April 23, 2026

Antologi Puisi

Oleh: Rizal Tanjung

1 – Taman yang Dititipkan

Ada yang datang menanam bunga
di pelataran jantungku.
Ia tidak memetik,
tidak pula menukar harum dengan janji,
hanya menatap dalam diam,
seakan taman itu adalah kitab
yang perlu dibaca dengan sabar,
bukan pesta yang usai dalam semalam.

2 – Pelukan Hujan

Mereka yang mencintai mataku
bukan karena beningnya,
melainkan karena hujan yang deras
di dalamnya.
Mereka menjahit gemercik itu
menjadi sungai,
dan aku pun tenang,
meski langit tak henti meneteskan luka.

3 – Kabut yang Berlalu

Ada yang datang sebagai kabut,
sekilas menutup jurang,
sekilas menutup jalan.
Indah hanya untuk pandangan jauh,
tetapi ketika matahari bertanya,
“Siapakah yang kau cintai?”
Ia pun lenyap,
menyisakan jalan licin
tempat aku hampir tergelincir.

4 – Dermaga yang Sepi

Hatiku terlalu sering menjadi dermaga
untuk kapal yang hanya ingin lewat.
Tiang-tiangku patah oleh tali janji
yang tidak pernah terikat.
Aku akhirnya belajar:
lebih baik menunggu badai,
daripada membuka lengan
untuk layar yang tak pernah singgah.

5 – Ombak Asing

Kapal-kapal itu pergi,
dibawa ombak ke laut asing.
Aku biarkan.
Biarkan samudra menguji mereka,
sebab bukan tugasku lagi
mendoakan layar yang enggan bersandar
pada pelabuhan hatiku.

6 – Cahaya Pagi

Lalu cahaya mengetuk jendelaku,
membawa emas lembut
menyapu dinding luka.
Ia tidak bertanya,
tidak pula menawar,
hanya hadir—
dan itu cukup membuatku percaya
bahwa kesembuhan kadang datang
seperti fajar: tanpa izin,
tapi pasti.

7 – Bunga yang Terbuka

Meski semalam badai menghempas,
ranting patah,
tanah penuh serpih luka,
namun kelopak harapanmu terbuka lagi.
Betapa ajaib cinta
yang tidak peduli pada reruntuhan,
tetap berani tumbuh
di antara puing-puing.

8 – Api Musim Gugur

Ada yang tinggal di musim gugurku.
Ketika dedaunan jatuh,
mereka tidak mengeluh.
Mereka menyalakan perapian,
membuatku hangat
meski angin menggigilkan tulang.
Dari mereka aku belajar:
cinta bukanlah bunga,
cinta adalah api
yang tetap menyala di reruntuhan hening.

9 – Kitab yang Tak Pernah Usai

Cinta sejati adalah kitab
tanpa halaman terakhir.
Kau bisa membacanya ribuan kali,
selalu berbeda makna.
Ia bukan sekadar dongeng
yang tamat di ujung halaman,
ia adalah doa
yang tak selesai dibaca oleh waktu.

10 – Nyala yang Tidak Terburu-buru

Kilatan petir memang mengguncang,
tetapi ia segera menyerahkan mu
kembali pada kegelapan.
Sedang nyala yang lambat,
yang sabar,
yang tenang,
itulah cahaya yang menetap.
Dan aku memilihnya,
meski dunia lebih sering memuja
gemuruh sesaat.

11 – Luka yang Mendidih

Hatiku pernah mendidih
oleh janji yang pecah.
Ia seperti kuali
yang ditinggal api terlalu lama.
Asapnya menusuk mata,
membuatku buta sesaat,
hingga hampir tak percaya
ada cinta yang tulus.

12 – Perempuan Kabut

Ia cantik dalam sekejap,
membungkus bukit hatiku.
Tapi ia tak punya akar,
tak punya tanah.
Aku sadar,
perempuan kabut hanya mampir,
menyisakan bekas basah,
bukan kehidupan.

13 – Lelaki Ombak

Ada lelaki datang sebagai ombak.
Suara dan geraknya indah,
tapi ia tidak pernah berhenti.
Setiap bisikan cintanya
adalah buih,
setiap janji hanyalah pecah
di batu karang waktu.

14 – Rumah di Dalam Luka

Aku akhirnya belajar
membangun rumah
di tengah luka.
Bukan untuk meratap,
tetapi untuk berteduh
sampai seseorang datang
menyalakan lilin di dalamnya.

15 – Pertanyaan Matahari

Matahari selalu bertanya padaku:
“Siapa yang kau biarkan tinggal?”
Dan aku menjawab:
“Bukan yang datang dengan kabut,
bukan yang tiba dengan petir,
tetapi yang mau berjalan pelan,
menjadi fajar
di pagi hidupku.”

16 – Perapian di Dada

Mereka yang tulus
tidak memberi bunga,
tidak membawa petir,
tidak pula meminjam kabut.
Mereka hanya menyalakan perapian,
membiarkanku duduk tenang
menyisir waktu bersama kehangatan.

17 – Gelap yang Belajar Menerima

Gelap ku tidak lagi menolak,
sebab ia tahu:
cahaya yang menetap
pernah belajar dari gelap.
Tanpa luka,
aku takkan pernah tahu
betapa berharga tangan
yang benar-benar menggenggam.

18 – Cahaya yang Menyala di Reruntuhan

Tidak semua cinta datang
di musim semi.
Ada cahaya
yang memilih reruntuhan
sebagai rumahnya.
Di situ ia menetap,
di situ ia berakar,
dan aku pun percaya:
bahwa yang hancur
masih bisa jadi tempat tinggal cinta.

19 – Kesetiaan yang Diam

Kesetiaan tidak banyak bicara.
Ia hanya duduk di sampingmu,
tetap ada ketika kau runtuh,
tetap ada ketika kau bangkit.
Kesetiaan adalah puisi
yang tidak butuh panggung,
hanya butuh detak jantung
sebagai saksi.

20 – Cahaya yang Menetap

Akhirnya aku mengerti:
cinta sejati bukan datang dan pergi,
bukan kilat yang menakutkan langit.
Ia adalah cahaya
yang tidak terburu-buru padam,
yang menetap di musim gugurku,
yang tetap menyalakan api
meski hujan ingin memadamkan.

Dan di sinilah aku,
hidup bersama cahaya itu,
tak lagi mengejar kilat,
tak lagi meratap pada kabut,
hanya mencatat:
bahwa cinta yang benar
adalah cahaya yang menetap.

Sumatera Barat, Indonesia 2025.