Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Kali ini izinkan saya tidak berpuisi. Bukan karena kata-kata telah habis, Bukan karena rima telah lelah mencari ritme, Tapi karena nurani bangsa sudah kebanyakan musik latar dan terlalu sedikit getar hati nurani.
Kali ini saya tidak berpuisi, karena bangsa ini tidak sedang butuh bait, tapi butuh taubat sosial. Bukan tepuk tangan dalam festival sastra,.melainkan tepuk dada dalam cermin sejarah!
Saudara-saudara,.Kita ini bangsa besar, tapi sering.bersikap kecil. Kita mengaku cinta tanah air, tapi sibuk menguras tanah air. Kita berteriak “Merdeka!”, tapi merdeka dari siapa kalau kita masih dijajah oleh mental malas, mental korup, mental ingin cepat kaya tanpa kerja keras? Kita sering bangga pada masa lalu, padahal masa kini sedang haus teladan.
Kita hormat pada pahlawan, tapi lupa pada perjuangan. Kita menangis di monumen, tapi tertawa di meja pungli. Kali ini saya tidak ingin menjadi penyair yang manis, karena negeri ini tidak sedang butuh gula-gula pidato.
Negeri ini butuh garam kebenaran yang mungkin perih, tapi menyembuhkan luka. Maka izinkan saya berteriak tanpa mikrofon: Bahwa bangsa yang tidak jujur pada dirinya sendiri, tidak akan pernah maju, meski punya ribuan startup dan seribu jalan TOLL. Bahwa pembangunan tanpa keadilan adalah rumah megah di atas kuburan kepercayaan rakyat.
Bahwa politik tanpa nurani adalah sirkus dan kita penontonnya yang terus membeli tiket kebodohan.
Saudara-saudara,.Berapa kali kita menulis “cinta negeri”? Berapa kali kita memposting “NKRI harga mati”?.Tapi berapa kali pula kita mematikan logika dan empati.demi kepentingan golongan, demi warna bendera partai? Di negeri ini, perdebatan dianggap prestasi,.padahal pelaksanaanlah yang menentukan harga diri. Setiap kali ada masalah, kita bentuk tim, setiap kali tim bekerja, kita bentuk tim baru untuk memeriksa tim lama.
Dan akhirnya, masalahnya tetap di tempat yang sama, karena yang berpindah hanya jabatan dan kendaraan dinasnya.
Kali ini saya tidak ingin mengutuk siapa-siapa, karena kita semua bagian dari penyakit yang sama..Yang berdasi di gedung tinggi, yang bersarung.di surau kecil,.yang berbicara di mimbar, yang berteriak di jalan semua punya andil, karena diam pun kadang bentuk dari dosa sosial.
Kita sering salah paham: mengira nasionalisme adalah atribut merah putih, padahal nasionalisme adalah cara makan yang tidak serakah, cara bicara yang tidak menghina,
cara bekerja yang tidak menipu.
Bambang Oeban kali ini tidak ingin menulis metafora. Karena bangsa ini terlalu kenyang alegori, tapi kelaparan integritas. Kita tidak butuh “kata indah”, kita butuh tindakan sederhana yang benar..Jika pahlawan dulu menumpahkan darah, maka pahlawan hari ini harus menumpahkan keringat.
Jika mereka dulu melawan penjajah berseragam asing,.maka kita sekarang melawan penjajah berseragam kebiasaan buruk penjajah bernama ego, gengsi, dan serakah.
Saudara-saudara, Kita tidak kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang benar. Kita tidak kekurangan lulusan, tapi kekurangan ketulusan .. Kita tidak kekurangan mimpi, tapi kekurangan aksi. Maka saya ingin menyampaikan Orasi ini bukan tentang pesimisme, tapi tentang kesadaran baru: Bahwa kemajuan tidak lahir dari lomba slogan,.tapi dari keberanian menatap cermin dan berkata:
“Ya, saya bagian dari masalah, dan saya harus ikut memperbaikinya.” Mari kita mulai dari hal kecil: buang sampah pada tempatnya, bukan hanya saat kamera menyorot.
Bayar pajak dengan jujur, bukan setelah diancam razia. Tolong tetangga bukan karena satu agama, tapi karena satu kemanusiaan.
Bangsa ini tidak butuh banyak teori perubahan,.tapi butuh banyak orang yang mau berubah. Bangsa ini tidak butuh seruan heroik di panggung,
tapi butuh aksi senyap di lorong-lorong kejujuran.
Saudara-saudara sebangsa,.Saya tidak berpuisi kali ini karena puisi sudah menjerit dalam diam..Saya tidak bermain diksi karena kata “adil” dan “amanah” sudah kehilangan makna..Saya tidak menulis rima, karena nurani bangsa sudah kehilangan irama. Tapi saya masih percaya Bangsa ini bisa sembuh, jika setiap anaknya berhenti menuding dan mulai berbuat.
Jika setiap pejabat berhenti bicara tentang rakyat, dan mulai bicara dengan rakyat. Jika setiap dari kita berhenti bertanya “apa yang negara berikan?”, dan mulai bertanya “apa yang sudah saya berikan?”.
Kali ini Bambang Oeban tidak berpuisi, karena bangsa ini sedang butuh kejujuran, bukan tepuk tangan. Bukan puisi yang dibacakan di depan kamera, tapi puisi yang hidup dalam tindakan nyata. Dan jika nanti saya kembali menulis bait, itu bukan karena ingin dihormati,.tapi karena saya ingin bangsa ini berhenti disakiti oleh tangannya sendiri.
Saudara-saudara,
Ingatlah pesan terakhir dari orasi ini: Kemerdekaan bukan hadiah, tapi titipan. Jangan biarkan titipan itu kita gadaikan demi jabatan, demi ego, demi bendera sempit kelompok sendiri. Bambu runcing hari ini bukan lagi tombak perang,
tapi kejujuran, empati, dan kerja nyata..Dan kalau pun saya harus berpuisi lagi nanti,.biarlah puisi itu lahir dari bangsa yang sudah sembuh, bukan bangsa yang terus mengulang luka yang sama.
Orasi ini selesai, tapi perjuangan belum. Bambang Oeban tidak berpuisi hari ini, karena negeri ini masih menulis sajaknya sendiri dengan tinta darah para pendiri bangsa, dan keringat generasi yang belum berhenti bermimpi.
Hidup Indonesia!
Merdeka!
SILAKAN PARA SAUDARA HADIR SEBAGAI PENYAKSI DI MALAM SUKACITA MENGHIKMAHI HARI PAHLAWAN 2025
> Patriotic Art Performance “DARAH JOEANG”
Menyala di Setiap Zaman — Dari Api Perjuangan Menuju Cahaya Perubahan
Sebuah persembahan
Rumah Seni Jakarta: Patriotic Art Performance DARAH JOEANG
dalam rangka Memperingati Hari Pahlawan 2025.
Menampilkan:
Bambang Oeban
Orasi Kebangsaan
Emi Suy
Pembacaan Puisi Patriotik
🎭 Teater Cermin Dramatik-Puitis “Darah Joeang”
🎶 BANDITO –
Musikal Puisi Patriotik
🎤 Orkes Melayu – Marawis – Jaipong – DSB
Sabtu, 15 November 2025
🕓 Pukul 14.00 WIB s.d. selesai
📍 Jl. Tanjung Pura. Kalideres. Jakarta Barat
Mari hadir, jadilah penyaksi.
Merasakan kembali
semangat yang mengalir dari darah para pejuang ,
karena perjuangan belum berakhir!
#DarahJuang #HariPahlawan2025 #RumahSeniJakarta
#SudinKebudayaanJB
#TeaterPatriotik