“API MELAHAP TIRANI”: Kumpulan Puisi Pilihan (PPIPM-Indonesia, Satu Pena, Kreator Era AI, Poetry-Pen IC)
Ilustrasi "API MELAHAP TIRANI": Kumpulan Puisi Pilihan (PPIPM-Indonesia, Satu Pena, Kreator Era AI, Poetry-Pen IC, ACC SHILA). Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks No. 925-31 (Assisted by AI).
/1/
API MELAHAP TIRANI
Puisi Leni Marlina
[Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM Indonesia; Satu Pena Sumbar; Kreator Era AI; Poetry-Pen IC, ACC SHILA; FSM]
Tuhan,
Engkau penguasa garis kehidupan,
sekali menggurat, semesta terkulai.
Logika pecah seperti kaca,
khayal patah jadi abu di ujung api-Mu.
Di Los Angeles,
megah runtuh tanpa nama,
angin Santa Ana berdesis:
“Aku perintah, bukan sekadar embus.”
Gedung-gedung mewah,
lantai-lantai licin
tersungkur ke pangkuan tanah—
seolah bumi menghisap arogansi.
Dalam reruntuhan itu,
satu ruang utuh, tak tersentuh,
adakah itu bait rahasia-Mu?
Adakah, Engkau menulis satire di atas api:
“Manusia lupa, kuasa adalah debu yang dipinjam?”
Tubuh-tubuh kecil hangus jadi bisu,
jerit lebur bersama gemuruh.
Di sinilah manusia membaca ulang,
bukan sajak, tapi bara
yang membakar keangkuhan sampai tulang.
Tuhan,
Engkau tak hanya membakar kota,
Engkau menyalakan refleksi,
di antara asap dan arang,
berkobar pertanyaan:
Siapa manusia tanpa gengsi?
Dan, di sisa abu itu,
manusia menunduk,
bukan karena ketakutan,
tapi karena paham—
bencana ini adalah isyarat
yang Engkau tulis dengan api,
api yang melahap keangkuhan dan tirani,
api yang menghidupkan nurani,
agar manusia hidup lebih manusiawi.
Padang, Sumbar
Januari 2025
—————————
Leni Marlina: penulis PPIPM-Indonesia, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, dosen FBS Universitas Negeri Padang.
/2/
TUMBANG DILALAP API
Puisi Anto Narasoma
[Pondok Komunitas Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Palembang, Kreator Era AI]
Los angles,
masih tersisa kedengkian yang meracik nyawa anak-anak Palestina
itulah percikan minyak yang menurunkan api
tatkala burung-burung ababil melempar balasan atas jerit tangis anak-anak Palestina yang kehilangan masa permainan di usia mereka
lihatlah,
nyala api kemarahan
yang berkobar di antara kehidupan dan kematianmu, menjadi senjata kimia yang mencekik kerongkonganmu
sebentar lagi,
angin musim menebarkan titik-titik lokasi yang akan diturunkan menjadi kuburan massal,
setelah api murka memangsa pendukung mereka yang menumpahkan darah,
dan meluluh-lantakkan rakyat tak berdosa di Palestina
maka lihatlah,
kenangan bara api
yang tiba setelah daun-daun pintu rumah lenyap ke dalam ajal
maka,
keangkuhanmu kini hanya tinggal debu
di atas batu-batu nisan yang tumbang ke dalam jerit ketakutan panjang
kepada siapa jerit ketakutan itu minta perlindungan,
ketika hutan, tanah,
dan gedung-gedung ambruk bersama tatapan yang hangus ke dalam bara-bara api?
Palembang, Sumsel,
13 Januari 2025
/3/
AKU, DONALD TRUMPH
Puisi Anto Narasoma
[Pondok Komunitas Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Palembang, Kreator Era AI]
jangan Kau buka wajahku dari kekerdilan yang melayang setinggi awang-awang
sebab,
segala kata yang kuucap hanya serpihan hawa busuk, keluar dari lubang toilet sebuncit perutku
dari kesadaran yang kututupi, selendang merah itu menyimpan ampas makanan sebusuk caci maki
dan cairan kemih
di dalam darahku
jika sikap ini berdiri angkuh di pentas kehidupan, maka itulah kekerdilan yang menjalankan skenario kemunafikan
dalam pita seloluid sepanjang cerita dalam tayangan sehari-hari,
aku tutupi wajahku dengan kain merah yang tergambar seluas dinding kamarku
kemana aku mengadu
ketika kebesaran-Mu menginjak-injak keangkuhan setelah
los angeles menjadi serpihan kertas yang terbakar keangkuhan?
Palembang, Sumsel,
16 Januari 2025
————————
Anto Narasoma merupakan penyair nasional, jurnalis/wartawan senior, mentor senior komunitas PPIPM-Indonesia, anggota Poetry-Pen International Community.
Penulis menerima Anugerah Penghargaan Sastra dari Asosiasi Sastra Internasional Spanyol tahun 2022.
/4/
MISTERI DAN API
Puisi Ramli Djafar
[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM – Indonesia; Poetry-Pen IC, ACC SHILA; Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI]
Wahai misteri,
engkau hadir di tengah keniscayaan,
mengintai dalam bayang kemustahilan.
Tak terjangkau oleh nalar,
tak mampu direngkuh oleh reka.
Wahai misteri,
engkau nyata dalam keajaiban,
menggurat tanda dalam kejadian histeris.
Lihatlah Los Angeles,
membara dalam amukan api.
Bangunan-bangunan runtuh tak berdaya,
segala yang indah berubah debu dan bara.
Dan ketika semuanya berakhir,
yang tertinggal hanyalah kenangan:
dalam puing-puing yang berserak,
dalam reruntuhan yang terdiam.
Namun, wahai misteri,
mengapa ada yang tetap utuh?
Mengapa ada yang tak tersentuh bara,
meski dikelilingi oleh abu dan arang?
Adakah engkau tahu jawabannya,
atau engkaukah tangan yang melakukannya?
Wahai misteri,
engkau datang dalam bola-bola api,
membakar segalanya,
menghapus jejak yang pernah ada.
Wahai misteri,
engkau berdiri di luar logika dunia,
kekuatanmu jauh melampaui batas manusia.
Dalam keangkuhan yang kau tundukkan,
terciptalah keajaiban:
sebuah pesan tentang rapuhnya kuasa,
dan fana yang melingkupi semua.
Engkau ada di setiap sudut bumi,
menghancurkan,
namun juga memberi pelajaran,
bahwa kekuatan sejati
hanya milik Tuhan.
Wahai misteri,
engkau adalah peringatan bagi dunia,
dan bukti tak terbantahkan
bahwa manusia hanyalah bayang-bayang kecil
di hadapan keagungan semesta.
Padang, Sumbar,
13 Januari 2025
———————-
Ramli Djafar, selain anggota aktif PPIPM-Indonesia dan penulis aktif Satu Pena Sumbar, anggota Kreator Era AI Sumbar, juga merupakan anggota aktif komunitas Penyair dan Penulis ACC Shanghai Huifeng International Literary Association; dan Poetry-Pen International Community. Sejumlah puisinya sudah diterbitkan dalam bahasa Cina di jurnal puisi ACC Shanghai International Literary Association (ACC SHILA).
/5/
Santa Ana: Angin yang Membawa Api
Puisi Muliaty Mastura Yusuf
[Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM-Indonesia, IPMI Sulsel, Satu Pena, Kreator Era AI]
Di bawah langit Los Angeles,
lidah api beraksi tanpa iba,
melahap taman-taman elit,
hingga setiap sudut menjadi abu.
Berita berkelebat di layar kaca,
video-video membara,
awalnya mataku lelah,
menyaksikan berita bencana.
Enam hari berlalu,
aku terbangun dari jeda,
bertanya pada bisikan waktu:
Eaton, Hurts, Hollywood Hills,
Pasifik Palisades, semua rata.
Mengapa bara tak berhenti menyala?
Adakah ini tangan murka-Nya?
Santa Ana, engkau datang,
dengan lari kencang,
tiupanmu 129 kilometer per jam,
meluluhlantakkan setiap benteng manusia,
menorehkan garis tegas kuasa langit.
Aku tak mampu membayangkan,
Pasifik Palisades yang dulu hijau
menjadi padang abu.
Setiap helai daun berubah kenangan,
setiap dinding roboh menjadi saksi.
Santa Ana, siapakah dirimu?
Dingin namun menyala,
ramah namun menghakimi.
Oh manusia, redamlah keangkuhanmu!
Karena di atas kekuatan,
ada Sang Pemilik Segala Kuasa.
Lihatlah di belahan bumi sana,
Gaza, mereka yang tak punya suara—
bayi-bayi dalam buaian,
perempuan dengan luka tersembunyi,
lansia yang tak mengerti politik dendam.
Mereka, korban api
di belahan bumi lain,
yang lama berseteru dalam api keserakahan.
Di sana, air mata tak pernah kering.
Mayat-mayat tak berdosa berserakan,
rumah sakit pun runtuh,
dan nafas mereka tersumbat,
seolah dunia hanya milik mereka
yang bertakhta di atas kehancuran.
Aku duduk dalam sesak,
menatap reruntuhan dunia
dan bersujud di hadapan-Nya:
Ya Allah, apakah Santa Ana akan kembali?
Akankah ia datang lagi,
dengan amarah yang tak mampu ditahan?
Aku diam,
menunggu jawab-Mu di keheningan.
Somba Opu, Sulsel
Senin, 13 Januari 2025
/6/
Alarm California
Puisi Muliaty Mastura Yusuf
Alarm berdering
memekik sekuat tenaga, menjerit meronta-ronta
Berkali-kali alarm itu berdering
Tubuhmu masih lelap di pembaringan
Seolah tak tahu nyala api California membara
Alarm bergema, berkumandang
Angin timur dari pedalaman California Selatan menuju pesisir
Engkau belum gelisah dan panik
Engkau masih manja berlumur kemewahan
Alarm mengaum memekikkan telinga
berhari-hari, berbulan bahkan bertahun engkau menyetelnya
Engkau belum mengubah mindsetmu
Alarm itu masih mengeluarkan nada
Tapi engkau belum ingin berdamai dengan penderitaannya
Bahkan engkau enggan membuat hidupnya sejajar dan merdeka
Somba Opu, Sulawesi Selatan
Selasa, 14 Januari 2025
————————–
Muliaty Mastura Yusuf adalah penulis aktif berdomisili di Somba Opu, Gowa, Sulawesi Selatan.
/7/
Ketika Api Melahap Kemegahan dan Kesombongan
Puisi Leni Marlina
<1>
Wahai Tuhan Yang Maha Pencipta semesta alam,
Engkau yang menciptakan ketetapan tanpa cela,
Engkau ada di luar batas pikiran fana,
Tak kuasa dipahami sepenuhnya oleh logika,
dan tak mungkin direngkuh seluruhnya oleh imajinasi manusia.
Wahai Tuhan Yang Maha Menguasai,
Engkau nyata dalam semua peristiwa,
terlihat dan terasa dalam kejadian yang menggetarkan jiwa, meluruhkan kebanggaan dan kesombongan manusia.
<2>
Di sini,
Los Angeles – California,
kota megah ini membara,
dibalut api sebelum menjelama jadi abu kehancuran,
bangunan-bangunan megah luluh lantak,
hampir semuanya hangus menjadi abu,
dan pada akhirnya,
tinggal hanya kenangan yang bertahan,
terkubur di antara reruntuhan,
terserak di puing-puing kehilangan.
Wahai Tuhan Yang Maha Menyaksikan,
Engkau datangkan gemuruh angin Santa Ana,
dalam percikan bara yang menghanguskan.
Engkau, sang pemilik takdir,
menggenggam kuasa di luar logika manusia,
menundukkan kemewahan dan keangkuhan dunia dengan isyarat-Mu.
<3>
Kami lihat sekali lagi,
masih ada ruang dan tempat yang tetap utuh,
sesuatu yang tak tersentuh lidah api,
di tengah puing yang hancur berantakan,
adakah itu pilihan-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Melihat?
ataukah itu pesan tersirat,
bahwa kuasa-Mu melampaui segala keperkasaan manusia hebat?
Wahai Tuhan Yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan,
Engkau hidupkan keajaiban dalam bencana,
Engkau matikan keangkuhan,
menundukkan segala kesombongan manusia.
Wahai Tuhan Yang Maha Memberi Petunjuk,
Engkau hadirkan api yang melahap keangkuhan,
Engkau hadirkan kebakaran alam untuk mengingatkan,
bahwa dunia bukan milik mereka yang sombong dengan kekuatan,
namun tempat bagi semua yang manusiawi dan rendah hati.
<4>
Wahai Tuhan Yang Maha Menyaksikan dan Maha Mendengar,
Engkau menyaksikan sungai air mata,
Engkau mendengar jerit ketakutan dan kesakitan,
Engkau menyaksikan tubuh-tubuh kecil yang hangus,
doa-doa yang tersisa dalam kepedihan.
Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang,
di hadapan-Mu,
kami manusia hanya debu,
berharap pada kasih-Mu yang tak bertepi,
memohon ampun atas kesombongan dan kesalahan kami.
Padang, Sumbar,
Januari 2025
————————-
Leni Marlina merupakan anggota penulis SATU PENA Sumbar, Kreator Sumbar Era AI, Forum Siti Manggopoh (FSM). Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA). Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (UNP).
Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital/ kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan sosial, di antaranya:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)