bisikan yang hilang di lorong,
aku menjadi bintang kecil
yang gugur sebelum sempat kau lihat.
Tetapi aku tetap menunggumu.
Sebab rindu adalah semacam kutuk lembut
yang diberikan langit
kepada jiwa yang tidak dapat sembuh.
Dan aku adalah salah satunya.
Jika nanti aku terlahir sebagai batu
di tepi pantai yang jauh,
aku akan tetap menunggumu.
Menunggu sentuhan kakimu
yang mungkin saja suatu hari
tersandung padaku.
Jika aku kembali sebagai angin,
aku akan mengecup rambutmu
setiap kali kau menunduk mencari sesuatu
yang sebenarnya sudah kau tinggalkan sejak dulu:
aku.
Jika aku lahir sebagai laut,
aku akan memeluk seluruh kapal
yang mungkin membawamu kembali,
meski aku tahu,
kau selalu memilih pelabuhan
yang bukan aku.
Jika aku menjadi doa,
aku akan mengetuk langit
dengan suara paling lembut,
memohon satu hal sederhana:
agar suatu hari, meski terlambat,
kau menoleh ke belakang
dan menyadari
ada seseorang yang menunggumu
lebih lama dari waktu itu sendiri.
Kehidupan berikutnya
dan berikutnya lagi
akan terus memintaku
untuk mengulang penantian ini.
Tak apa.
Aku sudah berdamai
dengan rasa sakit
yang tak ingin hilang.
Sebab mencintaimu
adalah cara paling sunyi
untuk menerima nasib.
Dan menunggumu
adalah cara paling tulus
untuk mencintai tanpa syarat.
Jika pada akhirnya
kita masih tidak bertemu juga,
biarlah seluruh semesta menjadi saksi
bahwa aku telah melampaui batas
yang bahkan malaikat pun tak berani menyentuhnya:
batas antara cinta dan kehancuran,
antara harapan dan luka abadi.
Aku akan menunggumu
di reruntuhan waktu,
di pinggir dunia yang runtuh,
di antara serpih takdir
yang jatuh dari tangan Tuhan.
Aku akan menunggumu
meski namamu menjadi asing,
meski wajahmu berubah,
meski hatimu terisi oleh kehidupan lain
yang tak mengenal aku.
Aku akan menunggumu
meski dalam kehidupan terakhir
aku hanya menjadi sebutir debu
yang pernah mencintaimu
dengan seluruh semesta di dalam dadanya.
Dan ketika semuanya sudah terhapus,
ketika dunia ini padam
dan cahaya terakhir menghilang,
aku akan tetap berdiri di ambang ketiadaan,
berbisik kepada kehampaan
yang menelan segala sesuatu:
“Aku akan menunggumu
di semua kehidupanku—
dan bahkan setelah kehidupan itu sendiri
meninggalkan kita.”
Sumatera Barat, Indonesia, 2025.