BARANG ASONGAN
anto narasoma
–
1)
terlunta-luntalah kita
ke dalam cerita yang tiba di akhir pertemuan tanpa ayah dan ibu
ia terperosok ke garis ajal yang tenggelam jauh di kedalaman tanah pilihan
maka,
sendirian kau tampil
ketika karung plastik itu
membuka mulutnya
yang memendam barang-barang asongan dari kotak pembuangan komplek pemakaman
ketika air mata membersihkan
cerita yang basah
ke dalam tangisan, hanya kau berada
di depan gerbang lorong-lorong kemiskinan kita
lalu,
kau peluk sekali lagi
segala kisah dari pinggiran jalan
yang berurai tangisan
di matamu, adikku
: makanlah nasi ini !
karena setiap nasi yang kau kunyah ke barisan depan perjalanan nasib kita adalah Dia, adikku
begitu pun butiran kasih yang kau suapkan tanpa uluran cinta dan rasa sayang ayah ibu kita
sebab,
barang asongan
inilah tangan-tangan Tuhan yang turun
dari ada sebelum ada
2)
lihatlah pada tatapan matahari itu. ketika mimik wajahnya mengeja perjalanan hidup yang memusuhi hak-hak kasih sayang
di lorong-lorong ketidakberdayaan, kau terkulai sendiri
maka bukalah lembaran buku yang mencatat hari-hari kemiskinan kita sekali lagi
karena kepergian ayah dan ibu ke lapisan pusara ajalnya,
hanya kau dan aku yang ketinggalan usia dari gerbong-gerbong kehidupan di akhir desember tahun ini
Palembang
31 Desember 2024