April 17, 2026

Mampu Setara Dengan Ratusan Penulis Hebat Berkelas: Siswi MAN Sawahlunto, Yumna Afifah Putri Ukir Sejarah

IMG-20260416-WA0182

Sawahlunto, Suara Anak Nagari,16 April 2026,

Sebuah kota yang menyimpan gema masa lalu di setiap lekuk jalannya, kembali melahirkan cerita yang tak kalah bernilai dari sejarah itu sendiri. Di antara debu kenangan dan bara semangat literasi yang terus dijaga, seorang siswi muda tampil membawa cahaya tenang, namun tak terbantahkan.

Namanya Yumna Afifah Putri Siswi MAN Sawahlunto itu berhasil menorehkan prestasi membanggakan dalam Lomba Menulis Esai Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Forum Pegiat Literasi Adinegoro (FPLA) Sawahlunto, sebuah komunitas yang konsisten merawat tradisi berpikir dan menulis di tengah arus zaman yang serba cepat. Di bawah kepemimpinan Indra Yosef, kegiatan ini menjadi ruang pertemuan gagasan tempat kata-kata diuji, dan makna dipertaruhkan.

Dalam kategori umum sebuah kategori yang mempertemukan berbagai kalangan dengan ragam pengalaman dan kedalaman berpikir Yumna tampil tanpa gentar. Ia tidak sekadar menulis ia menghidupkan kembali sejarah.

Melalui esainya yang berjudul “Ketika Sejarah Perlu Dibaca Ulang: Jejak Amir Djamin Sang Singo Sawahlunto dalam Momentum Awal Kibaran Merah Putih,” Yumna merajut narasi yang bukan hanya puitis, tetapi juga reflektif. Ia mengajak pembaca menembus batas waktu, menyusuri jejak seorang tokoh lokal yang nyaris tenggelam dalam ingatan kolektif, lalu mengangkatnya kembali dengan penuh hormat dan kesadaran.

Tulisan Yumni tidak berdiri sebagai deretan kalimat belaka. Ia berdenyut, bernapas. Di setiap paragrafnya, terasa ada pergulatan antara masa lalu dan masa kini, antara ingatan dan harapan. Yumna seolah berbisik kepada pembacanya: bahwa sejarah bukanlah sesuatu yang selesai, melainkan sesuatu yang harus terus dipahami ulang.

Penghargaan Harapan III yang diraihnya bukan sekadar posisi dalam kompetisi. Ia adalah penanda bahwa suara muda pun mampu berbicara lantang bahkan setara dengan ratusan penulis hebat berkelas lainnya. Dalam usianya yang masih belia, Yumna telah menunjukkan bahwa kedalaman berpikir tidak selalu bergantung pada usia, melainkan pada kepekaan dan keberanian untuk menyelami makna.

Di tengah dunia yang sering kali lebih sibuk mengejar kecepatan daripada kedalaman, Yumna hadir sebagai pengingat: bahwa menulis adalah tentang merawat jiwa zaman.

Kepala MAN Kota Sawahlunto Dafril Tuanku Bandaro mengatakan Prestasi ini bukan hanya milik Yumna seorang. Ini  adalah kebanggaan bagi MAN Kota Sawahlunto, bagi kota Sawahlunto, dan bagi setiap insan yang percaya bahwa literasi adalah jantung peradaban.

Dan mungkin, di masa yang akan datang, ketika sejarah kembali ditulis ulang, nama Yumna Afifah Putri akan menjadi bagian dari kisah itu bukan hanya sebagai penulis, tetapi sebagai penjaga ingatan.

Kontributor: Nofri Hendra

Editor : DTB