Blok Wabu: Emas di Atas Luka
Era Nurza
–
Di tengah punggung bintang Papua,
Blok Wabu bernafas dalam diam yang ditusuk bising peluru.
Gunung tak lagi sakral, hutan tak lagi teduh,
sebab emas
menyilaukan nurani, menghidupkan ambisi.
Moni, anak tanah tua,
menyebut Wabu sebagai ibu,
menghampar doa dalam sunyi lembah,
menyulam hidup dari akar, dari kabut, dari sungai yang jernih.
Namun kini, langkah mereka dipagari laras,
suara mereka dikubur dalam pasal dan pengumuman pers.
Katanya: “Ini hak negara!”
dari podium tinggi penuh lampu dan jas.
Katanya: “Objek vital nasional,”
padahal yang vital adalah nyawa,
adalah tanah pusaka yang diusir diam-diam dari peta.
Apakah emas harus dibayar dengan luka?
Dengan suara yang ditenggelamkan?
Dengan kampung yang jadi titik koordinat operasi?
Negara datang, bukan dengan tangan terbuka,
tapi dengan rencana dan ranjau,
dengan tenda pasukan, bukan tenda rakyat.
Wabu menangis di bawah sepatu yang tak mengerti adat.
Gunung menjerit dalam bahasa yang tak tersalin di dokumen resmi.
Dan Moni, pemilik sejati,
hanya jadi penonton di tanah yang dulu menyebut namanya setiap pagi.
Apakah kita lupa,
bahwa tanah tidak bisa dibeli,
bahwa emas bukan alasan mengubur identitas?
Blok Wabu
lebih dari logam mulia.
Ia adalah ingatan,
adalah sejarah,
adalah rumah.
dan siapa yang bisa mematenkan rumah?
Selain mereka yang lahir dari rahimnya?
Padang, Juli 2025