May 1, 2026
n21

anto narasoma

1)
terlunta-luntalah kita
ke dalam cerita yang tiba di akhir pertemuan tanpa ayah dan ibu

ia terperosok ke garis ajal yang tenggelam jauh di kedalaman tanah pilihan

maka,
sendirian kau tampil
ketika karung plastik itu
membuka mulutnya
yang memendam barang-barang asongan dari kotak pembuangan komplek pemakaman

ketika air mata membersihkan
cerita yang basah
ke dalam tangisan, hanya kau berada
di depan gerbang lorong-lorong kemiskinan kita

lalu,
kau peluk sekali lagi
segala kisah dari pinggiran jalan
yang berurai tangisan
di matamu, adikku

: makanlah nasi ini !

karena setiap nasi yang kau kunyah ke barisan depan perjalanan nasib kita adalah Dia, adikku

begitu pun butiran kasih yang kau suapkan tanpa uluran cinta dan rasa sayang ayah ibu kita

sebab,
barang asongan
inilah tangan-tangan Tuhan yang turun
dari ada sebelum ada

2)
lihatlah pada tatapan matahari itu. ketika mimik wajahnya mengeja perjalanan hidup yang memusuhi hak-hak kasih sayang
di lorong-lorong ketidakberdayaan, kau terkulai sendiri

maka bukalah lembaran buku yang mencatat hari-hari kemiskinan kita sekali lagi

karena kepergian ayah dan ibu ke lapisan pusara ajalnya,
hanya kau dan aku yang ketinggalan usia dari gerbong-gerbong kehidupan di akhir desember tahun ini

Palembang
31 Desember 2024