April 23, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

Gelombang demonstrasi yang membanjiri jalan-jalan kota di republik ini bukanlah sekadar letupan emosi sesaat, apalagi konspirasi asing yang ditiupkan lewat kabar-kabar buram. Ia lahir dari luka panjang, dari kantung rakyat yang makin tipis, dari meja makan yang kian kosong, dari harapan yang terjun bebas tanpa parasut.

Mereka yang turun ke jalan bukanlah boneka Soros, bukan pula bayang-bayang NED yang dikirim dari benua jauh. Menuduh rakyat sebagai pion kekuatan asing adalah jalan pintas yang malas, semacam penghapus instan bagi kegagalan pemerintah. Padahal, akar dari amarah ini jelas: harga sembako naik, pajak mencekik, biaya hidup menjerat, sementara pejabat berpesta pora di gedung bercahaya.

Di jalanan, kita tidak melihat intrik geopolitik; kita melihat perut yang lapar, kontrakan yang menunggak, anak-anak yang kehilangan beasiswa, dan buruh yang dipaksa memilih antara kerja lembur atau kehilangan pekerjaan. Inilah wajah asli demonstrasi: bukan tangan asing yang menyalakan api, tetapi bara keputusasaan rakyat sendiri.

Retorika Kekuasaan dan Anarki Epistemik

Narasi kekuasaan selalu punya topeng. Mereka membesar-besarkan ancaman demonstrasi sebagai tanda kehancuran negara—itulah hiperbolisme. Mereka mereduksi tuntutan rakyat menjadi sekadar “gangguan ketertiban”—itulah reduksionisme. Dua racun epistemik ini menjelma gas air mata, barikade kawat berduri, dan label “anarkis” yang dilemparkan media resmi.

Namun, kebenaran yang dibawa rakyat justru lahir dari bawah, dari jalanan yang panas. Mereka bukan perusuh, mereka adalah pengingat bahwa suara publik tidak boleh dikubur di bawah narasi tunggal negara.

Ketimpangan yang Membelah Bangsa

Ketika pejabat bicara stabilitas, rakyat justru merasakan ketimpangan. Ada jurang yang makin lebar antara istana dan gubuk, antara podium dan pasar tradisional. Negara menyebut dirinya rumah bersama, tapi sebagian besar penghuninya tidur di teras, menggigil, sementara segelintir penghuni istana menyalakan lilin emas di meja makan.

Inilah yang membuat demonstrasi berlarut dan berubah menjadi anarki: bukan karena campur tangan asing, melainkan karena rasa keadilan yang dipasung terlalu lama. Ketika rakyat tidak punya lagi pintu masuk untuk didengar, jalan raya menjadi mimbar terakhir, dan kerikil yang dilemparkan adalah doa yang gagal dikabulkan.

Politik yang Rapuh, Bangsa yang Ternacam

Ketimpangan politik memperparah luka. Alih-alih menjadi arena musyawarah, parlemen justru menjadi panggung sandiwara. Perbedaan pandangan politik tak lagi menjadi dialektika sehat, melainkan sumber perpecahan. Rakyat terjebak di tengah pertengkaran elite, seperti anak-anak yang dipaksa memilih antara ayah dan ibu yang saling berebut warisan.

Api yang Menyala dari Dalam

Maka, mari kita jujur pada diri sendiri: yang membuat republik ini bergetar bukanlah bayang-bayang Soros, bukan pula agenda gelap Barat. Api ini menyala dari dalam, dari tungku rakyat yang lama dibiarkan padam.

Jika pemerintah terus menutup mata, terus mencari kambing hitam di luar, maka bangsa ini hanya akan jadi rumah kaca yang retak: dari luar tampak utuh, dari dalam penuh pecahan. Dan setiap pecahan kaca itu adalah suara rakyat—tajam, menyakitkan, dan tak bisa disatukan kembali dengan pidato semata.

Demonstrasi adalah cermin retak republik: ia menunjukkan siapa kita sebenarnya, sekaligus memperingatkan bahwa retakan kecil bisa menghancurkan rumah besar jika tak segera diperbaiki.

Sumatera Barat,2025