Alanisis “Pergeseran Makna Pengkhianatan NB…”
Oleh: Paulus Laratmase
–
Drs. Petrus Abeyaman menulis sejumlah ide di WA Group “Politik Tanimbar” dengan judul di atas. Setelah membaca semua tulisan yang cukup Panjang itu, saya mencoba mengontak penulis dan menanyakan inisial yang ditulis pada judul “Pergesaran Pengkhianatan NB…” siapa sebenarnya yang dimaksud dengan “NB” dan secara eksplisit disampaikan penulis bahwa yang dimaksudkan adalah “Nick Besitimur” alias “Nikolaus Besitimur.”
Drs. Petrus Abeyaman adalah senior saya sejak SMP Santo Maria Vianey Saumlaki sampai kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng. Intelektualitasnya sejak kuliah telah ditunjukkan walaupun dewi fortuna belum berpihak padanya menjadi seorang imam, pastor katolik mengingat Lembaga Pendidikan Tinggi tempat ia mengenyam, dunia filsafat dan teologi telah menempanya menjadi seorang yang berpikiri kiritis dalam berbagai persoalan sosio-politik di tengah masyarakat.
Judul yang ditulis Drs. Petrus Abeyaman, “Pergeseran Makna Pengkhianatan Nick Besitimur,” menggambarkan inti dari narasi yang ingin disampaikan: kritik terhadap pandangan negatif Nick Besitimur (NB) terkait hasil Pilkada yang dimenangkan oleh pasangan calon Ricky Jaurisa dan Juliana Ratuanak (RJJR).
Berikut adalah analisis sintaksis terhadap tulisan Drs. Petrus Abeyaman, yang dapat membantu untuk memahami konteks lebih mendalam mengenai pergeseran makna yang dibahas dalam tulisannya.
Struktur Sintaksis
Tulisan Drs. Petrus Abeyaman tersusun dalam bentuk opini yang penuh dengan kritikan dan seruan retoris. Sebagian besar kalimatnya bersifat kompleks, dengan banyak klausa yang saling terhubung, mengandung banyak kalimat majemuk bertingkat yang menyatukan beberapa ide dalam satu kalimat panjang.
Misalnya, “TUDUHAN PENGKHIANAT NB KEPADA PENDUKUNG DAN TIM SERTA SIMPATISAN BERSATU ADALAH BENTUK KOMPENSASI RASA SAKIT HATI DAN KEBENCIAN YG DALAM YG TERSALUR DARI LUKA BATHIN NB SENDIRI.”
Kalimat seperti ini menunjukkan pemikiran yang cukup mendalam dan terorganisir, menyiratkan bahwa penulis berusaha secara psikologis menghubungkan satu perasaan (sakit hati dan kebencian) dengan tindakan (tuduhan pengkhianatan) dan menyatakan bahwa tindakan tersebut berasal dari pengalaman batin penulis (NB).
Ada beberapa kalimat yang berisi ajakan atau perintah, seperti “BUNG NB PUNYA HAK UTK MENUDUH KAMI, TAPI KAMI PUN LEBIH BERHAK UTK MEMBERI PENCERAHAN, BUKAN MEKANISME DEFENSIF.” Kalimat ini menekankan hak untuk berbicara atau memberi penjelasan, dan mengajak NB untuk memahami perbedaan antara hak individu dan tanggung jawab sosial.
Dalam beberapa bagian, terdapat pertanyaan retoris yang digunakan untuk menegaskan argumen. Misalnya: “JIKA BELUM PAHAM BAIKLAH KITA DISKUSI EMPAT MATA BIAR ANDA BISA PAHAM.” Di sini, penulis tidak mencari jawaban atas pertanyaan itu, tetapi lebih untuk menegaskan bahwa ada ruang untuk perdebatan atau diskusi yang lebih mendalam.
Penggunaan Gaya Bahasa
Drs. Petrus Abeyaman menggunakan gaya bahasa yang sangat emosional dan langsung. Banyak ungkapan yang digunakan untuk mempertegas kritik dan memengaruhi pembaca. Penggunaan bahasa yang tajam ini bisa dilihat dalam pemilihan kata-kata seperti “pengkhianat,” “koruptor,” dan “perusak toleransi.” Gaya bahasa ini memperlihatkan ketegasan dan kemarahan terhadap pihak yang dituju, dalam hal ini, Nick Besitimur.
Menggunakan kata-kata yang menyiratkan keputusan moral yang kuat, seperti “pengkhianat negeri” dan “koruptor,” yang dipandang sangat negatif dalam konteks sosial-politik Indonesia. Dengan mengaitkan tuduhan ini dengan karakteristik pribadi atau kebijakan para pemimpin sebelumnya, penulis ingin menyoroti dampak buruk yang dirasakan oleh masyarakat.
Secara metafora, ia menggambarkan perasaan atau situasi. Sebagai contoh, “gejala itu yang bisa memicu kanker hati Anda BUNG NB.” Metafora ini menyiratkan bahwa kebencian dan ketidakmampuan untuk berdamai dengan kenyataan dapat merusak hati seseorang, baik secara emosional maupun fisik yang secara profokatif mengajak pembaca untuk mendalami makna di balik situasi politik yang sedang dibahas.
Pergeseran Makna dalam Konteks Pengkhianatan
Makna Pengkhianatan Menurut NB: Dalam tulisan ini, NB menuduh pendukung dan tim RJJR sebagai pengkhianat negeri.
Penulis menanggapi tuduhan ini dengan menyatakan bahwa pengkhianatan sejati adalah perbuatan yang merusak negara melalui korupsi, penindasan, dan kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat. Oleh karena itu, makna pengkhianatan yang dimaksud oleh NB dipandang sebagai bentuk pemutarbalikan dari kenyataan sosial-politik yang ada. Dengan kata lain, tuduhan pengkhianatan oleh NB seharusnya diarahkan kepada pihak-pihak yang benar-benar merusak negara melalui kebijakan korup dan tidak berpihak pada kepentingan rakyat.
Pergeseran Makna Pengkhianatan dalam Perspektif Drs. Petrus Abeyaman menyarankan bahwa pengkhianatan harus didefinisikan dengan lebih objektif, yakni dengan merujuk pada tindakan yang merugikan rakyat banyak. Dalam hal ini, pengkhianatan bukanlah soal siapa yang menang atau kalah dalam kontestasi politik, melainkan tentang siapa yang bertanggung jawab atas kehancuran sistem dan tatanan sosial yang ada. Tuduhan pengkhianatan kepada tim RJJR dinilai penulis sebagai pelampiasan kebencian pribadi NB yang terdistorsi oleh kekalahan dalam Pilkada.
Kritik terhadap Kebijakan Pemerintah Sebelumnya
Petrus Abeyaman mengkritik keras kebijakan yang diterapkan oleh penguasa sebelumnya, dengan merinci beberapa proyek yang gagal dan dugaan penyalahgunaan anggaran. Kritik ini mencerminkan rasa frustrasi terhadap pemerintahan yang dianggap telah merusak tatanan sosial dan birokrasi negara.
Proyek-proyek yang gagal dan kebijakan yang tidak sesuai dengan harapan rakyat ditekankan oleh penulis sebagai bentuk pengkhianatan terhadap rakyat. Misalnya, penulis menyebutkan proyek yang mangkrak seperti Tugu Atuf dan Rumah Sakit Magreti, yang menurutnya adalah bukti nyata ketidakmampuan pemerintah sebelumnya dalam mengelola anggaran dan sumber daya.
Pertanyaan tentang Integritas Pemimpin: Dalam tulisan ini, penulis secara langsung menantang integritas para pemimpin yang dianggap gagal. Tuduhan ini ditujukan pada mereka yang berkuasa namun tidak memberikan manfaat nyata bagi rakyat.
Pesan yang Tersirat
Dalam penutupan, penulis mengajak NB untuk berdiskusi lebih lanjut tentang hal ini, dengan harapan dapat memahami sudut pandang yang berbeda. Ini menunjukkan adanya keinginan untuk membuka ruang dialog dan memperbaiki kesalahpahaman yang mungkin ada. Penulis juga menekankan pentingnya rasionalitas dalam menyikapi situasi politik, serta mendukung RJJR sebagai pasangan calon yang memiliki visi untuk memperbaiki keadaan.
Kesimpulan
Tulisan ini, meskipun penuh dengan kritik dan pernyataan provokatif, menunjukkan pentingnya pemahaman mendalam tentang pengkhianatan dalam konteks sosio-politik.
Pergeseran makna pengkhianatan yang diajukan oleh Drs. Petrus Abeyaman mengundang pembaca untuk melihat lebih jauh ke dalam tindakan dan kebijakan yang sebenarnya merusak negara, daripada hanya memandang kemenangan atau kekalahan dalam kontestasi politik semata.
Penyampaian tulisan yang panjang dan terstruktur dengan baik menggambarkan kedalaman pemikiran penulis, yang ingin membuka perspektif baru mengenai apa yang dimaksud dengan pengkhianatan dalam konteks politik Pemilukada di Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Sebagai putera Tanimbar di rantau mengajak semua pihak, “Penetapan KPUD Kabupaten Kepulauan Tanimbar terhadap pemenang nomor urut 3 Ricky Jeurisa dan Juliana Ratuanak telah disahkan. Mari kita menghormati keputusan ini, dan bagi paslon yang belum menerima putusan KPUD KKT, pintu keadilan terbuka melalui Mahkhamah Konstitusi. Di sana keadilan didapatkan dari semua kegelisahan politis yang dapat merusak tatanan relasi sosial kita sebagai manusia Duan-Lolat.”