April 17, 2026

yusuf achmad

Puisi terlupakan sebentar. Seperti hati-jiwaku yang beradu.
Tak sekadar bahkan mengguncang. Bertukar berganti, silih
bertentang.

Tak peduli walau dibuli. Puisi sabar karena terjawabkan pun
belum. Gelisah hati meresap nurani. Beban tanya butuh jawab.

Terlihat beragam sudut. Kadang melingkar bundar mekar. Ini karena tersudut. Hasrat dan bening hati berkelahi.

Puisi tetap peduli. Meskipun tak dipeduli. Lalu kusapa ia senang. Berpesan tak perlu khawatir.

Lurus-hati pandang, tak perlu goyah. Jati-diri pasti, terukir-jiwa asal bening tak tercemar. Tiba-tiba puisi berubah wujud. Ia menjadi Budha.

Berjubah berlian kata-kata. Puisiku bersinar dalam kitab suci. Puisiku menjadi Budha.