Buah dari Konsistensi Menjaga Ekologi : MAN Sawahlunto Jadi Sampel Penilaian Adipura Tim Adipura Kota Sawahlunto Oleh Kementerian Lingkungan Hidup RI
SAWAHLUNTO, 17 September 2025 Di balik jejak-jejak sejarah tambang batu bara yang terukir di batu-batu tua Kota Sawahlunto, berdiri sebuah madrasah yang perlahan namun pasti menjelma menjadi oase hijau pendidikan MAN Kota Sawahlunto. Di Madrasa ini, ekologi bukan sekadar teori yang diajarkan dalam ruang kelas, melainkan napas yang menghidupi setiap sudut kehidupan warga sekolah.
Pada Rabu Sore yang cerah, di tengah semilir angin yang membawa harum dedaunan basah, MAN Kota Sawahlunto mendapat kehormatan istimewa dipilih sebagai sampel penilaian Tim Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Kunjungan ini bukan sekadar inspeksi rutinitas, tetapi pengakuan atas upaya panjang menjaga harmoni antara manusia dan lingkungan.
Tim penilai yang terdiri dari Fadhila Ramadhani dan Yuriska Andiri, dua sosok yang melangkah menyusuri lorong-lorong MAN Kota Sawahlunto. Mereka didampingi oleh Uttiya Annisa, pendamping dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Sawahlunto, Serta Kepala MAN Kota Sawahlunto Dafril Tuanku Bandaro, Kaur TU Yurmaini, Wakil Kepala Bidang Sarpras Husein Al Haves, wakil kepala bidang Kurikulum Oky Loly Weny, Wakil Kepala Bidang kesiswaan Syafri Ervandi, Wakil Kepala Bidang Humas Nofri Hendra serta seluruh civitas akademika MAN Kota Sawahlunto yang dengan bangga memperkenalkan setiap sudut kebun, bank sampah, taman obat keluarga, serta berbagai inovasi ekologis yang menjadi denyut nadi madrasah ini.
Apa yang membuat MAN Kota Sawahlunto berbeda bukan hanya keindahan visual taman-taman kecil yang menghiasi pekarangan MAN Kota Sawahlunto, tetapi filosofi mendalam yang melandasi setiap tindakan: bahwa menjaga alam adalah bentuk ibadah, bahwa kebersihan dan keteraturan adalah bagian dari iman.
Dalam sambutan Kepala MAN Kota Sawahlunto Dafril menyampaikan ucapan bangga dan merasa terharu dengan terpilihnya MAN Kota Sawahlunto sebagai sampel Penilaian Adipura di Kota Sawahlunto. Dan memohon bimbingan yang berkesinambungan agar MAN Kota Sawahlunto kedepannya bisa menjadi Madrasah Adiwiyata untuk tingkat Nasional ujar Dafril.
Program “Satu Siswa Satu Tanaman”, pengelolaan kompos mandiri, serta pemanfaatan air hujan sebagai sumber irigasi taman, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bahkan, siswa-siswa dilibatkan aktif dalam patroli kebersihan harian, menjadikan kesadaran ekologis sebagai budaya, bukan sekadar kewajiban.
Sementara itu, Yuriska Andiri menambahkan, “Apa yang kami saksikan di sini adalah perwujudan nyata dari pendidikan lingkungan hidup yang holistik. Bukan hanya infrastruktur, tetapi mentalitas dan komitmen seluruh warga madrasah yang menjadi kekuatan utama dan juga telah berinovasi dalam pengelolaan sampah.” Semoga apa yang telah ada saat ini untuk dapat di pertahankan dan di tingkatkan untuk kedepannya.
Uttiya Annisa, yang telah mendampingi banyak sekolah dan Madrasah dalam program lingkungan, menyebut MAN Kota Sawahlunto sebagai salah satu sekolah dengan “roh hijau yang hidup.” “Banyak sekolah yang bagus secara fisik, tapi tidak semuanya punya jiwa. Di sini, jiwa itu nyata: dalam kerja, dalam hati, dalam visi,” tutur utti penuh haru.
Kunjungan Tim Adipura bukanlah tujuan akhir, tetapi sebuah penanda bahwa langkah yang ditempuh sudah berada di jalan yang benar. MAN Kota Sawahlunto kini tidak hanya menjadi contoh baik di tingkat kota, tetapi juga membawa pesan kuat ke panggung nasional bahwa dari kota kecil yang dahulu dikenal karena tambang, kini lahir generasi baru yang menambang harapan dari tanah, dari air, dari pohon, dan dari kesadaran ekologis.
Kontributor : Nofri Hendra
Editor : DTB