April 24, 2026

“Cinta di Tengah Liku: Sebuah Perjalanan Iman, Pendidikan, dan Harapan” (2)

Oleh Maria Sakka’ Tandiayu

Debaran itu nyata, meski saat itu tak sepenuhnya saya mengerti. Namun, dari situlah kisah cinta kami bermula. Bukan cinta yang datang tiba-tiba, melainkan cinta yang kelak tumbuh dan dipelihara dalam kasih Tuhan, di tengah lika-liku hidup yang tidak selalu mudah.

Saya berasal dari sebuah dusun kecil, datang ke Kota Palu dengan tujuan mulia: melanjutkan pendidikan di SPK (Sekolah Perawat Kesehatan). Cita-cita saya sederhana, tapi penuh makna—saya ingin menolong orang lain. Namun, Tuhan tampaknya punya rencana lain. Saya tidak diterima di SPK, dan akhirnya saya tetap tinggal di Palu untuk bersekolah di SMA Katolik di Jalan Danau Poso. Harapan saya, setelah lulus, saya bisa melanjutkan ke AKPER, karena banyak lulusan dari SMA tersebut diterima di sana.

Berpegang pada harapan itu, saya bertahan di Kota Palu. Di sinilah kisah kami bermula, menapaki langkah demi langkah yang pada akhirnya mengarah ke pernikahan.

Tahun 1997, saya pindah ke SMA BK Palu karena lokasinya lebih dekat dari tempat tinggal. Dua tahun kemudian, saya lulus dengan nilai cukup memuaskan. Saya bahkan bebas tes masuk Universitas Tadulako, jurusan Akuntansi. Namun, hati kecil saya menolak—itu bukan jalan yang saya dambakan. Ayah saya menelepon, meminta saya pulang ke Makassar untuk melanjutkan pendidikan di Farmasi. Tapi cinta… cinta membuat saya tetap di Kota Palu.

Saya beralasan bahwa saya diterima di Fakultas Ekonomi. Sebenarnya saya tak bahagia di sana, tapi saya mengikuti tes dan justru diterima di Fakultas Pertanian, jurusan Ilmu Tanah. Inilah alasan terbesar saya bertahan di kota ini: karena ada “dia” yang terasa terlalu sulit untuk ditinggalkan.

Hari-hari pun berjalan. Calon suami saya sibuk dengan pekerjaannya, sementara saya fokus pada perkuliahan. Dalam perjuangan akademik, dia selalu hadir memberi semangat, terlebih ketika nilai keluar—IPK saya selalu memuaskan. Angka 3,8 seolah menjadi angka langganan. Beasiswa pun datang bertubi-tubi. Banyak teman kagum pada pencapaian saya, tapi saya merasa belum puas. Saya ingin lebih dari itu.

Saya belajar dengan sungguh-sungguh. Tugas tak pernah terlewat, tidur nyenyak pun jarang. Saat praktikum, saya paling aktif bertanya, paling cepat mengerjakan tugas, bahkan ketika harus turun ke sawah atau kebun untuk mengambil sampel tanah. Saya tak pernah absen. Semangat saya semakin menyala, karena saya ingin membanggakan papa. Dan tentu saja, ada dia, yang selalu menjadi penyemangat.

Namun, hidup kadang tak bisa ditebak. Seorang senior, sekaligus asisten dosen, mulai mengganggu saya. Awalnya saya tak pedulikan. Suatu ketika, saat saya dirawat di rumah sakit, dia juga berada di sana menemani kekasihnya. Saya kira dia sudah melupakan saya, tapi ternyata tidak. Gangguan itu berlanjut.

Saat kegiatan himpunan fakultas, saya mengalami plonco yang cukup berat. Saya tetap tak menyangka bahwa senior itu bisa mencelakai saya. Waktu berlalu, saya masih semangat belajar, hingga suatu siang, dosen digantikan oleh senior tersebut. Ia memperlakukan saya secara tidak layak.

Beberapa waktu kemudian, nilai keluar. Saya kaget dan menangis saat melihat nilai T (tidak lulus) untuk salah satu mata kuliah. Saya memberanikan diri menghadap senior itu. Ia meminta saya datang ke rumahnya setelah kuliah. Bersyukur saya mengajak seorang teman, yang kini melayani di salah satu gereja di Surabaya, untuk menemani.

Di rumahnya, saya hampir dilecehkan. Untung ada teman yang menunggu di luar, sehingga saya bisa pulang dengan selamat. Namun, nilai itu tetap tak jelas nasibnya. Setelah kejadian itu, semangat saya mulai padam. Rasa takut menghantui. Saya kehilangan kepercayaan diri. Selama saya masih di kampus itu, saya tahu saya akan terus bertemu dia.

Saya sampaikan kepada calon suami bahwa saya ingin cuti kuliah. Setelah mempertimbangkan banyak hal, saya akhirnya mengambil cuti demi menjaga kesehatan mental dan rasa aman saya.

Hidup terus berlanjut. Suami tetap bekerja, saya pun menyibukkan diri selama masa cuti satu semester. Di bulan Februari 2000, suatu malam ia datang ke rumah kakak saya, menyatakan maksud hatinya: melamar saya. Sebagai seseorang yang masih terikat studi, saya ragu. Bagaimana bila saya tak bisa melanjutkan kuliah setelah menikah?

Namun keraguan saya menghilang saat dia mengatakan: “Setelah menikah, kamu tetap kuliah.”

Hari-hari berlalu seperti biasa. Pada Maret 2000, kami memulai bimbingan pernikahan di Gereja KIBAID Jemaat Palu. Pdt. Yusuf Umma, MA dan Ibu Pdt. Maria Rukka, S.Th membimbing kami. Dari mereka, saya belajar makna mendalam tentang pernikahan Kristen—bahwa pernikahan bukan untuk sehari atau seminggu, melainkan sekali seumur hidup. Tak ada kata “bosan”, tak ada “bercerai”. Ini adalah komitmen seumur hidup.

Meski hati saya sempat bertanya, “Benarkah ini keputusan yang tepat?” Tapi pembelajaran rohani itu menguatkan saya. Meski begitu, tantangan belum berakhir.

Kedua pihak keluarga dari kampung menentang rencana kami. Dari pihaknya, karena saya dianggap masih anak-anak dan belum bekerja. Saat itu usia saya baru 20 tahun. Tapi dia menenangkan saya: “Yang akan menikah adalah kita, bukan keluarga kita.”

Sementara itu, dari pihak orang tua saya, penolakan lebih keras. Papa menentang karena saya harus pindah dari Gereja Katolik. Ia seorang tokoh Katolik, dan sangat berat melepas anaknya pindah keyakinan. Bahkan Papa berkata, “Adakah orang mati karena tidak menikah?”

Saya stres. Tapi bersama-sama, kami meyakinkan orang tua bahwa keputusan ini adalah tanggung jawab kami. Dan akhirnya, saya sangat terharu ketika Papa berkata:

“Jangan pernah tinggalkan keputusan yang sudah kamu ambil. Jalani iman barumu dengan penuh tanggung jawab.”

Saya terdiam. Dalam hati saya bertanya: bagaimana mungkin Papa bisa berubah pikiran? Siapa yang bisa melunakkan hatinya? Saya tahu jawabannya—hanya Tuhan yang sanggup membolak-balikkan hati manusia. Tuhan sungguh ajaib.

Tanggal 10 Juli, kami pulang ke kampung halaman dengan kapal Tidar, kelas ekonomi. Sepanjang malam kami berbincang: “Apakah kita akan benar-benar mendapat restu dari orang tua?” Ia menjawab, “Berdoa saja. Tuhan yang akan mengubah hati mereka.”

Sesampainya di kampung, kami berpisah. Ia kembali ke rumahnya, saya ke rumah saya. Besoknya, ia datang menemui orang tua saya. Syukur kepada Tuhan, mereka menyambut dengan penuh keramahan. Saya menangis dalam hati: Tuhan bekerja dengan cara yang luar biasa.

Tanggal 15 Juli, lamaran dilangsungkan. Dan pada tanggal 20 Juli 2000, kami resmi menikah di Gereja KIBAID Jemaat Sarfat Sandale, diberkati oleh Bapak Pendeta Mangngi.

Editor: Paulus Laratmase