Cahaya Cak Nur di Tengah Kegelapan Bangsa
*(Oleh: Paulus Laratmase
–
Jakarta – suaraanaknegerinews.com| Dalam suasana penuh khidmat dan reflektif, Dr. Budhy Munawar-Rachman, pendiri Nurcholish Madjid Society (NCMS) sekaligus Direktur Paramadina Center for Religion and Philosophy, tampil membawakan Pidato Kebudayaan bertajuk “Cahaya Pemikiran Nurcholish Madjid untuk Menerangi Indonesia Gelap”. Pidato ini bukan saja untuk mengenang sosok Nurcholish Madjid (Cak Nur) sebagai intelektual Muslim pembaru, tetapi juga sebagai seruan moral dan spiritual bagi bangsa Indonesia yang tengah bergulat dengan krisis nilai, korupsi, intoleransi, dan kemerosotan etika publik.
Dr. Budhy membuka pidatonya dengan sebuah pantun sederhana, namun sarat makna:
Pergi ke pasar membeli lentera,
Lentera dinyalakan saat malam gelap.
Cahaya Cak Nur menuntun kita,
Membawa bangsa menuju hidup yang terang dan tetap.
Pantun itu, katanya, menjadi metafora tentang perjalanan bangsa Indonesia, yang sering kali tersesat dalam kegelapan moral dan kehilangan lentera pemandu nilai. Lentera itu, dalam pandangan Budhy, adalah pemikiran Cak Nur, seorang intelektual Muslim yang berani menyalakan api rasionalitas dan inklusivitas di tengah gelapnya konservatisme dan politisasi agama.
Cak Nur: Lentera Intelektual yang Tak Padam
Dr. Budhy menegaskan, setiap bangsa akan selalu berhadapan dengan kegelapan zamannya: krisis moral, kebuntuan politik, ketidakadilan ekonomi, hingga kehilangan arah nilai. Indonesia, kata dia, bukan pengecualian. Dari masa kolonial hingga reformasi, negeri ini tak pernah benar-benar bebas dari kegelapan structural dari kemiskinan, korupsi, hingga sektarianisme yang menyesakkan.
Dalam situasi seperti inilah, Nurcholish Madjid hadir sebagai cahaya intelektual yang menuntun umat keluar dari kebekuan berpikir. Ia tidak sekadar berbicara tentang agama dalam bingkai dogma, melainkan menghidupkannya sebagai kekuatan moral dan rasional yang membebaskan manusia.
Melalui gagasan fenomenalnya tahun 1970, “Islam Yes, Partai Islam No”, Cak Nur mengajak umat Islam untuk memisahkan nilai keagamaan dari alat politik. Ia menolak menjadikan agama sebagai kendaraan kekuasaan. Menurut Budhy, keberanian intelektual ini adalah titik terang pertama dalam sejarah pembaruan Islam Indonesia modern. “Agama,” kata Cak Nur seperti dikutip Budhy, “bukan simbol, tetapi orientasi etis menuju kebaikan bersama.”
Kini, lebih dari setengah abad kemudian, pesan itu terasa semakin relevan. Ketika politik identitas merebak, agama justru sering dijadikan komoditas. Cak Nur, lanjut Budhy, mengingatkan kita agar tidak menjadikan agama alat dominasi, tetapi sumber cahaya bagi keadilan dan kemanusiaan.
Agama Sebagai Cahaya, Bukan Simbol Kekuasaan
Budhy memaparkan, salah satu sumbangan terbesar Cak Nur adalah mendudukkan agama sebagai sumber pencerahan moral, bukan perebutan kekuasaan. Ia menyebut bahwa Islam sejatinya adalah agama keterbukaan dan kemajuan, bukan eksklusivitas. Dalam konteks inilah, Cak Nur mengajak umat untuk memahami Islam sebagai jalan rasionalitas dan demokrasi, ajaran yang menegakkan kebebasan berpikir dan keadilan sosial.
Mengutip Rumi, Budhy mengatakan, “Cahaya tidak pernah bertanya siapa yang akan menerimanya. Ia hanya bersinar.”
Demikian pula dengan agama. Agama, kata Budhy, seharusnya menyinari kehidupan, bukan menyilaukan. Ia memandu tanpa menindas, menyatukan tanpa menghapuskan perbedaan.
Namun, Budhy juga mengingatkan bahwa warisan pemikiran Cak Nur sering kali hanya berhenti di ruang akademik. Tantangan terbesar kini adalah bagaimana menerjemahkan cahaya itu menjadi kebijakan publik dan gerakan sosial. “Ide tanpa praksis,” ujarnya, “hanya akan menjadi verbalismo—omong kosong yang indah tapi tak membebaskan.”
Pluralisme: Cahaya dari Keberagaman
Salah satu gagasan kunci yang disoroti Budhy adalah pluralisme. Menurutnya, Cak Nur melihat pluralitas bukan ancaman, melainkan sunnatullah, ketentuan Tuhan yang justru memperkaya kemanusiaan. Dalam pidatonya, Budhy mengutip QS. Al-Hujurat ayat 13: “Kami ciptakan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
“Perbedaan,” tegas Budhy, “bukanlah kegelapan, melainkan cahaya yang memperluas cakrawala manusia.”
Ia mengaitkannya dengan pesan Martin Luther King Jr.: “Kegelapan tidak dapat mengusir kegelapan; hanya cahaya yang dapat melakukannya.” Pesan ini, menurutnya, menggambarkan misi pluralisme Cak Nur, bahwa cinta dan pengakuan terhadap perbedaan adalah dasar bagi peradaban yang damai.
Sayangnya, pluralisme ini sering ditolak oleh kelompok-kelompok eksklusif. Cak Nur bahkan pernah dituduh liberal, hanya karena membuka pintu dialog lintas iman. Namun, Budhy menegaskan, sejarah selalu berpihak pada mereka yang berani membawa cahaya. “Socrates dihukum mati karena berpikir. Tapi justru karena itulah dunia mengenangnya,” ucapnya disambut tepuk tangan hadirin.
Modernitas dan Spiritualitas: Dua Sayap Peradaban
Budhy menilai bahwa pemikiran Nurcholish Madjid tidak berhenti pada pembaruan teologis. Lebih jauh, ia menawarkan sintesis antara iman dan rasionalitas, antara spiritualitas dan modernitas. Menurut Cak Nur, modernitas bukanlah westernisasi, melainkan rasionalisasi kehidupan agar lebih adil dan manusiawi.
“Modernitas dan agama bukan musuh,” tegas Budhy mengutip Cak Nur. “Keduanya sahabat: akal memberi arah, iman memberi makna.”
Dalam kerangka ini, Budhy melihat gagasan Cak Nur sejalan dengan spirit Pancasila. Ketuhanan menjadi fondasi moral bangsa, namun sila-sila lainnya menegaskan kemanusiaan dan keadilan sosial sebagai pengejawantahan nilai religius. “Menghidupkan Pancasila berarti menghidupkan Islam sebagai rahmat bagi semesta,” ujar Budhy.
Krisis Integritas dan Etika Publik
Pidato Budhy kemudian menyinggung salah satu “kegelapan” paling nyata di Indonesia: krisis integritas. Korupsi, kolusi, dan nepotisme, katanya, bukan hanya soal hukum, tetapi juga soal moralitas yang rapuh. “Bangsa kita religius di simbol, tapi sering absen dalam kejujuran dan keadilan,” ujarnya.
Ia mengaitkan gagasan Cak Nur dengan etika publik Immanuel Kant: bahwa tindakan moral harus bisa dijadikan hukum universal. Korupsi, dengan demikian, adalah bentuk penghianatan terhadap akal dan iman sekaligus.
“Cak Nur ingin agama menjadi sumber energi moral untuk melawan kegelapan sistemik,” lanjut Budhy. “Namun, etika publik ini hanya akan hidup jika didukung budaya baru budaya integritas.”
Budhy lalu mengutip Antonio Gramsci, bahwa perubahan sejati memerlukan hegemoni kultural, bukan sekadar pergantian rezim. Dalam kerangka itu, perjuangan Cak Nur dilihatnya sebagai proyek jangka panjang membentuk kesadaran bangsa: agar nilai-nilai etis menjadi kebiasaan sosial, bukan sekadar wacana.
Cak Nur dan Spirit Intelektual yang Merdeka
Bagi Budhy, warisan terbesar Cak Nur bukan pada teks atau teori, melainkan etos berpikir merdeka. Ia mengajarkan bahwa beragama berarti berani berpikir, berani berdialog, dan berani berbeda.
“Berpikir tanpa takut adalah bentuk tertinggi dari iman,” ucap Budhy, mengutip salah satu pesan Cak Nur.
Cak Nur, katanya, percaya bahwa akal adalah anugerah Ilahi. Menolak berpikir kritis berarti menolak karunia Tuhan itu sendiri. Pandangan ini membuatnya sering berhadapan dengan kelompok konservatif, tetapi juga menjadikannya pilar penting dalam sejarah intelektual Islam Indonesia.
Budhy kemudian mengkritik realitas pendidikan saat ini yang masih menutup ruang berpikir. Sekolah dan madrasah sering menekankan hafalan, bukan nalar kritis. “Bangsa yang kehilangan budaya berpikir,” katanya lirih, “akan kehilangan lentera peradabannya.”
Spiritualitas Kebangsaan dan Kesalehan Sosial
Dalam bagian selanjutnya, Budhy mengingatkan pentingnya spiritualitas kebangsaan. Ia menegaskan bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari iman hubbul wathan minal iman. Nasionalisme, dalam pandangan Cak Nur, bukan ideologi sekuler, melainkan ekspresi cinta pada Tuhan melalui cinta pada sesama warga.
Budhy menyoroti bahwa religiusitas Indonesia sering kali bersifat privat: ramai di tempat ibadah, tetapi sunyi di ruang sosial. “Kesalehan sejati,” katanya, “adalah kesalehan sosial mereka yang berbuat baik bagi orang lain tanpa pandang agama.” Ia mengutip hadis Nabi: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.”
Dalam konteks ini, Budhy menegaskan bahwa agama yang sejati harus menjadi cahaya publik. Agama yang berhenti pada simbol adalah agama yang kehilangan ruhnya. “Kita bisa tampak religius,” katanya, “tapi jika masih membiarkan ketidakadilan, kita sesungguhnya hidup dalam kegelapan.”
Menuju Pemikiran Pasca-Nurcholish Madjid
Di penghujung pidatonya, Budhy menyerukan lahirnya “pemikiran pasca-Nurcholish Madjid”. Ia tidak bermaksud meninggalkan Cak Nur, tetapi menghidupkan semangatnya dalam konteks baru. Dunia hari ini, katanya, menghadapi tantangan berbeda: globalisasi digital, krisis lingkungan, disrupsi moral, dan budaya pasca-kebenaran.
“Pemikiran pasca-Cak Nur harus melampaui modernisme,” ujarnya. “Ia harus menanggapi isu-isu keadilan sosial, kesetaraan gender, dan krisis ekologis.” Menurut Budhy, inilah bentuk Islam humanis-transformatif: Islam yang membebaskan manusia dan menjaga bumi sebagai amanah Tuhan.
Ia juga menyerukan perlunya dialog antara Islam dan tradisi pengetahuan lain, filsafat Timur, teologi antaragama, hingga kearifan lokal Nusantara. “Cak Nur membuka jendela,” katanya, “tugas kita kini adalah menjaga agar jendela itu tak kembali ditutup.”
Bangsa yang Terang, Bangsa yang Jujur
Menutup pidatonya, Budhy mengutip kata-kata Nurcholish Madjid yang terasa seperti wasiat:
“Kita memerlukan sikap keberagamaan yang terbuka, yang mampu menyalakan cahaya pencerahan, bukan yang membangun tembok kegelapan.”
Di ujung pidato, Budhy kembali berpantun:
Langkah pemuda menuju medan,
Bawa obor tak kenal lelah.
Hari ini kita berkumpul dengan satu tujuan,
Menyala bersama melawan gelap.
Pantun itu menjadi gema harapan: bahwa di tengah segala kegelapan bangsa, masih ada lentera yang menyala pemikiran, moralitas, dan semangat kemanusiaan yang diwariskan Nurcholish Madjid.
Budhy menutup dengan keyakinan, bahwa bangsa besar bukanlah bangsa yang paling religius di simbol, melainkan bangsa yang paling jujur, adil, dan berani menolak korupsi. Dan dalam perjuangan menyalakan cahaya itu, kata Budhy, nama Nurcholish Madjid akan selalu disebut sebagai lentera yang tak pernah padam di langit keindonesiaan.
*(Paulus Laratmase adalah Pimpinan Umum suaraanaknegerinews.com.