April 23, 2026

BRICS Literature Award: Perlawanan dari Selatan (Sebuah Kritik terhadap Mekanisme dan Martabat Penghargaan)

Oleh: Rizal Tanjung

Tak ada yang menentang kelahiran BRICS di muka bumi—ia seperti sebuah bintang baru yang terbit dari rimba gelap peradaban, membawa cahaya ke arah yang disebut “selatan dunia.” Di antara poros kekuasaan dan peta sastra global yang lama dikunci oleh aroma Eropa dan Amerika, BRICS tampil bak fajar merah yang menjanjikan: keadilan, keseimbangan, dan suara bagi yang lama dibungkam.

Namun, di balik segala kilau diplomatik dan bahasa megah yang mengiringinya, BRICS Literature Award menghadirkan tanda tanya yang tak bisa dihapus begitu saja oleh seremoni dan pidato pejabat budaya.
Siapakah yang menulis narasi penghargaan ini?
Dan lebih jauh, siapakah yang menentukan siapa yang pantas menerima mahkota kata dari dunia yang katanya baru bangkit dari selatan itu?

Karena sebuah penghargaan, betapa pun mulianya nama, akan kehilangan makna bila prosesnya gelap—seperti obor yang padam di tengah pesta literasi.

Kelahiran yang Mulia, Tapi Bayi yang Dikelabui Cahaya

BRICS lahir dari ide besar: melawan hegemoni Utara yang terlalu lama memonopoli definisi “unggul”, “puitis”, dan “bermartabat”. Nobel Prize, Booker Prize, hingga Pulitzer telah menulis sejarah panjang tentang kemenangan-kemenangan kata yang seolah hanya mungkin terjadi di iklim dingin Barat, di bawah bendera bahasa Inggris yang dijadikan dewa tunggal.

Maka BRICS, dengan seluruh idealismenya, datang seperti sebuah doa dari Selatan — doa dari para penyair di hutan Amazon, dari novelis India yang menulis di bahasa ibu yang dilupakan, dari penyair Afrika yang suaranya tersimpan di pasir gurun dan darah kolonialisme yang belum kering.

Namun, ketika semangat itu sampai ke meja panitia, entah kenapa ruhnya seperti kehilangan arah.
Pemilihan penerima penghargaan yang tidak melalui mekanisme terbuka, atau sekadar “tunjuk saja” (seperti baruak yang memetik pisang di kebun orang lain), membuat marwah BRICS turun ke kelas perayaan kecil—tanpa arah, tanpa seleksi yang bermartabat. Seolah-olah penghargaan ini lahir dari niat besar, tetapi diurus dengan cara kecil.

Sastra yang Ditimbang oleh Tangan yang Tak Tahu Beratnya Kata

Ada satu pertanyaan mendasar yang mengendap di ruang para seniman yang peduli:
Apakah mereka yang duduk sebagai penentu BRICS Literature Award benar-benar memiliki kapasitas dan integritas sastra yang memadai untuk menilai nilai-nilai puitis, kultural, dan filosofis dari dunia Selatan?

Karena menilai sastra bukan sekadar membaca teks dan mengutip teori, tetapi merasakan denyut sejarah yang hidup di dalamnya.
Menilai sastra adalah mendengar suara rakyat yang diwakili oleh kata.
Dan jika penghargaan ini hanya berputar di lingkar elit kecil—yang menjadikan sastra sebagai diplomasi, bukan nurani—maka BRICS bukan lagi simbol kebangkitan Selatan, melainkan replika baru dari kolonialisme gaya baru, dengan aksen berbeda.

Sastra yang seharusnya menjadi jembatan kesetaraan, malah dijadikan panggung kosmetik kekuasaan.

Harga yang Murah dari Sebuah Nama yang Besar

Ketika BRICS Literature Award diumumkan, seharusnya dunia bergetar; namun yang terdengar hanyalah gema kecil di ruang sunyi.
Mengapa? Karena penghargaan sebesar itu justru kehilangan bobot moralnya.

Rendahnya harga BRICS Award—baik secara simbolik maupun etis—membuatnya tampak seperti piala kosong yang dibagikan di pesta yang salah alamat.
Seperti kalung emas di leher boneka kayu.

Sastra bukanlah lomba kecepatan atau kekuasaan diplomatik antarnegara. Ia adalah percakapan panjang antara nurani manusia dan sejarahnya. Dan penghargaan semacam ini, jika ingin benar-benar berarti, harus memiliki satu hal yang tidak bisa dibeli: martabat.

Tanpa martabat, penghargaan hanyalah formalitas; dan tanpa keadilan, ia hanyalah kosmetik globalisasi.

BRICS dan Bayangan Panjang Hegemoni yang Tak Pernah Usai

Ironisnya, bahkan ketika BRICS ingin melawan dominasi “Utara”, ia justru meniru gaya yang sama:
pemberian penghargaan yang tertutup, elitis, penuh politik kepentingan, tanpa transparansi dan keterlibatan publik sastra.

Seakan-akan BRICS hanya menukar warna bendera, tapi bukan sistem nilai.
Seakan Selatan hanya ingin menjadi Utara dengan cara lain.

Padahal, misi BRICS seharusnya bukan hanya “melawan”, tetapi “menyembuhkan”.
Bukan sekadar menggulingkan simbol, tetapi membangun etika baru dalam cara kita menghargai karya dan penulis.

Jika BRICS Literature Award ingin hidup lebih lama dari sekadar seremoni, ia harus belajar dari akar:
bahwa perlawanan sejati lahir dari kejujuran, bukan dari daftar nama yang diatur di ruang ber-AC.

Sastra Sebagai Nafas Dunia Selatan

Sastra dari Selatan bukan sekadar karya estetis, melainkan cermin perjuangan eksistensial.
Ia bicara tentang kemiskinan, perang, perempuan, kolonialisme, dan kerinduan yang abadi terhadap martabat manusia.

Maka BRICS, dengan segala potensi besar yang dimilikinya, semestinya menjadi ruang bagi suara-suara itu — bukan malah menutup pintu bagi mereka yang tak punya akses ke meja elite budaya.

Karena bagi dunia Selatan, sastra adalah napas, bukan trofi.
Dan penghargaan sejati adalah ketika kata-kata itu sampai kepada mereka yang tak pernah punya kesempatan bicara.

Jalan Kritis Menuju Martabat

Perlawanan sejati BRICS bukanlah pada klaim “kami juga bisa”, tetapi pada cara ia memulihkan nilai keadilan dalam dunia sastra.
Kritik terhadap mekanisme BRICS Literature Award bukanlah penolakan terhadap idenya, melainkan panggilan untuk memperbaiki rumah yang temboknya mulai retak sebelum dihuni.

Keterbukaan, transparansi, dan keberanian menghadirkan juri lintas disiplin dan lintas bahasa adalah syarat mutlak agar penghargaan ini tak jatuh menjadi olok-olok.
BRICS harus berhenti menjadi “klub diplomatik” dan mulai menjadi “komunitas nurani dunia”.

Perlawanan Itu Bernama Kejujuran

Pada akhirnya, BRICS Literature Award hanyalah cermin.
Cermin yang bisa menunjukkan wajah Selatan yang gagah—atau sebaliknya, wajah yang masih haus legitimasi dari Utara.

Dan jika BRICS ingin dikenang sebagai perlawanan sejati, ia harus belajar pada satu hal sederhana yang selalu diajarkan oleh sastra:
bahwa yang paling berharga bukanlah penghargaan itu sendiri, melainkan kebenaran kata.

Karena penghargaan tanpa kejujuran hanyalah piala dari kaca—berkilau di luar, tapi rapuh di dalam.
Dan Dunia Selatan, yang telah lama diperjuangkan, tidak butuh kaca semu;
ia butuh cahaya yang tumbuh dari luka, bukan dari pesta.

Apakah BRICS akan menjadi matahari baru dunia sastra, atau sekadar lentera politik yang padam sebelum subuh?
Itu tergantung pada keberanian mereka memandang diri sendiri:
apakah masih meniru langit utara, atau sudah berani menulis langitnya sendiri.

“Karena sastra bukan hanya karya,
tapi cara dunia Selatan bersuara —
tentang keadilan, martabat, dan identitas.”

II

BRICS Literature Award: Perlawanan dari Selatan

Dari Nobel ke BRICS: Siapa yang Berhak Menentukan Nilai Kata?

Selama berabad-abad, dunia sastra global dikawal oleh pusat-pusat intelektual yang berbahasa Inggris dan Eropa. Penghargaan-penghargaan besar seperti Nobel Prize in Literature, Man Booker, dan Pulitzer telah membentuk sebuah “sistem tata surya” di mana segala bentuk pengakuan berputar di sekitar satu matahari — Utara.
Di sanalah “standar universal” ditulis, dan dari sanalah dikirimkan sinar legitimasi yang menentukan siapa yang berhak disebut sastrawan besar dunia.

Namun di balik cahaya itu, Dunia Selatan hanya menjadi bayangan panjang yang dilihat melalui kacamata kolonialisme estetika.
Penulis-penulis dari Asia, Afrika, atau Amerika Latin sering kali harus menulis dengan gaya yang “terjemahan-barat”—agar bisa dipahami, diterima, dan diberi penghargaan oleh para juri yang bahkan tidak hidup dalam konteks sosial yang sama.

Maka lahirlah BRICS Literature Award: sebuah perlawanan simbolik dari Selatan terhadap dominasi epistemik Utara.
Ia hadir tidak hanya sebagai institusi baru, tetapi sebagai manifestasi dari keinginan lama yang terpendam — keinginan untuk mendefinisikan ulang apa itu nilai sastra dalam konteks yang lebih inklusif, lebih manusiawi, dan lebih mewakili kenyataan kultural dunia yang majemuk.

Namun, dalam praktiknya, keinginan mulia ini kerap terjebak dalam paradoks yang ironis: perlawanan yang meniru cara lawan.
Dan di sinilah kritik menjadi penting — bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk mengembalikan marwah yang mungkin hilang dalam perjalanan menuju legitimasi global.

Hegemoni Baru dalam Jubah Selatan

Antonio Gramsci pernah menulis bahwa hegemoni bukan hanya dominasi politik, tapi juga persetujuan moral dan kultural yang diterima tanpa sadar oleh masyarakat.
Dalam konteks BRICS, hegemoni baru justru berpotensi tumbuh di balik klaim “perlawanan Selatan”.

Ketika penentuan pemenang BRICS Literature Award dilakukan tanpa mekanisme transparan, tanpa ruang partisipasi publik sastra, tanpa proses penilaian terbuka yang menimbang keberagaman bahasa dan kultur, maka penghargaan itu berubah menjadi monumen kosong — sekadar menukar pusat kekuasaan dari Barat ke Timur, dari London ke Beijing, dari New York ke New Delhi.

Padahal, Dunia Selatan seharusnya tidak sekadar menggeser arah kompas, tapi mengganti cara membaca dunia.
Sastra seharusnya bukan arena legitimasi negara, melainkan cermin batin bangsa-bangsa.
Dan penghargaan semacam BRICS seharusnya berangkat dari prinsip cultural democracy — di mana semua bahasa, dialek, dan pengalaman manusia memiliki nilai yang sama, tak peduli dari mana ia berbicara.

Namun yang terjadi justru seperti yang dikatakan Ngũgĩ wa Thiong’o dalam bukunya Decolonising the Mind (1986):

“Bahaya terbesar dari kolonialisme bukanlah penjajahan tanah, tetapi penjajahan imajinasi.”

Jika BRICS tidak berhati-hati, ia bisa jatuh dalam bentuk kolonialisme baru — kali ini atas nama solidaritas selatan.

Martabat Penghargaan dan Krisis Mekanisme

Kritik yang muncul terhadap BRICS Literature Award bukanlah sekadar sentimen personal, melainkan panggilan intelektual agar penghargaan ini benar-benar menjadi representasi nilai.
Sebuah penghargaan sastra yang baik harus berakar pada mekanisme yang etis: terbuka, terukur, dan memiliki legitimasi moral di mata komunitas sastra itu sendiri.

Ketika prosesnya tertutup, dan pemenang muncul seolah dari ketiadaan, BRICS kehilangan bobot simboliknya.
Hal ini bukan soal siapa yang menang, melainkan bagaimana kemenangan itu dimaknai.

Dalam etika penghargaan sastra, legitimasi tidak hanya dibangun oleh dewan juri, tetapi oleh kesadaran publik bahwa proses tersebut adil dan bernilai.
Ketika keadilan itu kabur, penghargaan berubah menjadi tanda tanya.

Seorang penyair Amerika Latin pernah menulis:

“Sastra yang tidak jujur kepada prosesnya, tak ubahnya seperti bunga yang mekar di kebun palsu.”

Kebun itu mungkin indah, tapi tidak berakar.

Sastra sebagai Politik Keadilan

Sastra sejati selalu bersentuhan dengan politik, bukan dalam arti propaganda, tetapi dalam arti politik keberadaan manusia.
Ia menulis tentang ketimpangan, tentang penindasan, tentang ketidakadilan yang dirasakan oleh mereka yang tidak punya suara.

Maka penghargaan sastra bukan sekadar perayaan bentuk, tetapi pengakuan terhadap isi perjuangan manusia.
Ketika Dunia Selatan — dari Brasil hingga Indonesia — mengajukan BRICS Literature Award, semestinya ia juga mengajukan sebuah pernyataan politik: bahwa sastra adalah hak untuk didengar, bukan sekadar alat untuk dihias.

Namun ironinya, penghargaan ini justru tampak seperti panggung diplomasi antarnegara, bukan forum kebudayaan antarjiwa.
Nama-nama yang dipilih tidak merepresentasikan denyut sastra rakyat di desa-desa atau komunitas urban yang bergolak.
Yang muncul adalah figur-figur yang sudah dekat dengan lembaga, bukan dekat dengan luka.

BRICS, jika ingin disebut perlawanan, harus berani memihak yang terluka.
Karena Dunia Selatan tidak butuh trophy, ia butuh pengakuan terhadap penderitaan dan martabat manusia.

Dekolonisasi Penghargaan: Dari Utara ke Nurani

Tagore pernah menulis dalam Sadhana:

“Kebebasan sejati bukanlah menolak dunia, tetapi menolak penjara yang dibangun di dalam pikiran.”

BRICS harus membaca ini dengan hati terbuka.
Perlawanan terhadap hegemoni sastra Barat bukan berarti meniru sistem penghargaan mereka, tetapi membangun struktur penghargaan yang berakar pada etika kerakyatan.

Dekolonisasi penghargaan berarti memulihkan makna penghargaan itu sendiri.
Bahwa memberi penghargaan bukan berarti menempatkan seseorang di atas yang lain, melainkan menyalakan kembali api pengetahuan yang hidup dalam diri semua orang.

Dalam logika ini, penghargaan sastra tidak lagi menjadi piramida prestise, tetapi lingkaran nilai yang egaliter.
Setiap bahasa, setiap puisi, setiap kisah yang lahir dari tanah — berhak diakui karena kejujurannya, bukan karena paspornya.

Kritik sebagai Tanda Cinta

Kritik yang keras terhadap BRICS bukanlah tanda kebencian, tetapi tanda cinta terhadap ide dasarnya.
Karena hanya yang mencintai yang berani menegur.
Seperti seorang penyair menegur puisinya sendiri yang belum matang.

Kritik adalah bentuk kepedulian, bukan permusuhan.
Dan BRICS, jika ingin tumbuh menjadi lembaga berwibawa, harus membuka telinganya kepada kritik itu — sebab kritiklah yang menjaga sebuah lembaga dari pembusukan kekuasaan.

Michel Foucault pernah berkata, “Dimana ada kekuasaan, disana ada resistensi.”
Dan resistensi intelektual terhadap BRICS Literature Award adalah cermin bahwa dunia sastra Selatan masih hidup, masih peduli pada kebenaran, dan belum rela dijadikan alat simbolik diplomasi.

Menuju Etika Baru: Sastra yang Membebaskan

BRICS memiliki peluang sejarah: membangun tatanan penghargaan sastra dunia yang baru, berbasis pada nilai humanisme selatan — di mana kemanusiaan tidak diukur dari prestise universitas atau nama lembaga, melainkan dari keberanian menulis tentang penderitaan.

Bayangkan bila penghargaan ini diberikan kepada penulis anonim dari pedalaman Amazon yang menulis tentang hutan yang hilang, atau penyair perempuan di Afrika yang menulis dengan darah menstruasi di dinding rumah bata, atau penulis Indonesia yang menulis puisi tentang laut yang dirampas korporasi.
Maka BRICS akan benar-benar menjadi simbol kebangkitan nurani global.

Namun jika penghargaan ini terus dikelola oleh elit yang hanya saling menepuk bahu, maka ia akan menjadi sekadar topeng diplomasi ekonomi — dan sastra, sekali lagi, hanya akan menjadi perhiasan di meja konferensi.

Keadilan Kata dan Martabat Dunia Selatan

BRICS Literature Award seharusnya menjadi altar di mana kata-kata suci dari Selatan diangkat dan dihormati.
Namun altar itu kini tampak goyah, karena dasar moralnya belum kuat.

Jika BRICS ingin bertahan, ia harus berani melakukan autokritik, membuka mekanisme, dan menegaskan kembali misi kemanusiaannya.
Sastra adalah jalan sunyi — ia hanya dapat dimuliakan oleh mereka yang tulus berjalan di dalamnya.

Dunia Selatan menunggu bukan penghargaan, tetapi kebenaran.
Karena penghargaan sejati tidak pernah diberikan dari podium, tetapi dari sejarah yang mencatat siapa yang menulis dengan darah dan siapa yang menulis dengan kuasa.

“Sastra bukan hanya karya,
tapi cara dunia Selatan bersuara —
tentang keadilan, martabat, dan identitas.”

Sumatera Barat, Indonesia 2025.